Strategi Perang Nusantara Seri 7: MJP Hutagail Soroti Bahaya Adu Domba Dan Intrik Kekuasaan
- account_circle Suwoto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 62
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ESTOM dan Konsep Perang Fondasi
Sebagai pendekatan strategis, Hutagaol memperkenalkan kerangka ESTOM yang terdiri atas Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver. Kerangka ini digunakan untuk memahami lingkungan strategis, mengenali perubahan, menganalisis persoalan, menentukan langkah, serta menyesuaikan strategi terhadap perkembangan situasi.
Ia juga menghubungkannya dengan konsep Perang Fondasi yang bertumpu pada tiga unsur, yakni Energi, Data, dan Persepsi.
Ketiganya dinilai memiliki peran penting dalam ketahanan nasional. Energi menopang aktivitas ekonomi, data mendukung kualitas pengambilan keputusan, sedangkan persepsi memengaruhi kepercayaan dan perilaku masyarakat.
Karena itu, ketahanan negara tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga memerlukan fondasi ekonomi, teknologi, informasi, kelembagaan, dan kepercayaan publik.
Persatuan sebagai Fondasi Kekuatan Bangsa
Hutagaol turut mengangkat keruntuhan Uni Soviet pada 1991 dan Reformasi Indonesia 1998 sebagai bahan pembelajaran mengenai pentingnya ketahanan ekonomi, legitimasi politik, kualitas kelembagaan, serta kepercayaan masyarakat.
Kedua peristiwa tersebut memiliki latar belakang berbeda, tetapi memberikan pelajaran bahwa kekuatan militer dan sumber daya besar tidak selalu menjamin keberlangsungan sebuah negara.
Menutup kajiannya, Hutagaol menekankan pentingnya membangun persatuan berdasarkan keadilan, memperkuat pengawasan kekuasaan, menjaga kualitas informasi, serta menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok.
Pesan utama Strategi Perang Nusantara Seri 7 adalah bangsa yang kuat bukanlah bangsa tanpa perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persatuan dan tujuan nasional.
Indonesia tidak cukup hanya kuat menghadapi ancaman dari luar. Ketahanan nasional juga harus dibangun melalui demokrasi yang sehat, masyarakat yang kritis, lembaga negara yang kuat, serta kepercayaan publik yang terjaga.
Tulisan ini merupakan pandangan dan kajian strategis Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol sebagai bahan refleksi mengenai sejarah, dinamika kekuasaan, dan ketahanan bangsa Indonesia.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar