Brigjen (Purn) MJP Hutagaol Gagas Seri Strategi Perang Nusantara, Dorong Penggalian Pemikiran Strategis dari Sejarah Bangsa
- account_circle Suwoto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MERUMUSKAN KERANGKA STRATEGI NUSANTARA
Salah satu gagasan utama yang diperkenalkan dalam seri perdana ini adalah penyusunan sebuah kerangka penelitian yang untuk sementara disebut Kerangka Strategi Nusantara.
Kerangka tersebut mencakup enam dimensi utama:
1. Medan dan keadaan, yaitu pengaruh geografi, lingkungan, jarak, serta kondisi wilayah terhadap pilihan strategis.
2. Waktu dan pendadakan, berkaitan dengan momentum, perubahan situasi, dan kecepatan pengambilan keputusan.
3. Aliansi dan politik, mengenai kepentingan, kerja sama, persaingan, dan perubahan hubungan antarpihak.
4. Informasi dan jaringan, mencakup pengetahuan, komunikasi, hubungan sosial, dan informasi dalam proses pengambilan keputusan.
5. Ketahanan, yakni kemampuan mempertahankan kapasitas bertindak di tengah tekanan dan keterbatasan.
6. Tujuan setelah kemenangan, yaitu menilai apakah keberhasilan militer benar-benar menghasilkan tujuan politik yang diharapkan.
Hutagaol menegaskan dalam tulisannya bahwa kerangka tersebut belum merupakan teori final. Kerangka itu masih harus diuji melalui berbagai kasus sejarah, dibandingkan dengan pemikiran strategis dunia, serta diperbaiki apabila tidak didukung bukti yang memadai.
Pendekatan tersebut menjadi penting agar pengembangan pemikiran strategi Nusantara tidak terjebak pada romantisme sejarah maupun klaim keunggulan masa lalu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
TIDAK MENINGGALKAN TEORI STRATEGI DUNIA
Tulisan ini juga menempatkan pemikiran Sun Tzu melalui The Art of War dan Carl von Clausewitz melalui On War sebagai referensi penting dalam pengembangan kajian strategi.
Namun, mempelajari teori dari luar tidak berarti pengalaman sejarah bangsa sendiri harus dikesampingkan.
Sebaliknya, pengalaman Nusantara perlu diteliti dan dibandingkan dengan teori-teori tersebut untuk menemukan persamaan, perbedaan, serta kemungkinan kontribusi terhadap perkembangan pengetahuan strategis.
Dalam konteks Indonesia modern, pendekatan ini dinilai relevan untuk memperluas cara pandang terhadap tantangan nasional yang tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer, tetapi juga energi, teknologi, perdagangan, data, informasi, dan ketergantungan ekonomi.
Tantangan abad ke-21 memang berbeda dengan lingkungan peperangan pada masa kerajaan maupun kolonial. Meski demikian, persoalan mengenai kepentingan, ketahanan, informasi, jaringan, dan tujuan politik tetap menjadi bahan penting untuk dikaji.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar