Mahyeldi Ansharullah: NCH — Benteng Adat & Mesin Ekonomi Nagari, Nagari Koto Tangah Bangkit di Tengah Ancaman Zaman
- account_circle Muhammad Yaman
- calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
- visibility 127
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Tilatang Kamang, Agam — Medan nan Bapaneh, Nagari Koto Tangah, berubah menjadi panggung kesadaran pada 26–27 September 2026. Gelaran Nagari Creative Hub (NCH) bukan sekadar merayakan budaya yang indah — melainkan membangun benteng pertahanan di saat jati diri perlahan terkikis zaman.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, meski tak hadir langsung, menegaskan pesan yang tak bisa diabaikan: NCH bukan program sepotong-sepotong milik satu dinas. Ini adalah agenda besar — membangun ekonomi rakyat berbasis nagari, berjalan bersama, dan bertahan selamanya.
Wagub diwakili Asisten I Ahmad Muzaki, yang mengumumkan kabar gembira: gerakan ini kini telah tumbuh di 32 nagari se-Kabupaten Agam. Bukan lagi mimpi — ini kenyataan yang berakar.
“NCH bukan urusan administrasi. Ia lahir dari rahim masyarakat yang hidup berabad-abad — di mana Ninik Mamak, Bundo Kanduang, dan seluruh elemen nagari membentuk karakter warga, bukan sebaliknya,” tegas Muzaki.
Dahulu, tanah ini melahirkan tokoh yang dikenal dunia. Kini, cahayanya meredup. Budaya yang diturunkan lewat lisan, perlahan hilang ditelan pernikahan antaretnis, perpindahan, dan perubahan gaya hidup. Tantangannya bukan dari luar saja — bahaya sudah masuk ke dalam rumah:
– 8.000 kasus perceraian meretakkan keluarga
– Narkoba tak lagi di kota, kini menyentuh nagari
– Judi daring, kekerasan, penyimpangan menggerus tatanan
– Pengaruh asing mengaburkan jati diri
“Ini luka yang mengancam masa depan anak-anak kita. Jika dibiarkan, apa yang akan kita wariskan” tegasnya
Ia juga melihat. Silek mengajarkan melindungi yang lemah, randai melatih kesetaraan, tarian dan kuliner menanamkan kasih sayang. Setiap gerak bukan sekadar indah — ia adalah warisan nilai yang membentuk manusia.
NCH menjadi dua sekaligus: wadah kreativitas pemuda, sekaligus kembalinya fungsi Ninik Mamak dan Bundo Kanduang membimbing generasi.
Mewakili Bupati Agam, Nelson menegaskan: di era digital, nagari tidak boleh tertinggal.
“Kita kaya budaya, tapi banyak yang belum tahu. 32 nagari berbasis masjid — tempat bersih, tempat berkreasi, tempat berkumpul dan beribadah. Rencana indah ini harus didukung semua elemen, menyatu dengan adat, budaya, kuliner.”
Momen paling menyayat sekaligus menguatkan adalah penampilan anak-anak nagari. Dengan polos namun teguh, mereka menampilkan budaya leluhur — bukti bahwa warisan tidak akan putus. Proyek ini luar biasa bukan karena panggung megah, melainkan karena amanah sudah berpindah ke tangan yang tepat.
Lembaga nagari berketetapan: keramaian dibatasi hingga Magrib. Bukan mengekang, melainkan melindungi — karena kegelapan malam sering membawa pengaruh buruk.
“Ini bukan larangan tanpa alasan. Ini kasih sayang yang berbentuk aturan, agar anak-anak tumbuh sehat dan aman.”
NCH layak dibagikan, diadopsi, ditukarkan ke daerah lain. Kegiatan dipublikasikan luas, agar perantau tahu: rumah masih berdiri, pintu terbuka, budaya tetap hidup.
Ketua Panitia menegaskan: NCH sejalan dengan Pasal 32 UUD 1945, UU No. 23/2014, serta Peraturan Gubernur Sumbar — menjadikan budaya fondasi kemajuan, bukan penghalang.
“Masa depan yang cerah dibangun di atas masa lalu yang dihormati.”
Pelita yang dinyalakan di 32 nagari Agam tidak boleh padam — di Medan nan Bapaneh, di hati warga, di langkah anak cucu selamanya.
(FK/YamanLbs)
Jurnalis : Muhammad Yaman
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 18 April 2024 sebagai Jurnalis Kab. Agam - Sumatera Barat. Email : muhammad.yaman@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar