ISQ dan Perang Fondasi: Membaca Perebutan Kendali di Era Digital dan Kecerdasan Buatan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
- visibility 394
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes.co.id – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah wajah dunia secara fundamental. Konflik antarnegara tidak lagi hanya terjadi melalui kekuatan militer konvensional, tetapi juga melalui perebutan energi, data, dan persepsi publik. Fenomena ini menjadi landasan pemikiran yang diangkat oleh Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisannya berjudul “ISQ dan Perang Fondasi: Manusia, Data, dan Perebutan Kendali di Era Digital–AI.”
Menurutnya, dunia saat ini sedang memasuki era baru di mana sistem sebuah negara dapat dilemahkan tanpa invasi militer. Kebocoran data, serangan siber, manipulasi opini publik melalui media sosial, hingga ketergantungan terhadap teknologi asing menjadi bagian dari dinamika konflik modern.
Dalam konteks tersebut, Hutagaol memperkenalkan dua konsep utama, yakni ISQ (Inner Spirit Quintet) dan Perang Fondasi (Foundation War). Kedua konsep tersebut dinilai dapat membantu memahami tantangan peradaban di tengah percepatan perkembangan teknologi digital.
ISQ: Lima Lapisan Kesadaran Manusia
ISQ merupakan kerangka pemikiran yang menggambarkan lima lapisan kesadaran manusia, yaitu:
- IQ (Intelligence Quotient) – kemampuan logika, analisis, dan pemecahan masalah.
- EQ (Emotional Quotient) – kemampuan memahami emosi diri dan orang lain.
- AQ/MQ (Adversity Quotient dan Moral Quotient) – ketangguhan menghadapi tekanan serta integritas moral.
- SQ (Spiritual Quotient) – kemampuan memahami makna, tujuan, dan nilai kehidupan.
- ISQ (Inner Spirit Quintet) – kemampuan intuisi, keheningan batin, serta membaca pola perubahan yang belum terlihat.
Menurut Hutagaol, AI saat ini mampu melampaui manusia dalam aspek pengolahan data dan logika. Namun, teknologi belum mampu menggantikan kesadaran, intuisi, moralitas, serta kebijaksanaan yang dimiliki manusia.
“Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah tetap manusia,” tulisnya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar