Seri 7 Pengetahuan Peradaban Nusantara: Memilah Pengetahuan dari Bukti, Dokumentasi hingga Tafsir
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- visibility 146
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol kembali melanjutkan kajian Pengetahuan Peradaban Nusantara melalui Seri 7 bertajuk “Memilah Pengetahuan Peradaban Nusantara: Dari Bukti, Dokumentasi, dan Tafsir Menuju Pengetahuan yang Dapat Dipertanggungjawabkan.”
Tulisan yang disusun di Jakarta, 29 Agustus 2026, tersebut merupakan kelanjutan dari Seri 6 yang membahas pentingnya memeriksa warisan, mengenali sumber, memahami konteks dan waktu, membedakan data dari tafsir, serta membandingkan berbagai sumber sebelum menarik kesimpulan.
Dalam Seri 7, Hutagaol mengangkat pertanyaan mengenai kedudukan berbagai pengetahuan yang ditemukan dalam warisan peradaban Nusantara. Menurutnya, tidak semua informasi yang diwariskan memiliki tingkat kepastian yang sama sehingga perlu ditempatkan secara proporsional berdasarkan bukti dan metode pemeriksaannya.
“Memilah bukan berarti menolak warisan. Memilah berarti memberikan tempat yang tepat kepada setiap jenis pengetahuan,” menjadi salah satu gagasan utama dalam tulisan tersebut.
Lima Kategori Pengetahuan
Seri 7 membagi pengetahuan ke dalam lima kategori, yaitu terdukung kuat oleh bukti, terdokumentasi, tafsir, hipotesis, dan kepercayaan.
Pengetahuan yang terdukung kuat oleh bukti memiliki dasar yang dapat diperiksa dan diperkuat oleh bukti relevan. Meski demikian, kesimpulan tersebut tetap terbuka terhadap koreksi apabila ditemukan bukti baru.
Sementara dokumentasi menunjukkan bahwa suatu informasi, cerita, gagasan atau tradisi memang tercatat. Namun, keberadaan dokumentasi tidak otomatis membuktikan kebenaran seluruh klaim yang terdapat di dalamnya.
Tafsir merupakan proses manusia menghubungkan data dan konteks untuk memperoleh makna. Karena itu, tafsir perlu dibedakan dari fakta. Adapun hipotesis merupakan dugaan yang memiliki dasar untuk diteliti lebih lanjut, termasuk melalui pencarian bukti yang mendukung maupun membantahnya.
Sedangkan kepercayaan ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan manusia yang berkaitan dengan iman, nilai, simbol, tradisi dan pengalaman spiritual. Menurut Seri 7, batas antara kepercayaan dan pengetahuan empiris perlu dijaga secara proporsional.
Satu Warisan, Banyak Pendekatan
Sebuah warisan dapat memiliki berbagai lapisan pengetahuan. Naskah kuno, misalnya, dapat memuat informasi historis, pengetahuan praktis, simbol, kepercayaan, cerita maupun nilai sosial.
Karena itu, pemeriksaannya perlu disesuaikan dengan pertanyaan yang diajukan. Catatan penggunaan tanaman untuk pengobatan dapat diteliti dari sisi filologi dan sejarah naskah, sementara kandungan tanaman dapat dikaji melalui botani dan kimia. Efektivitas terhadap penyakit membutuhkan pendekatan farmakologi dan penelitian klinis.
Demikian pula mantra, ritual dan simbol dapat menjadi objek kajian sejarah, antropologi, psikologi, agama maupun kebudayaan.
“Satu warisan. Banyak pertanyaan. Banyak metode,” menjadi prinsip lain yang ditekankan dalam Seri 7.
Pengetahuan Tradisional Tetap Perlu Diuji
Seri ini juga menyoroti pengetahuan masyarakat dalam membaca perubahan musim melalui pengamatan terhadap hujan, angin, tumbuhan, hewan, kelembapan, benda langit dan lingkungan.
Pengetahuan tersebut dapat menjadi sumber penting untuk dipelajari. Namun, perubahan iklim, lingkungan, teknologi dan kondisi pertanian menyebabkan pola masa lalu tidak selalu dapat diterapkan secara langsung pada masa kini.
Hal serupa berlaku terhadap cerita rakyat dan legenda. Cerita dapat menyimpan ingatan mengenai tempat, tokoh, hubungan sosial, konflik maupun perubahan lingkungan, tetapi proses pewarisan juga memungkinkan terjadinya penambahan, pengurangan dan simbolisasi. Karena itu, legenda perlu dikaji secara kritis dan tidak otomatis diperlakukan sebagai laporan sejarah modern.
Mencari Pengetahuan, Bukan Sekadar Kehebatan Masa Lalu
Seri 7 juga mengingatkan agar kebanggaan terhadap leluhur tidak mendahului proses pemeriksaan. Menurut Hutagaol, kecenderungan hanya mencari bukti yang sesuai dengan keyakinan awal dapat menghambat upaya memperoleh pengetahuan yang objektif.
“Jangan mencari kehebatan terlebih dahulu. Cari pengetahuannya.”
Jika suatu warisan memang memiliki keunggulan, bukti diharapkan dapat menunjukkannya. Jika terdapat kekeliruan, koreksi tetap diperlukan. Sementara sesuatu yang belum diketahui dapat menjadi ruang bagi penelitian berikutnya.
Dari Pemilahan Menuju Masa Depan
Pengetahuan dalam Seri 7 tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang permanen. Hipotesis dapat memperoleh dukungan baru, tafsir dapat diperkuat atau dilemahkan, dan kesimpulan yang sebelumnya kuat tetap dapat dikoreksi apabila ditemukan data relevan.
Setelah melalui proses pemeriksaan dan pemilahan, pengetahuan dapat dipertahankan, dikoreksi, dikembangkan, ditinggalkan, atau menjadi dasar untuk menciptakan pengetahuan baru.
Hutagaol menggambarkan perjalanan Seri 1 hingga Seri 7 sebagai rangkaian: Jejak → Sumber → Pengalaman → Pengetahuan → Pemeriksaan → Pemilahan → Budi → Laku → Dampak → Pewarisan dan Perubahan.
Rangkaian tersebut tidak bersifat linear. Manusia tetap dapat kembali memeriksa sumber, mengoreksi tafsir, menemukan bukti baru, mengubah keputusan dan membangun pengetahuan yang lebih baik.
Seri 7 pada akhirnya menegaskan bahwa keberadaan sumber tidak berarti seluruh isinya benar, dokumentasi tidak sama dengan bukti, tafsir tidak sama dengan fakta, dan hipotesis bukan kesimpulan.
Peradaban yang dewasa, menurut tulisan tersebut, bukan peradaban yang membenarkan seluruh masa lalunya, tetapi mampu menghormati warisan sekaligus memeriksanya secara kritis.
Tujuan akhirnya bukan sekadar kembali ke masa lalu, melainkan membawa pengetahuan yang bernilai dari masa lalu untuk membantu manusia menghadapi tantangan masa depan.
Seri 8 akan melanjutkan pembahasan dengan tema “Dari Warisan Menuju Masa Depan: Apa yang Dipertahankan, Dikoreksi, Dikembangkan, Ditinggalkan, dan Diciptakan Baru.”
Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Tempat/Tanggal: Jakarta, 29 Agustus 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar