Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Ketika Pasar Bertemu Konstitusi: Membaca Prabowonomic Dalam Pergeseran Tatanan Ekonomi Global

Ketika Pasar Bertemu Konstitusi: Membaca Prabowonomic Dalam Pergeseran Tatanan Ekonomi Global

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
  • visibility 346
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol

MediaSuaraMabes | Jakarta – Pemberitaan sejumlah media internasional mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia telah memunculkan kembali perdebatan lama: apakah keberhasilan suatu bangsa hanya dapat diukur melalui persepsi pasar, arus modal, peringkat investasi, dan penilaian lembaga pemeringkat internasional? Pertanyaan ini penting karena menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yaitu paradigma apa yang digunakan untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu negara.

Dalam beberapa dekade terakhir, indikator pasar memang menjadi rujukan utama dalam menilai kesehatan ekonomi. Pertumbuhan produk domestik bruto, stabilitas nilai tukar, inflasi, investasi asing, peringkat utang, hingga pergerakan pasar modal merupakan ukuran yang memiliki nilai analitis dan tidak dapat diabaikan. Namun, pengalaman berbagai negara juga menunjukkan bahwa indikator tersebut belum sepenuhnya mampu menjelaskan kualitas pembangunan, ketahanan nasional, maupun kesejahteraan masyarakat secara utuh.

Sejarah memperlihatkan bahwa setiap negara membangun jalannya sendiri sesuai dengan sejarah, konstitusi, budaya, sumber daya, dan kepentingan strategisnya. Amerika Serikat mengembangkan ekonomi pasar dengan institusi yang kuat, tetapi tetap melakukan intervensi besar ketika menghadapi krisis keuangan 2008. Singapura membangun ekonomi yang sangat terbuka, namun negara tetap memegang kendali atas berbagai aset strategis. Korea Selatan mengawali industrialisasinya melalui kebijakan negara yang konsisten sebelum menjadi kekuatan manufaktur dunia. Tiongkok menunjukkan bahwa mekanisme pasar dapat berjalan berdampingan dengan perencanaan strategis negara. Tidak ada satu model yang berlaku universal bagi semua bangsa.

Indonesia pun memiliki fondasi yang berbeda. Para pendiri bangsa telah meletakkan arah pembangunan melalui Pasal 33 dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Konstitusi tersebut tidak menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan kemakmuran rakyat, keadilan sosial, dan kedaulatan nasional. Dalam perspektif ini, pasar bukanlah tujuan, melainkan instrumen; sedangkan konstitusi menjadi kompas yang menentukan arah pembangunan bangsa.

Karena itu, perdebatan mengenai Prabowonomics sesungguhnya tidak cukup dipahami sebagai perbedaan pandangan terhadap satu kebijakan pemerintahan. Perdebatan tersebut mencerminkan pertarungan dua cara pandang mengenai pembangunan. Di satu sisi terdapat pendekatan yang menempatkan pasar sebagai ukuran dominan keberhasilan. Di sisi lain terdapat pendekatan yang memandang bahwa pasar harus berjalan dalam kerangka konstitusi, kepentingan nasional, dan kesejahteraan rakyat.

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Kebiasaan Menjadi Budaya: Ketika Yang Terus Diulang Akhirnya Dianggap Normal

    Dari Kebiasaan Menjadi Budaya: Ketika Yang Terus Diulang Akhirnya Dianggap Normal

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 161
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang tidak hanya membentuk perilaku seseorang, tetapi juga dapat berkembang menjadi norma sosial dan pada akhirnya menjadi budaya. Proses sederhana inilah yang menjadi perhatian Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ’86 dalam tulisannya berjudul “Dari Kebiasaan Menjadi Budaya: Ketika yang Terus Diulang Akhirnya Dianggap Normal.” Menurut MJP Hutagaol, budaya tidak […]

  • Dirjen Bea Cukai Djaka Terseret Korupsi Rp.61,3 Milyar, LSM LIRA Desak Presiden dan Menkeu Segera Pecat

    Dirjen Bea Cukai Djaka Terseret Korupsi Rp.61,3 Milyar, LSM LIRA Desak Presiden dan Menkeu Segera Pecat

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Thio Rudy
    • visibility 184
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jakarta — Institusi Bea Cukai kembali tercoreng. Kali ini nama Dirjen Bea dan Cukai, Djaka Budi Utama ikut terseret dalam kasus suap importasi barang Rp 61,3 milyar yang melibatkan pimpinan Blueray Cargo, John Field. LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) pun mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa agar segera memecat petinggi […]

  • Merubah Payudara Yang Mengerikan Dan Terbesar Di Dunia

    Merubah Payudara Yang Mengerikan Dan Terbesar Di Dunia

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Wajidi Adiansyah
    • visibility 223
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jerman | Transformasi fisik paling ekstrem dilakukan oleh Mayra Hills (Beshine) asal Jerman, yang mengubah ukuran payudaranya secara drastis dari 32A menjadi 32Z. Menggunakan teknologi implan saline berkantung katup yang dapat di suntikkan cairan secara berkala, ia kini memikul beban ekstra sekitar 18 hingga 26 kg di dadanya setiap hari. Di dunia yang penuh […]

  • Putri Tujuh, Kilang yang Mengubah Dumai dan Menjadi Nadi Energi Sumatera

    Putri Tujuh, Kilang yang Mengubah Dumai dan Menjadi Nadi Energi Sumatera

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Indra Gunawan
    • visibility 105
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Dumai — Sejarah modern Kota Dumai tidak dapat dilepaskan dari keberadaan industri minyak dan Kilang Putri Tujuh. Pembangunan kilang yang dimulai pada April 1969 menjadi salah satu tonggak penting yang mendorong perubahan Dumai dari kawasan pesisir menjadi kota industri dan pelabuhan yang memiliki posisi strategis dalam sistem energi Indonesia. Keputusan membangun kilang di […]

  • Operasi Berantas Jaya 2026: Polres Jakbar Sisir Kapuk Cengkareng, Dua Pria Pembawa Sabu dan Obat Keras Diringkus

    Operasi Berantas Jaya 2026: Polres Jakbar Sisir Kapuk Cengkareng, Dua Pria Pembawa Sabu dan Obat Keras Diringkus

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle Saud Maruntung
    • visibility 147
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta Barat – Dalam upaya menekan angka kriminalitas jalanan serta peredaran gelap narkotika, Polres Metro Jakarta Barat kembali menunjukkan komitmennya melalui Operasi Berantas Jaya 2026. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa dini hari (7/7/2026), aparat kepolisian berhasil mengamankan dua pria yang kedapatan membawa barang terlarang saat menggelar razia stasioner di kawasan Kapuk, Cengkareng. […]

  • Pertahanan Nir-Materi Menjadi Kunci Ketahanan Bangsa di Abad Ke 21

    Pertahanan Nir-Materi Menjadi Kunci Ketahanan Bangsa di Abad Ke 21

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 161
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta – Di tengah perubahan karakter ancaman global abad ke-21, konsep pertahanan negara tidak lagi hanya berfokus pada kekuatan militer dan perlindungan wilayah semata. Kekuatan nonfisik bangsa kini dinilai menjadi faktor strategis dalam menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal tersebut disampaikan oleh Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan berjudul “Pertahanan […]

expand_less