SENSING — Negara Harus Mampu Mengindera Perubahan, Ketika Mengetahui Lebih Awal Menjadi Kekuatan Strategis
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
- visibility 361
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dari Data Menuju Peringatan
Kemampuan mengindera perubahan juga membutuhkan proses untuk membedakan antara data, perubahan, anomali, sinyal, dan peringatan.
Secara sederhana, proses tersebut dapat digambarkan:
DATA → PERUBAHAN → ANOMALI → SINYAL → PERINGATAN
Data merupakan informasi yang berhasil ditangkap. Perubahan menunjukkan adanya perbedaan dibandingkan kondisi sebelumnya. Anomali menunjukkan penyimpangan dari pola normal.
Sementara sinyal mulai menunjukkan pola yang memiliki relevansi tertentu, sedangkan peringatan menunjukkan bahwa pola tersebut layak memperoleh perhatian strategis.
Namun, menemukan sebuah sinyal bukanlah akhir dari proses. Pertanyaan berikutnya justru lebih kompleks, yakni apa arti sinyal tersebut, mengapa terjadi, apa penyebabnya, serta apakah perubahan itu hanya bersifat sementara atau menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.
Pada titik tersebut, sensing mulai berhubungan dengan tahap berikutnya dalam ESTOM, yaitu Thinking.
Sensing dan Thinking Memiliki Peran Berbeda
Dalam kerangka ESTOM, hubungan ketiga unsur tersebut dapat disederhanakan sebagai berikut:
ENVIRONMENT = PETA
SENSING = MATA DAN TELINGA
THINKING = ANALISIS DAN MAKNA
Sensing berupaya menjawab sejumlah pertanyaan dasar: apa yang berubah, di mana perubahan terjadi, seberapa besar perubahan tersebut, seberapa cepat berlangsung, sejak kapan terjadi, dan seberapa dapat dipercaya informasi yang diperoleh.
Sementara pertanyaan mengenai mengapa perubahan terjadi dan apa maknanya membutuhkan kemampuan analisis yang lebih tinggi. Di sinilah Thinking mengambil peran.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar