Strategi Perang Nusantara Seri 10: MHP Hutagaol Bahas Strategi Aliansi Tanpa Kehilangan Kemandirian
- account_circle Suwoto
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Membangun kekuatan tidak selalu harus dilakukan sendiri. Dalam sejarah Nusantara dan Indonesia, sejumlah pemimpin menunjukkan bagaimana kerja sama, diplomasi, serta kemampuan membaca perubahan kepentingan dapat memperkuat posisi politik dan strategis suatu bangsa.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam kajian Strategi Perang Nusantara Seri 10 bertajuk “Aliansi: Membangun Kekuatan Tanpa Kehilangan Kemandirian”.
Kajian ini mengangkat pengalaman Raden Wijaya, Arung Palakka, Sultan Nuku, dan Soekarno sebagai bahan pembelajaran mengenai pembentukan aliansi, pengelolaan kepentingan, dan konsekuensi kerja sama dengan pihak lain.
Empat Tokoh, Empat Pengalaman Strategis
Raden Wijaya menjadi contoh bagaimana jaringan politik dan pemanfaatan momentum berperan dalam membangun kembali kekuasaan setelah runtuhnya Singhasari pada 1292. Dukungan Arya Wiraraja serta pemanfaatan kedatangan pasukan Mongol pada 1293 menjadi bagian penting dari proses berdirinya Majapahit.
Sementara itu, Arung Palakka membangun kerja sama dengan VOC dalam konflik melawan Gowa pada abad ke-17. Persekutuan tersebut berkontribusi terhadap kemenangan dalam Perang Makassar, tetapi juga memperluas pengaruh VOC di Sulawesi Selatan. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan aliansi perlu dinilai dari manfaat dan konsekuensi jangka panjang bagi masing-masing pihak.
Pengalaman Sultan Nuku dari Tidore memperlihatkan pentingnya jaringan lintas kawasan. Dalam perjuangannya menghadapi VOC, Nuku membangun dukungan dari berbagai wilayah, termasuk menjalin hubungan dengan Inggris yang memiliki kepentingan geopolitik sendiri di kawasan Maluku.
Adapun Soekarno menunjukkan pendekatan aliansi melalui diplomasi internasional. Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 menjadi salah satu upaya memperkuat solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam memperjuangkan kedaulatan. Dalam sengketa Irian Barat, dinamika persaingan kekuatan besar juga menjadi salah satu faktor yang dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisi diplomatiknya hingga tercapainya Perjanjian New York pada 1962.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar