Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » SERI MEMAHAMI ESTOM #2: Environment, Negara Harus Mengenali Diri dan Lingkungannya Dari Medan Tempur Geografis Menuju Pemetaan Seluruh Lingkungan Strategis

SERI MEMAHAMI ESTOM #2: Environment, Negara Harus Mengenali Diri dan Lingkungannya Dari Medan Tempur Geografis Menuju Pemetaan Seluruh Lingkungan Strategis

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
  • visibility 165
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes| Jakarta – Dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis yang semakin kompleks, negara tidak cukup hanya memahami kekuatan militer dan kondisi geografisnya. Negara juga perlu mengenali kekuatan, ketergantungan, kerentanan, serta peluang yang berada di dalam dan di luar dirinya.

Gagasan tersebut menjadi pokok bahasan SERI MEMAHAMI ESTOM #2 berjudul “Environment — Negara Harus Mengenali Dirinya dan Lingkungannya”, yang ditulis oleh Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol.

Tulisan ini melanjutkan pembahasan pada Seri #1 yang mengantarkan pada pertanyaan mendasar: sebelum menentukan tindakan, apakah sebuah negara telah benar-benar mengenali dirinya dan lingkungan strategisnya?

Dalam kerangka ESTOM, E — Environment dipahami sebagai tahap untuk membangun peta keadaan strategis.

Prinsip dasarnya sederhana: jangan bertindak sebelum memahami medan.

Namun, menurut tulisan tersebut, makna medan dalam lingkungan strategis modern tidak lagi sebatas wilayah geografis.

Medan Strategis Tidak Lagi Sekadar Wilayah

Dalam perang konvensional, medan dipahami melalui gunung, sungai, jalan, posisi kekuatan sendiri maupun lawan, serta wilayah yang memberikan keuntungan atau kerugian.

Perkembangan lingkungan strategis membuat pemahaman tersebut menjadi jauh lebih luas.

Sebuah negara dapat tetap utuh secara teritorial, tetapi menghadapi tekanan terhadap pasokan energi, bahan baku industri, sistem keuangan, infrastruktur data, teknologi, hingga tingkat kepercayaan masyarakat.

Dengan demikian, tekanan strategis tidak selalu berbentuk pendudukan wilayah.

Fondasi sebuah negara dapat mengalami tekanan melalui berbagai sektor yang saling berkaitan.

Karena itu, Environment menempatkan seluruh kehidupan negara dan lingkungan yang memengaruhinya sebagai ruang strategis yang perlu dipetakan.

Memetakan Diri dan Lingkungan Luar

Environment tidak hanya mengajukan pertanyaan tentang kondisi internal sebuah negara.

Ia juga mengharuskan negara membaca lingkungan eksternalnya, mulai dari geopolitik, geoekonomi, negara tetangga, kekuatan besar, jalur perdagangan, rantai pasok, pasar dunia, teknologi, aliansi dan kemitraan, konflik, perubahan iklim, hingga perubahan distribusi kekuatan ekonomi dan militer dunia.

Dalam kerangka tersebut, kekuatan dan kelemahan tidak dapat dilihat secara terpisah dari konteks.

Cadangan energi yang besar, misalnya, dapat menjadi kekuatan. Namun nilai strategisnya dapat berbeda apabila teknologi pengolahan atau infrastrukturnya masih bergantung pada pihak lain.

Begitu pula industri yang besar dapat menghadapi kerentanan apabila bahan bakunya bergantung pada satu sumber atau satu negara.

Karena itu, Environment dapat diringkas sebagai:

Memetakan diri + memetakan lingkungan luar + memetakan hubungan keduanya.

Energi, Data dan Persepsi sebagai Tiga Lensa Awal

Tulisan tersebut menggunakan tiga pilar pertahanan fondasi sebagai lensa awal untuk membaca lingkungan strategis, yaitu Energi, Data dan Persepsi.

Energi dapat membuka pemetaan terhadap sumber daya, pangan, industri, teknologi, transportasi, logistik, ekonomi dan geoekonomi.

Data berkaitan dengan demografi, produksi, perdagangan, keuangan, teknologi digital, informasi, intelijen dan kemampuan pengambilan keputusan.

Sementara Persepsi berkaitan dengan kepercayaan, legitimasi, budaya, pendidikan, media, narasi, psikologi masyarakat dan citra negara di dunia.

Ketiganya tidak berdiri sendiri. Yang dicari adalah hubungan antarelemen tersebut.

Kekayaan Alam Belum Tentu Menjadi Kekuatan Strategis

Salah satu contoh yang digunakan dalam tulisan adalah perbedaan antara kepemilikan sumber daya alam dan kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi kekuatan nasional.

Sebuah negara dapat memiliki sumber daya alam besar tetapi mempunyai keterbatasan dalam teknologi, pengolahan, industri dan sumber daya manusia.

Sebaliknya, negara dengan sumber daya alam yang lebih terbatas dapat memiliki teknologi, modal, industri, jaringan perdagangan dan kapasitas sumber daya manusia yang kuat.

Singapura dan Jepang disebut sebagai contoh bahwa keterbatasan sumber daya alam perlu dibaca bersama kemampuan industri, teknologi, perdagangan dan organisasi nasional.

Bagi Indonesia, pertanyaan strategisnya bukan semata-mata “apa yang kita miliki?”, melainkan “seberapa jauh apa yang kita miliki telah berubah menjadi kekuatan sistem nasional?”

Pemetaan Energi Harus Melihat Seluruh Rantai

Dalam persoalan energi, Environment tidak berhenti pada penghitungan cadangan minyak, gas atau batu bara.

Pemetaan harus melihat seluruh rantai:

Sumber daya → produksi → pengolahan → teknologi → infrastruktur → distribusi → konsumsi → industri → ekonomi.

Dari sana muncul pertanyaan strategis mengenai siapa yang menguasai teknologi, dari mana pembiayaan berasal, bagaimana pola impor dan ekspor, bagaimana jalur logistik bekerja, serta apa konsekuensinya apabila salah satu jalur mengalami gangguan.

Dengan pendekatan tersebut, negara tidak sekadar memiliki data cadangan energi, tetapi juga memiliki peta ketahanan dan ketergantungan energi.

Data dan Persepsi Juga Harus Dipetakan

Hal yang sama berlaku terhadap data.

Memiliki data dalam jumlah besar belum otomatis membuat sebuah negara mampu mengambil keputusan dengan tepat. Kualitas, keterhubungan, kecepatan, kemampuan analisis dan pemanfaatan data menjadi faktor penting.

Demikian pula dengan persepsi masyarakat dan dunia internasional.

Tingkat kepercayaan terhadap institusi, narasi yang berkembang, serta bagaimana sebuah negara dipandang oleh lingkungan eksternalnya dapat memengaruhi stabilitas dan kemampuan negara dalam menghadapi perubahan.

Data menunjukkan keadaan, sedangkan persepsi menentukan bagaimana keadaan tersebut dimaknai.

Environment Bukan Daftar Masalah

Salah satu penekanan utama dalam seri ini adalah bahwa Environment tidak dimaksudkan untuk menghasilkan daftar masalah yang berdiri sendiri.

Sebagai contoh, kenaikan harga pangan tidak cukup hanya dicatat sebagai persoalan harga.

Pemetaan strategis perlu melihat apakah produksi menurun, pupuk terganggu, biaya energi dan transportasi meningkat, distribusi bermasalah, data produksi tidak akurat, tata kelola menghadapi persoalan, ketergantungan impor terlalu tinggi, atau terdapat faktor geopolitik yang memengaruhi pasokan.

Pada saat yang sama, informasi mengenai persoalan tersebut dapat membentuk persepsi publik dan pada akhirnya memengaruhi stabilitas.

Dengan demikian, satu persoalan dapat memiliki keterkaitan antara:

Energi → Data → Ekonomi → Tata Kelola → Geopolitik → Persepsi → Stabilitas.

Inilah yang menjadi inti Environment: bukan sekadar daftar masalah, tetapi peta hubungan antarmasalah.

Environment Menghasilkan Peta, Bukan Keputusan

Pada tahap Environment, keputusan belum menjadi tujuan utama.

Yang dibangun adalah peta strategis yang mampu menunjukkan apa yang dimiliki negara, apa yang dikuasai, apa yang tidak dikuasai, di mana kekuatan berada, di mana ketergantungan muncul, di mana kerentanan berada, siapa aktor yang memengaruhi lingkungan, serta bagaimana setiap unsur saling berhubungan.

Berbagai teknologi dan sumber informasi dapat membantu proses tersebut.

Namun, sebagaimana ditegaskan dalam tulisan ini, pembahasan tidak perlu langsung diarahkan pada satelit, sensor, intelijen, big data atau kecerdasan buatan.

Pertanyaan berikutnya justru lebih mendasar:

Bagaimana informasi untuk memperbarui peta dikumpulkan dan bagaimana perubahan di dalam lingkungan strategis dapat diindera?

Pertanyaan tersebut menjadi jembatan menuju tahap berikutnya dalam ESTOM, yaitu S — Sensing.

Environment dalam Satu Kalimat

Untuk memahami Environment secara sederhana:

ENVIRONMENT = PETA.

Bukan hanya peta wilayah, tetapi:

– Peta diri.
– Peta lingkungan luar.
– Peta hubungan keduanya.

Pemetaan tersebut dimulai melalui tiga lensa:

ENERGI — DATA — PERSEPSI.

Tujuannya bukan semata-mata mencari musuh, melainkan mengenali kekuatan, ketergantungan, kerentanan dan peluang.

Negara yang tidak mengenali dirinya dan lingkungannya berisiko selalu terlambat membaca perubahan.

Bersambung ke Seri Memahami ESTOM #3:

SENSING — Negara Harus Mampu Mengindera Perubahan

Peta sudah tersedia. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana negara mengetahui bahwa sesuatu sedang berubah, bagaimana manusia, intelijen, satelit, sensor, data digital dan kecerdasan buatan digunakan untuk menangkap perubahan, serta bagaimana membedakan data biasa, anomali, sinyal, kecenderungan dan peringatan strategis.

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringati HUT ke-40 PLTA Saguling, Empat Dekade Mengalirkan Energi, Menjaga Kehidupan

    Peringati HUT ke-40 PLTA Saguling, Empat Dekade Mengalirkan Energi, Menjaga Kehidupan

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Sudirman
    • visibility 133
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bandung Barat – PLN Indonesia Power UBP Saguling menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-40 PLTA Saguling dengan mengusung tema “Empat Dekade Mengalirkan Energi, Menjaga Kehidupan”. Menginjak usia empat dekade, PLTA Saguling tidak hanya menjadi salah satu pembangkit listrik tenaga air andalan di Jawa Barat, tetapi juga terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan energi […]

  • Dugaan Ketidakjelasan Penanganan Disiplin ASN di Indramayu Disorot, Sumber Minta Pemeriksaan Transparan

    Dugaan Ketidakjelasan Penanganan Disiplin ASN di Indramayu Disorot, Sumber Minta Pemeriksaan Transparan

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Eddy Susyanto
    • visibility 301
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Indramayu — Penanganan dugaan pelanggaran disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menjadi sorotan. Seorang sumber berinisial JF meminta adanya pemeriksaan yang transparan terhadap dugaan pemberian uang serta proses pengusulan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di UPT Puskesmas Kertawinangun, Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, yang terjadi pada 2022. Menurut keterangan […]

  • Peduli Penyakit TB Paru; Polda Jateng Luncurkan Program Polda Jateng Peduli Berantas TB Paru

    Peduli Penyakit TB Paru; Polda Jateng Luncurkan Program Polda Jateng Peduli Berantas TB Paru

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Supriyono
    • visibility 229
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jateng – Kota Semarang | Polda Jawa Tengah saat ini melaksanakan inovasi program “Polda Jateng Peduli Berantas TB Paru” sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah untuk memperkuat penanganan penyakit menular di wilayah Jawa Tengah. Dalam keterangannya, Kabiddokkes Polda Jateng KBP drg. Agung Hadi Wijanarko, Sp.BM., MARS., FisQua menyampaikan bahwa program tersebut dilatarbelakangi tingginya angka […]

  • Ribuan Umat Muslim Padati Stadion Kridasana Singkawang, Hadiri Ceramah Ustaz Abdul Somad

    Ribuan Umat Muslim Padati Stadion Kridasana Singkawang, Hadiri Ceramah Ustaz Abdul Somad

    • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 226
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Singkawang — Ribuan umat Muslim memadati Stadion Kridasana, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (2/10/2026), untuk menghadiri dan menyaksikan langsung ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS). Kegiatan tersebut mengusung tema “Memperkokoh Sinergi Ulama dan Umara dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah untuk Singkawang yang Beradab dan Berkemajuan.” Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Jamaah dari berbagai kalangan hadir […]

  • Korban Adif Putra, Bendahara GRIB Jaya 50 Kota, Sambut Putusan Kasus Penyerobotan Tanah photo_camera 3

    Korban Adif Putra, Bendahara GRIB Jaya 50 Kota, Sambut Putusan Kasus Penyerobotan Tanah

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 313
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Sumatera Barat 50 kota – Adif Putra, korban dalam perkara penyerobotan tanah di Jorong Talago, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, menyambut baik putusan Pengadilan Negeri Tanjung Pati yang menjatuhkan hukuman pidana penjara terhadap dua terdakwa dalam perkara tersebut. Kedua terdakwa, masing-masing Erna dan Rini, divonis pidana penjara […]

  • Ormas, OKP dan LSM KBB Siapkan Aksi Lanjutan: Kesepakatan Jangan Sekadar Janji

    Ormas, OKP dan LSM KBB Siapkan Aksi Lanjutan: Kesepakatan Jangan Sekadar Janji

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Sudirman
    • visibility 192
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bandung Barat, Jawa Barat — Sejumlah organisasi masyarakat (Ormas), organisasi kepemudaan (OKP), LSM, dan aktivis di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menyatakan sikap tegas. Mereka memastikan akan menggelar aksi lanjutan apabila hasil audiensi dan kesepakatan bersama DPRD KBB belum direalisasikan. Mereka menilai, hasil pertemuan dan kesepakatan tidak boleh berhenti sebatas pembahasan di ruang […]

expand_less