Imperium Persepsi, Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol Soroti Disinformasi dan Kemandirian Berpikir di Era Digital
- account_circle Suwoto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 52
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Perkembangan teknologi digital telah mengubah dinamika persaingan global. Selain energi, sumber daya alam, dan kekuatan militer, penguasaan data, distribusi informasi, serta kemampuan membentuk persepsi masyarakat kini menjadi aspek penting dalam memahami perubahan strategis dunia.
Persoalan tersebut diangkat Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam Seri 5 kajian Imperium bertajuk “Imperium Persepsi: Siapa Membentuk Cara Dunia Berpikir?”, yang ditulis di Jakarta, 26 Oktober 2026.
Dalam kajiannya, Hutagaol membahas hubungan antara informasi, algoritma, narasi, kecerdasan buatan (AI), dan pengaruhnya terhadap cara manusia memahami kenyataan serta mengambil keputusan.
Menurut kerangka analisis yang disampaikan penulis, persepsi menjadi salah satu dimensi penting dalam kehidupan modern karena dapat memengaruhi penilaian publik, perilaku sosial, dan respons masyarakat terhadap berbagai persoalan.
Algoritma dan Perebutan Perhatian Publik
Penulis menyoroti peran algoritma platform digital dalam menentukan informasi yang ditampilkan kepada pengguna. Sistem rekomendasi dapat memudahkan masyarakat memperoleh informasi yang relevan, tetapi desain platform dan pola interaksi pengguna juga memengaruhi konten yang mendapatkan perhatian luas.
Konten yang viral tidak selalu benar. Informasi yang memicu kemarahan, ketakutan, atau emosi tertentu berpotensi memperoleh perhatian besar tanpa memberikan gambaran persoalan secara utuh.
Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, dan menilai bukti sebelum mengambil kesimpulan atau menyebarkan suatu konten.
Pentingnya integritas informasi juga dibahas dalam laporan OECD tahun 2024, Facts not Fakes: Tackling Disinformation, Strengthening Information Integrity, yang menekankan penguatan ekosistem informasi, transparansi, dan ketahanan masyarakat terhadap disinformasi.
AI Membawa Peluang dan Risiko
Hutagaol turut menyoroti perkembangan AI yang memungkinkan pembuatan teks, gambar, suara, dan video secara cepat. Teknologi tersebut menawarkan manfaat bagi pendidikan, penelitian, pelayanan publik, dan industri, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk menghasilkan konten manipulatif.
Meski demikian, penggunaan AI tidak serta-merta menunjukkan bahwa suatu informasi merupakan disinformasi. Dugaan manipulasi perlu diperiksa melalui sumber asli, konteks, bukti pendukung, dan konfirmasi yang dapat dipercaya.
Kemampuan berpikir kritis tetap diperlukan karena kecepatan penyebaran maupun kecanggihan teknologi tidak dapat dijadikan ukuran kebenaran informasi.
Ketahanan Informasi Nasional
Dalam konteks Indonesia, kajian ini menekankan pentingnya peningkatan literasi digital, transparansi institusi, profesionalisme media, serta akuntabilitas platform digital.
Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menggunakan perangkat dan aplikasi, tetapi juga kemampuan menilai kredibilitas sumber, memeriksa fakta, melindungi privasi, dan memahami risiko penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Upaya menghadapi disinformasi, menurut kerangka kajian tersebut, harus tetap menghormati hukum, kebebasan pers, hak masyarakat memperoleh informasi, dan kebebasan menyampaikan pendapat.
Penulis juga mengingatkan bahwa kritik terhadap institusi tidak seharusnya otomatis dianggap sebagai ancaman. Ketahanan informasi perlu dibangun melalui keterbukaan, dialog, dan pertanggungjawaban.
Energi, Data, dan Persepsi
Sebagai bagian dari rangkaian kajian Imperium, Seri 5 memperkenalkan kerangka “Perang Fondasi: Energi, Data, dan Persepsi”.
Hutagaol menghubungkan energi sebagai penopang aktivitas produksi dan infrastruktur, data sebagai bahan penting dalam menghasilkan informasi dan pengetahuan, serta persepsi sebagai salah satu faktor yang memengaruhi keputusan manusia.
Kerangka tersebut merupakan pendekatan analitis yang dikembangkan penulis, bukan indeks resmi atau teori yang diklaim telah divalidasi lembaga internasional. Selain ketiga unsur itu, kualitas institusi, pendidikan, penegakan hukum, kebudayaan, dan kepemimpinan juga berperan dalam menentukan kemajuan bangsa.
Kemandirian Berpikir sebagai Fondasi Bangsa
Pada bagian akhir, Hutagaol menekankan pentingnya membangun kemandirian berpikir di tengah derasnya arus informasi global. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa fakta, menguji keyakinan, mengakui kekeliruan, dan memperbaiki pemahaman berdasarkan bukti.
Nilai-nilai Pancasila, dalam kerangka pemikiran penulis, dapat menjadi landasan etis untuk menjaga martabat manusia, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Kajian Imperium Persepsi menegaskan bahwa penguasaan teknologi perlu disertai integritas, tata kelola yang baik, serta tanggung jawab terhadap kepentingan publik.
Kemandirian bangsa, pada akhirnya, tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya alam dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat memahami informasi secara kritis dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Kajian Imperium Persepsi merupakan Seri 5 dalam rangkaian tulisan Imperium dan akan berlanjut ke seri berikutnya.
Sumber rujukan:
- OECD (2024), Facts not Fakes: Tackling Disinformation, Strengthening Information Integrity.
- UNESCO (2018), Journalism, Fake News & Disinformation: Handbook for Journalism Education and Training.
- Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI).
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar