Strategi Raden Wijaya 1293: Aliansi Mongol, Kejatuhan Jayakatwang, dan Lahirnya Majapahit
- account_circle Suwoto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 43
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Perjalanan Raden Wijaya menuju berdirinya Majapahit pada akhir abad ke-13 menjadi salah satu episode penting dalam sejarah politik dan militer Nusantara. Peristiwa 1292–1293 memperlihatkan perubahan keseimbangan kekuasaan di Jawa, kejatuhan Jayakatwang, serta keterlibatan pasukan ekspedisi Mongol yang akhirnya meninggalkan Jawa.
Kisah tersebut menjadi pokok bahasan Strategi Perang Nusantara Seri 3 karya Brigjen (Purn) MJP Hutagaol, berjudul “Raden Wijaya 1293: Memanfaatkan Kekuatan Lawan Tanpa Kehilangan Tujuan Sendiri”. Tulisan ini mengkaji pentingnya membaca situasi, membangun dukungan, mengelola aliansi, dan mempertahankan tujuan politik di tengah perubahan keadaan.
Runtuhnya Singhasari dan Perubahan Keseimbangan Kekuatan
Pada 1292, Kertanagara, penguasa Singhasari, tewas dalam serangan Jayakatwang dari Kediri. Peristiwa tersebut mengubah peta kekuasaan di Jawa dan menempatkan Raden Wijaya, menantu Kertanagara, dalam situasi politik yang sulit.
Pada 1293, pasukan ekspedisi Mongol yang dikirim Kubilai Khan tiba di Jawa. Dalam perkembangannya, Raden Wijaya bekerja sama dengan pasukan tersebut untuk menghadapi Jayakatwang. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya berbalik menghadapi pasukan Mongol, yang kemudian meninggalkan Jawa.
Rangkaian peristiwa ini menjadi bagian penting dari proses yang mengantarkan Raden Wijaya mendirikan Majapahit. Namun, keberhasilan tersebut perlu dikaji dengan mempertimbangkan berbagai faktor, bukan semata-mata sebagai hasil satu siasat atau tipu daya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar