Imperium Kekuasaan Global: MJP Hutagaol Soroti Energi, Teknologi, dan Kemandirian Strategis Indonesia
- account_circle Suwoto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Penguasaan energi, mineral strategis, teknologi, data, modal, dan kemampuan memengaruhi aturan internasional menjadi faktor penting dalam menentukan posisi suatu negara di tengah persaingan global. Indonesia dinilai perlu mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi kemampuan industri dan teknologi nasional agar memiliki daya tawar yang lebih kuat.
Gagasan tersebut dibahas Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan berjudul “Imperium Kekuasaan: Siapa Mengendalikan Sistem, Aturan, dan Arah Peradaban?”, Seri 6 dari rangkaian pemikiran Imperium yang diterbitkan di Jakarta, 26 Oktober 2026.
Dalam tulisannya, MJP Hutagaol memandang kekuasaan modern tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer dan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan mengendalikan akses terhadap sumber daya, teknologi, pembiayaan, serta pembentukan aturan yang memengaruhi kehidupan masyarakat dan negara.
Menurut kerangka analisis penulis, suatu negara dapat memiliki kedaulatan secara hukum, tetapi ruang gerak strategisnya berpotensi terbatas apabila bergantung pada pemasok, teknologi, atau sumber pembiayaan tertentu.
Mineral Strategis dan Tantangan Hilirisasi
Mengacu pada Global Critical Minerals Outlook 2025 yang diterbitkan International Energy Agency (IEA), tulisan tersebut menyoroti konsentrasi industri pemurnian mineral strategis. Pangsa gabungan tiga negara terbesar dalam pemurnian enam kelompok mineral energi yang dianalisis meningkat dari sekitar 82 persen pada 2020 menjadi 86 persen pada 2024.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kapasitas pengolahan dan pemurnian, selain kepemilikan sumber daya mineral. Konsentrasi rantai pasok juga dapat meningkatkan risiko apabila terjadi gangguan produksi, konflik, bencana, atau perubahan kebijakan perdagangan.
Bagi Indonesia, posisi dalam rantai pasok nikel menjadi peluang untuk memperkuat industri nasional. Namun, menurut penulis, hilirisasi tidak cukup diukur dari jumlah pabrik, nilai ekspor, atau investasi. Penguasaan teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, riset, keterlibatan perusahaan nasional, serta nilai tambah domestik juga perlu menjadi indikator keberhasilan.
Investasi asing tetap dapat mendukung pembangunan, sepanjang kerja sama tersebut memberikan manfaat yang terukur dan memperkuat kemampuan nasional.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar