Pertahanan Indonesia Abad ke-21: Perang Fondasi Jadi Kunci Menjaga Kedaulatan Bangsa
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
- visibility 382
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Dinamika persaingan global pada abad ke-21 telah mengalami perubahan mendasar. Konflik tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer dan penguasaan wilayah, melainkan bergeser pada perebutan fondasi strategis yang menopang keberlangsungan suatu bangsa.
Hal tersebut diungkapkan oleh Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan bertajuk “Pertahanan Indonesia Abad ke-21: Perang Fondasi, Pertahanan Nir-Materi, dan Evolusi Strategi Pertahanan Nasional” Bagian IV yang diterbitkan di Jakarta, Jumat (27/6/2026).
Dalam kajiannya, Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol memperkenalkan konsep Perang Fondasi, yakni sebuah formulasi pemikiran yang menjelaskan bahwa persaingan global modern semakin berfokus pada penguasaan fondasi-fondasi strategis, seperti energi, mineral strategis, data, teknologi, ruang informasi, legitimasi negara, hingga kepercayaan publik.
Menurutnya, kemenangan dalam persaingan global saat ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan menghancurkan kekuatan militer lawan, tetapi oleh kemampuan suatu bangsa dalam menguasai, melindungi, dan mengembangkan fondasi strategis tersebut.
“Yang berubah bukan tujuan pertahanan nasional, melainkan cara membaca ancaman dan membangun ketahanan bangsa di tengah dinamika lingkungan strategis yang terus berkembang,” tulisnya.
Energi dan Mineral Strategis Jadi Penentu Kekuatan Bangsa
Dalam pemaparannya, energi disebut sebagai penggerak utama seluruh sistem kehidupan modern, mulai dari sektor industri, transportasi, komunikasi, hingga pertahanan negara.
Selain energi, mineral strategis seperti nikel, litium, kobalt, tembaga, dan rare earth elements juga dinilai memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan teknologi modern, termasuk industri baterai, semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), hingga sistem persenjataan canggih.
Namun, Hutagaol menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menjadi kekuatan nasional apabila tidak didukung oleh penguasaan teknologi, riset, inovasi, dan sumber daya manusia yang unggul.
“Nilai strategis mineral tidak terletak pada keberadaannya di dalam perut bumi, melainkan pada kemampuan bangsa mengolahnya menjadi produk bernilai tambah,” jelasnya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar