Ulyadi: Politik Bukan Kekuasaan, Melainkan Seni Memperjuangkan Hak Sesama, Sang Pejuang Dhuafa dari Sumatera Barat
- account_circle Muhammad Yaman
- calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
- visibility 182
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Padang Agam – Bagi banyak orang, politik kerap dipandang sebagai panggung kekuasaan dan jabatan. Namun, pandangan itu sama sekali tidak berlaku bagi Ulyadi, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Sumatera Barat. Sebagai sosok yang sekaligus berprofesi sebagai akademisi dan politisi, ia memaknai dunia politik secara sangat berbeda: baginya, politik adalah wadah dan alat utama untuk menegakkan keadilan serta memperjuangkan hak dasar setiap manusia, tanpa terkecuali.
Dikenal luas sebagai narasumber yang berwawasan luas dan tajam dalam pandangan, nama Ulyadi justru lebih sering dibisikkan dengan penuh rasa hormat di tengah masyarakat yang kurang beruntung.
Di luar ruang rapat dan kampus, waktu dan tenaganya banyak diabdikan untuk kegiatan kemanusiaan. Ia tidak menunggu laporan atau permintaan resmi; begitu mendengar ada warga yang tertimpa musibah atau hidup dalam keterbatasan, ia hadir langsung, turun ke lokasi, dan memfasilitasi kebutuhan yang mendesak.
Salah satu bukti nyata kepeduliannya terlihat baru-baru ini, saat perhatiannya tertuju pada nasib Anto, warga dari Jorong Patangahan, Nagari Kototangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Mendengar kisah hidup yang berat dialami Erianto, Ulyadi tidak ragu sejenak pun untuk turun tangan secara langsung. Baginya, jarak maupun kesibukan bukan halangan — karena di mata kemanusiaan, setiap nyawa dan hak warga sama berharganya dan layak diperjuangkan.
Kegiatan sosial semacam ini menjadi perhatian utama dan konsen utama Ulyadi, sejajar besarnya dengan dedikasinya di dunia pendidikan. Ia percaya bahwa ilmu yang dimilikinya dan kedudukannya yang dipercayakan rakyat tidak akan berarti jika tidak membawa manfaat nyata bagi mereka yang tertinggal, yang sering kali tidak memiliki suara untuk didengar.
Bukan sekadar memberikan bantuan sesaat, pendekatannya selalu menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam: mendengarkan keluh kesah, memahami kesulitan, dan berdiri bersama mereka sebagai saudara, bukan sekadar pemberi bantuan.
Sikap tulus dan konsisten yang ditunjukkan selama bertahun-tahun inilah yang akhirnya melahirkan sebutan indah dari kalangan masyarakat luas: “Pejuang Dhuafa”.
Bagi Ulyadi, gelar tersebut jauh lebih berharga daripada segala jabatan atau penghargaan formal. Ia ingin terus membuktikan bahwa sosok pemimpin sejati dapat ditemukan dari seberapa dekat ia berdiri bersama mereka yang lemah, seberapa besar ia berjuang agar hak-hak dasar mereka terpenuhi, dan seberapa tulus hatinya melayani sesama tanpa pamrih.
Melalui langkah-langkah nyata seperti di Tilatang Kamang, Ulyadi terus menanamkan pesan yang mendalam: bahwa politik yang benar sejatinya adalah pengabdian, dan pendidikan sejati tidak hanya melahirkan orang pandai, tetapi juga orang yang berhati lembut dan peka terhadap penderitaan sesama.
(FK/YamanLbs)
Jurnalis : Muhammad Yaman
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 18 April 2024 sebagai Jurnalis Kab. Agam - Sumatera Barat. Email : muhammad.yaman@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar