Sriwijaya dan Kekuatan Maritim: Pelajaran Strategis bagi Indonesia Menguasai Jaringan Perdagangan Dunia
- account_circle Suwoto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Energi, Data, dan Persepsi sebagai Kekuatan Modern
Dalam kerangka Perang Fondasi, Brigjen (Purn) MJP. Hutagaol menyoroti tiga pilar penting, yakni energi, data, dan persepsi.
Ketiganya berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi, penguasaan informasi strategis, teknologi, komunikasi, kepercayaan publik, serta ketahanan nasional.
Di era modern, kekuatan maritim juga tidak dapat dipisahkan dari keamanan kabel bawah laut, pusat data, satelit, jaringan telekomunikasi, dan perlindungan informasi strategis.
Menuju Kemandirian Maritim Indonesia
Melalui Seri 11 ini, Strategi Perang Nusantara mengajak masyarakat melihat sejarah sebagai sumber pembelajaran dalam merumuskan strategi masa depan.
Indonesia membutuhkan sistem maritim yang terintegrasi, produktif, efisien, aman, dan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Kekuatan bangsa maritim bukan semata-mata diukur dari luas wilayah laut dan jumlah kapal, melainkan juga kemampuan membangun jaringan perdagangan, menguasai pengetahuan, menjalin kerja sama, serta menjaga kemandirian strategis.
Sebagai kelanjutan, Strategi Perang Nusantara Seri 12 akan mengangkat Sisingamangaraja XII dan Strategi Perlawanan terhadap Kekuasaan Kolonial, dengan fokus pada kepemimpinan, legitimasi adat dan keagamaan, jaringan masyarakat, serta ketahanan perjuangan di Tanah Batak.
Strategi Perang Nusantara – Seri 11
Penulis: Brigjen (Purn) MJP. Hutagaol
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar