Strategi Perang Nusantara Seri 10: MHP Hutagaol Bahas Strategi Aliansi Tanpa Kehilangan Kemandirian
- account_circle Suwoto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Belajar dari Sejarah untuk Masa Depan Bangsa
Menurut kerangka pemikiran Hutagaol, aliansi bukan sekadar persahabatan atau kesepakatan bersama, melainkan pertemuan kepentingan yang dapat berubah seiring perkembangan keadaan.
Raden Wijaya mengajarkan pentingnya membaca momentum, Arung Palakka memperlihatkan konsekuensi persekutuan, Sultan Nuku menunjukkan kekuatan jaringan lintas kawasan, sedangkan Soekarno memperlihatkan peran diplomasi dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
Melalui Seri 10 ini, Hutagaol mengajak pembaca mempelajari sejarah dengan berpijak pada fakta, membandingkan pengalaman, dan mengambil pelajaran strategis secara kritis.
Pesan utamanya, Indonesia perlu mampu membangun kerja sama dengan berbagai pihak tanpa kehilangan kemampuan menentukan arah dan kepentingan nasional sendiri.
“Aliansi boleh berubah, momentum harus dibaca, tetapi kemandirian dan tujuan bangsa harus tetap dijaga.”
Strategi Perang Nusantara merupakan kajian konseptual Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol yang menggali pengalaman sejarah Nusantara dan Indonesia untuk dikembangkan menjadi bahan pembelajaran strategi dan kepemimpinan.
Sumber bacaan: Prasasti Kudadu (1294), Pararaton, Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka (1981), Muridan S. Widjojo, The Revolt of Prince Nuku (2009), dokumentasi Museum Konferensi Asia Afrika, serta dokumen Foreign Relations of the United States terkait sengketa Irian Barat.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar