Imperium Energi dan Mineral Strategis: MJP Hutagaol Dorong Indonesia Kuasai Teknologi dan Industri Hilir
- account_circle Suwoto
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Indonesia perlu mengubah kekayaan energi dan mineral strategis menjadi kekuatan industri, penguasaan teknologi, dan kemandirian nasional. Kepemilikan sumber daya alam yang melimpah dinilai belum cukup apabila nilai tambah, kemampuan teknologi, dan penguasaan rantai industri belum berkembang secara optimal di dalam negeri.
Gagasan tersebut disampaikan Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam Seri 3 — Imperium Energi dan Mineral Strategis: Dari Kekayaan Alam Menuju Kekuatan Industri dan Kedaulatan Strategis. Kajian ini membahas hubungan mineral kritis, persaingan geopolitik, hilirisasi, ketahanan energi, dan masa depan industri Indonesia.
Menurut MJP Hutagaol, kekuatan strategis mineral harus dibangun melalui rantai nilai yang menyeluruh, mulai dari eksplorasi, penambangan, pemurnian, manufaktur, penguasaan teknologi, hingga pemasaran produk akhir.
Tanpa strategi tersebut, Indonesia berisiko tetap bergantung pada ekspor komoditas, sementara sebagian keuntungan industri dan penguasaan teknologi berada di luar negeri.
Hilirisasi Harus Memperkuat Industri Nasional
Mineral kritis kini menjadi bagian penting dalam persaingan global, terutama terkait keamanan pasokan energi, teknologi pengolahan, dan jaringan industri. Laporan Global Critical Minerals Outlook 2026 dari International Energy Agency (IEA) menyoroti tingginya konsentrasi rantai pasok mineral kritis dunia.
Indonesia memiliki posisi penting dalam industri nikel global. Namun, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari jumlah smelter, nilai investasi, atau volume ekspor produk olahan.
MJP Hutagaol menekankan pentingnya mengukur nilai tambah yang dinikmati Indonesia, penguasaan teknologi oleh perusahaan nasional, kualitas lapangan kerja, serta kontribusi industri terhadap penerimaan negara dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pengembangan industri perlu diarahkan pada manufaktur lanjutan, riset dan rekayasa, pendidikan tenaga ahli, serta peningkatan kemampuan perusahaan nasional.
Kerja sama dengan investor asing tetap dapat berperan dalam pengembangan industri. Namun, kemitraan tersebut diharapkan turut memperkuat transfer pengetahuan dan kemampuan teknologi Indonesia dalam jangka panjang.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar