Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 8: Dari Warisan Menuju Masa Depan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
- visibility 126
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Pengetahuan Peradaban Nusantara memasuki seri terakhir dengan mengangkat tema “Dari Warisan Menuju Masa Depan”. Seri ke-8 ini menekankan pentingnya memahami warisan masa lalu secara kritis, sekaligus mengembangkan dan menciptakan pengetahuan baru untuk menjawab tantangan zaman.
Tulisan yang disusun Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol di Jakarta, 29 Agustus 2026, tersebut menjadi penutup rangkaian Pengetahuan Peradaban Nusantara Serit 1 hingga Seri 8.
Dalam seri terakhir ini, MJP Hutagaol menegaskan bahwa warisan leluhur tidak hanya berupa benda peninggalan seperti candi, prasasti, perahu, sawah, naskah, pelabuhan, dan tradisi. Di balik berbagai peninggalan tersebut terdapat pengalaman, pengetahuan, nilai, aturan, lembaga, teknologi, kepercayaan, kekuasaan, serta cara manusia pada masa lalu menjawab tantangan zamannya.
Menurutnya, warisan tidak cukup hanya ditemukan dan dikagumi. Warisan perlu dibaca, dipahami, diperiksa, dibandingkan, diuji, dipilah, dan dimaknai agar dapat ditempatkan secara tepat dalam kehidupan masa kini.
«“Tujuan mempelajari Pengetahuan Peradaban Nusantara bukan kembali hidup seperti masa lalu. Tujuannya adalah memahami bagaimana manusia masa lalu membaca dunianya, lalu menggunakan pelajaran itu untuk membaca dunia kita sendiri,” tulis MJP Hutagaol.»
Lima Pilihan terhadap Warisan
Dalam seri ini, MJP Hutagaol menguraikan lima kemungkinan yang dapat dilakukan generasi sekarang terhadap warisan pengetahuan dan kebudayaan, yakni mempertahankan, mengoreksi, mengembangkan, meninggalkan, dan menciptakan sesuatu yang baru.
Warisan dapat dipertahankan apabila masih berguna, relevan, tidak merugikan, serta memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, mempertahankan warisan tidak berarti membekukannya tanpa perubahan.
Sementara itu, koreksi diperlukan ketika pengetahuan atau aturan lama mengandung kekeliruan maupun tidak lagi sesuai dengan kondisi masyarakat. Koreksi terhadap warisan, menurutnya, bukan merupakan bentuk penghinaan terhadap leluhur, melainkan bagian dari pertumbuhan pengetahuan.
Pengembangan juga menjadi bagian penting. Pengetahuan tradisional mengenai tanaman, laut, pertanian, maupun kelembagaan masyarakat dapat dikaji dan dikembangkan melalui berbagai disiplin ilmu modern, seperti botani, kimia, farmakologi, oseanografi, meteorologi, ilmu tanah, biologi, teknologi pangan, hukum, ekonomi, antropologi, sosiologi, serta tata kelola modern.
Di sisi lain, terdapat warisan yang perlu ditinggalkan apabila terbukti merugikan, tidak adil, membahayakan manusia, merusak lingkungan, atau tidak lagi memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pilihan kelima adalah menciptakan pengetahuan baru. Hal tersebut dinilai penting karena tantangan yang dihadapi masyarakat pada abad ke-21 tidak seluruhnya memiliki jawaban dalam pengetahuan masa lalu.
Nusantara dan Daya Olah
MJP Hutagaol juga menyoroti karakter Nusantara yang sejak lama berhubungan dengan berbagai masyarakat dan peradaban. Pertukaran tersebut membawa pergerakan manusia, bahasa, agama, tanaman, teknologi, dan pengetahuan.
Namun, pengaruh dari luar tidak selalu diterima secara utuh. Masyarakat dapat memilih, mengubah, menyesuaikan, memadukan, dan memberikan makna baru terhadap berbagai pengaruh tersebut.
Kemampuan tersebut disebut sebagai “daya olah”, yakni kemampuan masyarakat mengolah pengaruh menjadi sesuatu yang sesuai dan bermakna bagi kehidupannya.
Dalam perspektif tersebut, keaslian atau otentisitas tidak semata-mata ditentukan oleh apakah suatu unsur berasal dari dalam atau luar. Yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat dalam mengolah dan menempatkannya sesuai kebutuhan serta nilai yang dianut.
Jati Diri dan Perubahan
Seri terakhir ini juga mengangkat gagasan mengenai jati diri dalam menghadapi perubahan.
Menurut MJP Hutagaol, jati diri yang matang bukanlah jati diri yang takut terhadap segala sesuatu dari luar. Sebaliknya, jati diri yang matang mampu berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan kemampuan untuk menentukan arah.
Karena itu, sesuatu yang berasal dari luar tidak otomatis buruk, sebagaimana sesuatu yang bersifat lokal tidak otomatis benar. Demikian pula tradisional tidak selalu berarti bijaksana dan modern tidak selalu berarti lebih baik.
Sikap yang diperlukan adalah kemampuan untuk memeriksa dengan akal, menimbang dengan budi, dan melihat dampaknya melalui tindakan nyata.
Dari Roso Menuju Tanggung Jawab
Konsep “roso” juga kembali ditempatkan dalam kerangka pemikiran seri terakhir. Pengalaman dan rasa manusia dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk mengajukan pertanyaan, tetapi tidak ditempatkan sebagai pengganti pembuktian.
MJP Hutagaol merumuskan hubungan tersebut melalui rangkaian:
Roso menangkap. Akal memeriksa. Data membatasi. Tafsir memaknai. Verifikasi menguji. Budi menimbang. Laku mewujudkan.
Dalam konteks tersebut, istilah “roso ilmiah” digunakan sebagai nama kerja bagi sikap yang tidak membuang pengalaman manusia, tetapi juga tidak membiarkan pengalaman menggantikan proses pemeriksaan dan pembuktian.
Pengetahuan Harus Disertai Budi dan Tanggung Jawab
Seri terakhir Pengetahuan Peradaban Nusantara juga menekankan bahwa pengetahuan semata belum cukup untuk membangun peradaban.
Kemampuan teknologi, misalnya, dapat digunakan untuk membangun maupun menghancurkan. Data dapat digunakan untuk melayani masyarakat maupun mengendalikan manusia. Sumber daya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan maupun dieksploitasi tanpa batas.
Karena itu, pengetahuan perlu berjalan bersama budi, tanggung jawab, dan laku.
Ukuran akhirnya adalah dampak.
Setiap gagasan, tradisi, maupun teknologi perlu dilihat berdasarkan dampaknya terhadap manusia, masyarakat, lingkungan, dan generasi berikutnya.
«“Laku membawa pengetahuan ke dunia nyata. Dan dampak memaksa kita memeriksanya kembali,” tulis MJP Hutagaol.»
Tantangan Masa Depan
Dalam menghadapi masa depan, generasi sekarang dinilai perlu memiliki keberanian untuk menciptakan pengetahuan baru. Tantangan seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan iklim, krisis ekologi, perubahan demografi, ketahanan pangan, energi, data, teknologi biomedis, perubahan ekonomi, dan persaingan pengaruh global membutuhkan kemampuan berpikir yang tidak hanya bergantung pada jawaban masa lalu.
Dengan demikian, mempelajari peradaban bukan berarti menjadikan masa lalu sebagai tempat untuk kembali, melainkan menjadikannya sumber pembelajaran untuk memahami masa kini dan mempersiapkan masa depan.
Tugas Generasi Sekarang
Sebagai penutup rangkaian Seri 1 hingga Seri 8, MJP Hutagaol merumuskan tugas generasi sekarang sebagai upaya untuk mencari pengetahuan yang berserak, membaca warisan, memeriksa berbagai klaim, memilah sesuatu yang bernilai, mengoreksi kekeliruan, mengembangkan hal yang masih berguna, meninggalkan sesuatu yang tidak lagi layak, serta menciptakan pengetahuan baru.
Rangkaian pemikiran tersebut dirangkum dalam sebuah rantai besar:
Jejak → Sumber → Pengalaman → Pengetahuan → Tafsir → Pemeriksaan → Pemilahan → Budi → Keputusan → Laku → Dampak → Koreksi → Pewarisan → Penciptaan Pengetahuan Baru.
Rangkaian itu, menurut MJP Hutagaol, tidak berhenti pada satu jawaban. Setiap jawaban pada akhirnya akan melahirkan pertanyaan baru.
Pada bagian akhir, ia menggambarkan peradaban seperti pohon yang tetap memperoleh kehidupan dari akar, tetapi terus tumbuh membentuk cabang, daun, dan buah baru.
Pesan tersebut dirangkum dalam prinsip:
“Berakar tanpa terpenjara masa lalu. Terbuka tanpa kehilangan arah. Berpikir tanpa kehilangan budi. Menciptakan tanpa melupakan warisan.”
Menurutnya, masa depan Nusantara tidak cukup dibangun dengan menemukan kembali apa yang telah diketahui leluhur. Tantangan yang lebih besar adalah kemampuan generasi hari ini menciptakan pengetahuan yang dibutuhkan oleh generasi yang belum lahir.
Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi penutup Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 1–8:
“Pengetahuan apa yang harus kita ciptakan untuk generasi yang belum lahir?”
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026
— SELESAI —
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar