Sriwijaya dan Kekuatan Maritim: Pelajaran Strategis bagi Indonesia Menguasai Jaringan Perdagangan Dunia
- account_circle Suwoto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Kejayaan Kerajaan Sriwijaya sebagai kekuatan maritim di Asia Tenggara menyimpan pelajaran strategis bagi Indonesia dalam membangun kedaulatan ekonomi, memperkuat konektivitas perdagangan, serta mengoptimalkan posisi geografis sebagai negara kepulauan.
Pembahasan tersebut diangkat dalam Strategi Perang Nusantara Seri 11 berjudul “Sriwijaya: Kekuatan Maritim, Jaringan Perdagangan, dan Strategi Menguasai Pengaruh”, karya Brigjen (Purn) MJP. Hutagaol, yang diterbitkan di Jakarta, 2 November 2026.
Kajian ini mengulas bagaimana Sriwijaya membangun pengaruh melalui jaringan perdagangan, pelabuhan, jalur sungai, diplomasi, serta hubungan antarkawasan. Pengalaman sejarah tersebut kemudian dibandingkan dengan perkembangan Singapura sebagai salah satu pusat perdagangan dan pelayaran internasional modern.
Konektivitas Menjadi Fondasi Kekuatan Maritim
Menurut kajian tersebut, kekuatan maritim tidak hanya ditentukan oleh armada kapal dan penguasaan jalur laut, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan wilayah pedalaman, sungai, pusat produksi, pelabuhan, dan pasar internasional.
Pada masa Sriwijaya, jaringan Sungai Musi dan Batang Hari berperan dalam mendukung distribusi berbagai komoditas, seperti emas, kapur barus, damar, dan hasil hutan.
Pelabuhan juga memiliki fungsi strategis sebagai pusat perdagangan, pertukaran informasi, diplomasi, serta pertemuan berbagai kepentingan ekonomi dan politik.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar