Ketika Katalis Membaca Indonesia: Perubahan Besar Tak Selalu Membutuhkan Kekuatan Lebih Besar
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
- visibility 97
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Indonesia memiliki sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, pasar, teknologi, dan infrastruktur yang terus berkembang. Namun, besarnya potensi tersebut belum selalu berbanding lurus dengan kecepatan perubahan menjadi hasil yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisannya berjudul “Ketika Katalis Membaca Indonesia: Mengapa Perubahan Besar Tidak Selalu Membutuhkan Kekuatan yang Lebih Besar”, yang ditulis di Jakarta, 30 Agustus 2026.
Dalam tulisan tersebut, konsep katalis dalam ilmu kimia digunakan sebagai analogi untuk memahami bagaimana sebuah sistem dapat bergerak lebih cepat tanpa selalu harus menambah sumber daya atau kekuatan.
Secara ilmiah, katalis merupakan zat yang meningkatkan laju reaksi dengan menyediakan jalur reaksi alternatif yang memiliki energi aktivasi lebih rendah. Katalis tidak menjadi sumber energi tambahan dan tidak mengubah posisi kesetimbangan termodinamika.
Konsep itu kemudian digunakan sebagai kerangka berpikir dalam melihat persoalan pembangunan.
Menurut gagasan yang dikembangkan dalam tulisan tersebut, persoalan tidak selalu terletak pada kurangnya potensi. Bisa jadi, terdapat hambatan yang membuat potensi yang sudah tersedia belum dapat bekerja secara optimal.
“Jangan hanya bertanya bagaimana menambah kekuatan; tanyakan apakah terdapat jalur yang lebih efektif,” demikian inti pemikiran yang dikembangkan dalam tulisan tersebut.
Mencari Hambatan, Bukan Sekadar Menambah Kekuatan
Dalam konteks kehidupan dan organisasi, perubahan kerap direspons dengan penambahan tenaga, anggaran, struktur, maupun aturan. Pendekatan tersebut dalam kondisi tertentu memang diperlukan. Namun, tulisan tersebut menawarkan pertanyaan lain: di mana letak hambatan yang membuat sistem tidak bekerja secara optimal?
Dalam pendidikan, misalnya, kecerdasan seseorang membutuhkan pendidikan, kesempatan, lingkungan, disiplin, serta keberanian mengambil keputusan agar dapat berkembang menjadi kemampuan nyata.
Hal serupa dapat dilihat dalam sektor ekonomi. Daerah yang memiliki produksi pertanian melimpah belum tentu memperoleh nilai ekonomi yang optimal apabila menghadapi keterbatasan jalan, penyimpanan, pengolahan, pembiayaan, informasi harga, transportasi, maupun akses pasar.
Dengan demikian, perhatian pembangunan tidak hanya diarahkan pada seberapa besar produksi, tetapi juga pada seberapa besar nilai yang dapat dipertahankan dan diterima oleh produsen serta masyarakat.
Pangan dan Mata Rantai Nilai
Salah satu ilustrasi yang digunakan adalah sektor pangan.
Produksi pertanian pada dasarnya harus terhubung dengan sejumlah mata rantai, mulai dari pengeringan dan penyimpanan, pembiayaan, pengolahan, distribusi, informasi harga hingga pasar.
Jika salah satu mata rantai tersebut mengalami hambatan, nilai ekonomi dari produksi dapat berkurang.
Karena itu, menurut kerangka pemikiran dalam tulisan tersebut, “katalis” pembangunan tidak selalu berarti meningkatkan produksi. Dalam kondisi tertentu, pengungkitnya dapat berupa gudang, fasilitas pengolahan, rantai dingin, pembiayaan, informasi harga, transportasi, atau kepastian pembeli.
Satu titik perbaikan pada simpul yang tepat dinilai dapat membantu meningkatkan kinerja keseluruhan rantai.
Kepemimpinan sebagai Penghubung Potensi
Konsep katalis juga dikaitkan dengan kepemimpinan.
Katalis tidak menjadi pemain utama dalam pengertian sebagai reaktan yang dikonsumsi. Dalam siklus katalitik, katalis berperan dalam mekanisme reaksi dan dapat diregenerasi.
Sebagai analogi, kepemimpinan tidak harus berarti mengerjakan seluruh pekerjaan sendiri. Peran pemimpin dapat berupa membuka jalan, menghubungkan berbagai kekuatan, menghilangkan hambatan, mempercepat pengambilan keputusan, serta membangun sistem yang memungkinkan orang lain bekerja secara mandiri.
Dalam konteks tersebut, kepemimpinan dipandang sebagai kemampuan untuk membuat potensi orang lain dapat bekerja secara optimal.
Kecepatan Harus Disertai Arah
Tulisan tersebut juga memberikan batas penting dalam penggunaan analogi katalis.
Dalam kimia, katalis mempercepat tercapainya kesetimbangan, tetapi tidak mengubah posisi kesetimbangan termodinamika. Karena itu, dalam analogi kehidupan dan pembangunan, percepatan proses tidak otomatis menentukan apakah arah yang ditempuh sudah tepat.
Teknologi, modal, kecerdasan buatan, dan kepemimpinan dapat mempercepat berbagai proses. Namun, tetap diperlukan pertanyaan mengenai tujuan yang hendak dicapai.
Dengan demikian, terdapat dua pertanyaan yang perlu dibedakan:
“Bagaimana mempercepat proses?”
dan
“Untuk apa proses itu dipercepat?”
Menurut tulisan tersebut, kecepatan perlu berjalan bersama arah agar percepatan menghasilkan perubahan yang sesuai dengan tujuan.
Membaca Indonesia melalui Berbagai Perspektif Ilmu
Pada bagian lain, pemikiran mengenai katalis ditempatkan dalam rangkaian gagasan yang sebelumnya mengangkat konsep dari berbagai bidang ilmu.
Newton digunakan untuk melihat hubungan antara gaya, hambatan, dan arah. Konsep entropi digunakan untuk mengingatkan bahwa keteraturan membutuhkan pemeliharaan. Big Bang digunakan sebagai perspektif bahwa kondisi sekarang memiliki sejarah dan terbentuk melalui tahapan perubahan.
Sementara itu, konsep katalis menambahkan perspektif mengenai pentingnya menemukan jalur yang dapat menurunkan hambatan proses sehingga potensi yang sudah tersedia dapat bergerak lebih efektif.
Keempat perspektif tersebut tidak diposisikan sebagai hukum kehidupan atau hukum sosial, melainkan sebagai alat berpikir atau analogi untuk membaca realitas.
Menemukan Titik Pengungkit
Pada akhirnya, tulisan “Ketika Katalis Membaca Indonesia” mengajak pembaca untuk tidak selalu melihat persoalan dari perspektif kekurangan sumber daya.
Pertanyaan yang ditawarkan antara lain: apa yang sudah dimiliki, apa yang menghambatnya bekerja, di mana hambatan terbesar berada, pengungkit apa yang dapat membuka jalan, serta ke mana perubahan tersebut hendak diarahkan.
Pesan utamanya adalah bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dengan penambahan kekuatan.
Dalam situasi tertentu, perubahan dapat dimulai dengan menemukan titik pengungkit dan jalur yang lebih efektif agar berbagai potensi yang telah tersedia dapat bekerja secara optimal.
“Bangsa yang cerdas bukan hanya bangsa yang terus menambah sumber daya. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mampu menemukan titik pengungkit yang membuat seluruh kekuatannya bekerja lebih efektif menuju tujuan yang benar,” menjadi gagasan penutup tulisan tersebut.
Catatan: Penggunaan istilah katalis, energi aktivasi, dan pengungkit dalam tulisan ini merupakan analogi pemikiran untuk kehidupan, organisasi, pembangunan, dan negara, bukan persamaan kimia maupun klaim bahwa hukum kimia secara langsung berlaku sebagai hukum sosial.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar