Negara Bisa Ditekan Tanpa Peluru, Ketergantungan Strategis Jadi Sorotan dalam Seri Memahami ESTOM #9
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- visibility 291
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Ketergantungan terhadap energi, teknologi, rantai pasok, sistem keuangan, data hingga informasi dapat menjadi kerentanan strategis apabila alternatifnya terbatas dan gangguan terhadap sektor tersebut menimbulkan dampak besar terhadap kehidupan maupun pengambilan keputusan suatu negara.
Persoalan tersebut menjadi fokus pembahasan Seri Memahami ESTOM #9 berjudul “Ketika Negara Ditekan Tanpa Peluru: Dari Ketergantungan Fondasi Menuju Kerentanan Strategis”, yang ditulis oleh Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, Jakarta, 22 Agustus 2026.
Tulisan ini melanjutkan pembahasan pada Seri Memahami ESTOM #8 yang mempertemukan konsep Pertahanan Fondasi dengan kerangka ESTOM (Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver).
Dalam seri terbaru tersebut, Hutagaol menekankan bahwa tekanan strategis tidak selalu berbentuk kekuatan militer konvensional.
“Tekanan strategis tidak selalu memerlukan peluru,” menjadi salah satu gagasan utama yang dibangun dalam pembahasan tersebut.
Ketergantungan Tidak Otomatis Menjadi Ancaman
Menurut kerangka yang ditawarkan, suatu negara tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari ketergantungan. Negara modern membutuhkan perdagangan, pasar, teknologi, bahan baku, energi, pembiayaan, serta jaringan internasional.
Namun, ketergantungan dapat berubah menjadi kerentanan ketika terdapat ketergantungan kritis, alternatif yang terbatas, serta potensi dampak yang besar apabila akses terhadap sumber atau sistem tersebut terganggu.
Hutagaol juga memberikan batas penting dalam membaca persoalan tersebut. Kerentanan tidak boleh langsung dianggap sebagai tekanan atau serangan dari pihak lain.
Gagal panen, kenaikan harga energi, gangguan digital maupun ketidakpuasan masyarakat, misalnya, tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai operasi pihak asing.
Analisis strategis perlu membedakan antara krisis, kelemahan struktural, kesalahan kebijakan, dan tekanan strategis.
Tekanan strategis baru dapat dinilai secara lebih kuat apabila terdapat dasar untuk melihat sebab, niat, instrumen, pola, serta bukti.
Pendekatan tersebut penting agar analisis keamanan tidak berubah menjadi spekulasi atau kecurigaan tanpa dasar.
Embargo Minyak 1973 sebagai Pelajaran Strategis
Salah satu contoh historis yang digunakan adalah krisis minyak 1973.
Dalam konteks Perang Arab-Israel 1973, sejumlah negara Arab produsen minyak menggunakan pengurangan produksi dan embargo terhadap Amerika Serikat serta beberapa negara lain sebagai instrumen politik.
Kondisi tersebut berkontribusi terhadap gangguan pasokan dan lonjakan harga minyak yang kemudian memberikan tekanan ekonomi terhadap negara-negara konsumen.
Namun, tulisan tersebut menekankan pentingnya melihat krisis minyak 1973 secara proporsional karena dampaknya juga dipengaruhi berbagai faktor pasar dan kondisi ekonomi internasional.
Pelajaran strategis yang ingin ditekankan bukan semata-mata mengenai minyak, melainkan bagaimana penguasaan terhadap sumber daya penting dapat menjadi daya tawar ketika pihak lain berada dalam ketergantungan yang tinggi.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar