Sriwijaya dan Kekuatan Maritim: Pelajaran Strategis bagi Indonesia Menguasai Jaringan Perdagangan Dunia
- account_circle Suwoto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Singapura Menjadi Pembelajaran Strategis
Sebagai perbandingan modern, kajian ini menyoroti keberhasilan Singapura mengembangkan pelabuhan menjadi simpul perdagangan global.
Berdasarkan data Maritime and Port Authority of Singapore (MPA), sepanjang 2025 pelabuhan Singapura menangani 44,66 juta TEU peti kemas. Konektivitas dengan sekitar 600 pelabuhan di berbagai negara memperlihatkan pentingnya teknologi, logistik, efisiensi pelayanan, dan jaringan pelayaran internasional.
Pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi bagi Indonesia bahwa keunggulan geografis harus didukung sistem pelabuhan yang terintegrasi, infrastruktur memadai, kepastian regulasi, serta kualitas sumber daya manusia.
Sejarah dan Ketahanan Maritim
Kajian ini turut mengangkat sejumlah sumber sejarah, antara lain Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Talang Tuwo (684 M), Kota Kapur (686 M), dan Telaga Batu. Catatan perjalanan pendeta Tiongkok, Yijing, juga menjadi sumber penting untuk memahami hubungan Sriwijaya dengan jaringan pendidikan Buddha dan pelayaran internasional.
Peristiwa ekspedisi laut Kerajaan Chola sekitar 1025 Masehi pada masa Rajendra Chola I menjadi pelajaran mengenai kerentanan jaringan perdagangan terhadap tekanan kekuatan luar.
Namun, rekonstruksi kemampuan militer Sriwijaya tetap perlu berpijak pada bukti sejarah yang tersedia, mengingat informasi mengenai struktur armada dan taktik pertempurannya masih terbatas.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar