Strategi Raden Wijaya 1293: Aliansi Mongol, Kejatuhan Jayakatwang, dan Lahirnya Majapahit
- account_circle Suwoto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 56
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Relevansi bagi Indonesia Masa Kini
Menurut kerangka analisis tulisan tersebut, pengalaman Raden Wijaya dapat menjadi bahan refleksi dalam memahami kerja sama antarnegara. Kemitraan di bidang ekonomi, teknologi, perdagangan, maupun pertahanan dapat memberi manfaat, tetapi tetap perlu dinilai berdasarkan kepentingan masing-masing pihak dan konsekuensi jangka panjangnya.
Meski demikian, kondisi Jawa abad ke-13 tidak dapat disamakan secara langsung dengan sistem internasional modern yang memiliki hukum, institusi, teknologi, dan mekanisme diplomasi berbeda.
Karena itu, sejarah lebih tepat digunakan sebagai sumber pertanyaan dan pembelajaran kritis, bukan sebagai pola yang harus ditiru secara mentah. Keberhasilan politik atau militer juga tidak otomatis membenarkan seluruh cara yang digunakan untuk mencapainya.
Seri ketiga Strategi Perang Nusantara ini menjadi bagian dari upaya mengkaji pengalaman sejarah melalui sumber dan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada seri berikutnya, pembahasan direncanakan membandingkan pengalaman strategi Nusantara dengan pemikiran Sun Tzu, khususnya dalam membaca keadaan, waktu, informasi, dan tujuan.
Penulis sumber: Brigjen (Purn) MJP Hutagaol
Catatan redaksi: Artikel ini merupakan penyajian jurnalistik atas tulisan analisis sejarah. Penafsiran strategis di dalamnya merupakan analisis penulis dan perlu dibedakan dari fakta historis yang didukung sumber.
Rujukan utama: Hung dkk., Archaeological Research in Asia (2022); David Bade, Of Palm Wine, Women and War (2013); Prasasti Kudadu (1294); C.C. Berg, Kidung Harsa-Wijaya (1931).
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar