Strategi Perang Nusantara Seri 7: MJP Hutagail Soroti Bahaya Adu Domba Dan Intrik Kekuasaan
- account_circle Suwoto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 61
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Polarisasi Politik dan Ketahanan Demokrasi
Dalam konteks Indonesia modern, polarisasi politik dan penyebaran disinformasi menjadi tantangan yang perlu diantisipasi. Media sosial dapat mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga berpotensi memperbesar konflik apabila digunakan untuk menyebarkan provokasi dan informasi yang tidak terverifikasi.
Menurut Hutagaol, persatuan nasional tidak boleh dimaknai sebagai keharusan bagi seluruh masyarakat untuk memiliki pandangan politik yang sama.
Demokrasi justru membutuhkan kritik, oposisi, transparansi, dan pengawasan terhadap kekuasaan. Konsolidasi pemerintahan juga harus berjalan seiring dengan independensi lembaga negara dan kebebasan pers yang bertanggung jawab.
Lima Gejala Perpecahan yang Perlu Diwaspadai
Dalam kajiannya, Hutagaol mengidentifikasi lima gejala yang perlu mendapatkan perhatian:
- Masyarakat dipertentangkan berdasarkan identitas dan pilihan politik.
- Hoaks dan provokasi digunakan untuk merusak kepercayaan publik.
- Kepentingan kelompok ditempatkan di atas kepentingan nasional.
- Independensi dan keseimbangan lembaga negara melemah.
- Persaingan politik berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan.
Ia mengingatkan bahwa perbedaan pendapat bukan ancaman demokrasi. Ancaman muncul ketika perbedaan tidak lagi dikelola melalui hukum, dialog, dan mekanisme konstitusional.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar