Ali Mutasar & Febrial : Pemantapan Kurikulum Berbasis Cinta, Tekankan Pembelajaran Mendalam, Ubah Pola Pikir Guru
- account_circle Muhammad Yaman
- calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
- visibility 441
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kegiatan berlangsung dengan antusiasme yang sangat tinggi, berkat penyajian materi yang dikemas secara interaktif dan hidup. Para narasumber tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga melibatkan peserta lewat kuis berhadiah, dialog terbuka dua arah, serta permainan edukatif yang menarik. Suasana ruangan menjadi hidup, penuh semangat, dan jauh dari kesan kaku atau membosankan.
Dalam pemaparannya, Ali Mutasar menegaskan bahwa keberhasilan kurikulum tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, melainkan dari kedalaman pemahaman dan perubahan sikap yang terjadi.
“Jika keterampilan dan potensi setiap orang dihormati, maka proses belajar akan berjalan dengan baik, bermakna, dan menyentuh hati. Kita tidak perlu mengejar berapa banyak materi yang masuk, melainkan seberapa dalam yang dipahami. Lebih baik sedikit namun bermanfaat dan mendalam, daripada banyak tapi hanya sekadar lewat.”
Poin utama yang disampaikan menegaskan pula bahwa keikutsertaan dalam pelatihan atau workshop saja belum menjamin keberhasilan, jika belum diikuti dengan perubahan pola pikir dan tindakan nyata di kelas.
“Ikut kegiatan saja belum cukup untuk disebut berhasil, jika belum ada perubahan mendasar dalam cara pandang dan cara mengajar. Kita harus paham: mengajar itu bukan sekadar menyampaikan materi, tapi juga mendidik watak dan akhlak. Kita boleh menguasai teknologi, tetapi jangan lupa tugas utama kita sebagai pendidik.”






Jurnalis : Muhammad Yaman
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 18 April 2024 sebagai Jurnalis Kab. Agam - Sumatera Barat. Email : muhammad.yaman@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar