Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol: Rasa Malu Adalah Benteng Terakhir Peradaban Bangsa
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
- visibility 104
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa dan dunia, mulai dari krisis integritas, korupsi, konflik sosial, hingga penyalahgunaan kekuasaan, Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol menyampaikan refleksi moral melalui sebuah tulisan berjudul “Ketika Rasa Malu Meninggalkan Peradaban”, yang diterbitkan di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).
Dalam tulisannya, MJP Hutagaol menegaskan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi, teknologi, ataupun kekuatan militer, tetapi juga oleh nilai-nilai moral yang hidup di tengah masyarakat. Salah satu fondasi utama yang dinilai semakin memudar adalah rasa malu sebagai pengendali nurani manusia.
Menurutnya, rasa malu bukanlah sikap rendah diri ataupun ketakutan menghadapi kegagalan. Sebaliknya, rasa malu merupakan kesadaran moral yang mencegah seseorang menyalahgunakan amanah, mengkhianati kepercayaan, serta mengabaikan nilai kejujuran demi kepentingan pribadi.
Ia menggambarkan bahwa peradaban tidak runtuh secara tiba-tiba, melainkan mengalami keretakan secara perlahan ketika manusia tidak lagi merasa bersalah atas tindakan yang melanggar etika dan moral. Dalam kondisi tersebut, kebohongan dapat dianggap sebagai kecerdikan, pengkhianatan dipandang sebagai strategi, dan kekuasaan bergeser dari sarana pengabdian menjadi tujuan utama.
“Rasa malu adalah hakim yang bekerja sebelum hukum berbicara. Ia hadir ketika tidak ada saksi, tidak ada kamera, dan menjadi benteng pertama yang menjaga manusia agar tetap berada di jalan yang benar,” tulisnya.
Lebih lanjut, MJP Hutagaol mengaitkan berbagai persoalan global, seperti korupsi, kesenjangan sosial, peperangan, perdagangan manusia, hingga penyalahgunaan narkotika, sebagai gejala yang memiliki akar persoalan serupa, yakni melemahnya nilai-nilai moral dalam kehidupan manusia.
Dalam refleksinya, ia juga mengajak masyarakat belajar dari alam. Matahari, sungai, dan pohon disebut sebagai simbol pengabdian yang memberi manfaat tanpa mengharapkan balasan. Nilai tersebut dinilai relevan sebagai teladan bagi setiap pemimpin maupun warga negara dalam menjalankan tanggung jawab sosial.
Ia menegaskan bahwa semakin tinggi jabatan dan semakin besar kekuasaan seseorang, maka semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dipikul. Kemuliaan seseorang, menurutnya, bukan diukur dari banyaknya kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari manfaat yang ditinggalkan bagi kehidupan orang lain.
Pada bagian penutup tulisannya, MJP Hutagaol mengingatkan bahwa sejarah pada akhirnya akan menilai bukan siapa yang paling kaya atau paling berkuasa, melainkan siapa yang tetap menjaga integritas ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Melalui refleksi tersebut, ia berharap nilai rasa malu, kejujuran, tanggung jawab, dan integritas tetap menjadi fondasi dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga harapan terhadap masa depan peradaban Indonesia tetap terjaga.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar