Brigjen (Purn) MJP Hutagaol Gagas Seri Strategi Perang Nusantara, Dorong Penggalian Pemikiran Strategis dari Sejarah Bangsa
- account_circle Suwoto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Penggalian sejarah peperangan dan perjuangan bangsa dinilai perlu dilakukan tidak sekadar untuk mengenang tokoh maupun peristiwa masa lalu, tetapi juga untuk menemukan pelajaran strategis yang relevan bagi kepentingan Indonesia di masa depan.
Gagasan tersebut disampaikan Brigjen (Purn) MJP Hutagaol melalui tulisan pembuka bertajuk “Strategi Perang Nusantara — Seri 1: Mengapa Kita Perlu Menggali Strategi Perang Nusantara?”, yang bertanggal Jakarta, 28 Oktober 2026.
Dalam tulisan tersebut, Hutagaol mengajak masyarakat, khususnya kalangan pemerhati sejarah, pertahanan, dan strategi nasional, untuk melihat kembali pengalaman Nusantara melalui pendekatan yang lebih analitis dan berbasis sumber sejarah.
Menurut gagasan yang dikemukakan dalam tulisan itu, sejarah peperangan tidak semestinya hanya dipahami melalui pertanyaan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Hal yang lebih penting adalah menelaah bagaimana suatu kemenangan dicapai, bagaimana perlawanan dapat bertahan, serta keputusan politik dan strategis apa yang memengaruhi jalannya sejarah.
SEJARAH NUSANTARA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN STRATEGIS
Hutagaol menempatkan pengalaman berbagai kekuatan politik di Nusantara sebagai bahan kajian untuk memahami hubungan antara geografi, kekuatan militer, perdagangan, aliansi politik, informasi, dan ketahanan masyarakat.
Sriwijaya, misalnya, menjadi salah satu contoh yang diangkat untuk menelaah bagaimana jalur sungai, kawasan pesisir, perdagangan, dan jaringan hubungan regional berperan dalam membangun pengaruh suatu kekuatan politik.
Sementara itu, pengalaman Raden Wijaya pada 1293 menjadi bahan pembahasan mengenai perubahan kepentingan, pemanfaatan situasi politik, serta hubungan antara kerja sama dan tujuan kekuasaan.
Tulisan tersebut juga menyinggung pengalaman perlawanan Sisingamangaraja XII, Perang Diponegoro, perjuangan gerilya Jenderal Sudirman, serta pemikiran pertahanan A.H. Nasution.
Berbagai pengalaman tersebut dipandang memiliki konteks sejarah yang berbeda. Karena itu, diperlukan penelitian yang cermat agar pelajaran yang ditarik tidak didasarkan pada penyederhanaan atau penilaian sepihak terhadap masa lalu.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar