Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 5: Ketika Rasa Menjadi Sumber Pertanyaan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- visibility 145
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol kembali melanjutkan kajian Pengetahuan Peradaban Nusantara melalui Seri 5 bertajuk “Ketika Rasa Menjadi Sumber Pertanyaan”. Tulisan yang disusun di Jakarta, 29 Agustus 2026, tersebut membahas hubungan antara pengalaman manusia, intuisi, tafsir, kepercayaan, dan fakta dalam proses membangun pengetahuan.
Dalam kajiannya, MJP Hutagaol menekankan pentingnya membedakan pengalaman subjektif dengan klaim objektif. Pengalaman seseorang dapat dicatat dan dipelajari sebagai pengalaman, tetapi tidak secara otomatis menjadi bukti untuk membenarkan suatu kesimpulan.
“Pengalaman adalah nyata sebagai pengalaman,” menjadi salah satu gagasan utama dalam Seri 5.
Menurutnya, ketika seseorang merasakan, mendengar, melihat, atau mengalami sesuatu, pengalaman tersebut perlu dipisahkan dari penjelasan mengenai penyebab maupun makna yang diberikan terhadapnya.
Memisahkan Sensasi, Persepsi, Pengalaman, Tafsir, dan Klaim
Seri 5 menguraikan lima lapisan yang perlu dibedakan dalam memahami suatu pengalaman, yakni sensasi, persepsi, pengalaman, tafsir, dan klaim.
Sensasi berkaitan dengan apa yang diterima tubuh dan indera. Persepsi merupakan proses otak mengenali dan menyusun sensasi. Pengalaman berkaitan dengan apa yang disadari seseorang, sedangkan tafsir merupakan makna yang diberikan terhadap pengalaman tersebut. Adapun klaim muncul ketika seseorang menyatakan sesuatu sebagai kenyataan yang lebih luas.
Pembedaan ini dinilai penting agar pengalaman pribadi tidak langsung berubah menjadi kesimpulan objektif tanpa melalui pemeriksaan.
“Saya merasakan tidak selalu sama dengan itu benar-benar terjadi seperti yang saya tafsirkan,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan.
Intuisi sebagai Sumber Hipotesis
MJP Hutagaol juga membahas intuisi yang menurutnya dapat terbentuk dari pengalaman panjang seseorang dalam bidang tertentu. Kepekaan terhadap pola atau perubahan kecil dapat muncul sebelum seseorang mampu menjelaskan alasan di balik penilaiannya.
Kemampuan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai profesi, seperti dokter, pelaut, petani, pengrajin, atlet, prajurit, maupun pemimpin.
Meski demikian, intuisi tetap perlu ditempatkan secara proporsional.
“Intuisi dapat menjadi sumber hipotesis, tetapi bukan otomatis bukti,” tulisnya.
Menurutnya, manusia dapat keliru mengenali pola karena dipengaruhi harapan, ketakutan, sugesti, pengalaman masa lalu, kepercayaan, lingkungan sosial, maupun informasi yang diterima.
“Roso” sebagai Pintu Pertanyaan
Salah satu pembahasan dalam Seri 5 adalah istilah “roso” dalam lingkungan bahasa dan kebudayaan Jawa. MJP Hutagaol menegaskan bahwa istilah tersebut tidak dimaksudkan sebagai representasi seluruh masyarakat Nusantara, karena setiap kebudayaan memiliki bahasa dan kerangka masing-masing dalam memahami pengalaman batin.
Dalam kajian ini, “roso” digunakan sebagai salah satu pintu untuk mempertanyakan hubungan antara pengalaman manusia dan proses pemeriksaan pengetahuan.
Dari sini muncul pertanyaan: apakah rasa dapat diperiksa tanpa menghilangkan nilai pengalaman manusia, dan apakah akal dapat melakukan pemeriksaan tanpa merendahkan pengalaman batin?
“Roso Ilmiah” sebagai Kerangka Kerja
Seri 5 juga memperkenalkan istilah kerja “roso ilmiah”. Namun, istilah tersebut ditegaskan bukan sebagai deklarasi lahirnya ilmu baru.
“Roso ilmiah” ditempatkan sebagai kerangka untuk memahami bagaimana manusia merasakan, mengalami, memaknai, menafsirkan, dan menguji pengalaman.
Kerangka tersebut dirumuskan:
Pengalaman/Roso → Pertanyaan → Pemeriksaan → Data & Sumber → Tafsir → Verifikasi → Budi → Laku.
Dalam kerangka ini, rasa menjadi pemantik pertanyaan, akal melakukan pemeriksaan, data memberikan batas, tafsir mencari makna, verifikasi menguji, budi mempertimbangkan nilai dan dampak, sedangkan laku menunjukkan bagaimana pengetahuan diwujudkan dalam tindakan.
Pengetahuan Harus Disertai Tanggung Jawab
Menurut MJP Hutagaol, pengetahuan tidak cukup hanya menghasilkan kemampuan teknis. Pengetahuan juga perlu disertai pertimbangan mengenai tujuan, dampak, keadilan, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Karena itu, pertanyaan tentang pengetahuan tidak berhenti pada “apakah sesuatu benar”, tetapi juga menyentuh “untuk apa pengetahuan itu digunakan” dan apa konsekuensinya bagi manusia serta lingkungan sosial.
Seri 5 menawarkan tiga lingkar pemeriksaan, yakni diri, realitas, dan orang lain. Seseorang perlu memahami apa yang dialaminya, melihat apakah terdapat jejak atau data yang dapat diperiksa, serta membuka ruang bagi pengamatan untuk dibandingkan dan dikritik pihak lain.
Prinsip yang ditekankan adalah semakin besar suatu klaim, semakin kuat pula bukti yang diperlukan untuk mendukungnya.
Pada bagian akhir, MJP Hutagaol menegaskan bahwa rasa merupakan bagian dari pengalaman manusia dan tidak perlu dibuang. Namun, rasa juga tidak semestinya menggantikan proses pembuktian.
“Rasa boleh membuka pintu. Tetapi pengetahuan membutuhkan pemeriksaan.”
Pembahasan tersebut sekaligus menjadi pengantar menuju Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 6: “Ketika Warisan Harus Diperiksa”, yang akan berfokus pada sumber, konteks, perbandingan, dan verifikasi terhadap warisan pengetahuan.
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar