Dari Paris Hingga Merauke, Mencari Benang Merah Kedaulatan Indonesia di Tengah Perubahan Dunia
- account_circle Suwoto
- calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
- visibility 475
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Danantara, AI dan Universitas
Selain sektor riil, Hutagaol juga menyoroti pentingnya penguatan modal nasional melalui Danantara, pengembangan riset dan inovasi, serta peningkatan kapasitas perguruan tinggi dalam menghadapi era ekonomi berbasis pengetahuan.
Ia menilai bahwa kecerdasan buatan (AI), penelitian, dan pendidikan tinggi harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk memperkuat daya saing nasional.
“Negara yang hanya memiliki sumber daya alam tanpa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan tertinggal dalam persaingan global,” tulisnya.
SATRIA-1 dan Kedaulatan Data
Di sektor teknologi, Hutagaol mengapresiasi keberadaan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) yang membantu memperluas konektivitas layanan publik hingga ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa Indonesia perlu terus membangun kapasitas teknologi nasional agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi global, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan strategisnya sendiri.
Perang Fondasi Abad ke-21
Dalam penutup tulisannya, Hutagaol memperkenalkan konsep yang disebutnya sebagai “Perang Fondasi”.
Konsep tersebut menjelaskan bahwa perebutan pengaruh antarnegara saat ini tidak lagi hanya terjadi melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui penguasaan pangan, energi, mineral, modal, ilmu pengetahuan, data, teknologi, komunikasi, hingga persepsi publik.
“Kedaulatan abad ke-21 bukan hanya menjaga garis perbatasan negara. Kedaulatan adalah kemampuan menentukan pilihan sendiri karena fondasi kehidupan bangsa tidak dikendalikan pihak lain,” tulisnya.
Ia menyimpulkan bahwa berbagai kebijakan yang saat ini berjalan dapat dibaca sebagai upaya membangun fondasi kedaulatan Indonesia, mulai dari pangan, energi, ekonomi desa, sumber daya alam, modal, pendidikan, teknologi, data hingga komunikasi.
“Bangsa yang tidak membangun fondasinya sendiri akan hidup di atas fondasi yang dibangun bangsa lain. Dan bangsa yang hidup di atas fondasi yang dibangun bangsa lain, pada akhirnya akan sulit menentukan masa depannya sendiri,” pungkasnya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar