Pengetahuan Peradaban Nusantara: Leluhur Tak Hanya Meninggalkan Benda
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 124
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Warisan peradaban Nusantara tidak semestinya hanya dipahami melalui peninggalan fisik seperti candi, prasasti, perahu, manuskrip, sawah maupun pelabuhan. Di balik berbagai peninggalan tersebut terdapat pengetahuan, pengalaman, teknologi, aturan dan cara hidup yang diwariskan lintas generasi.
Gagasan itu menjadi pokok bahasan dalam tulisan Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 1: Leluhur Tidak Hanya Meninggalkan Benda karya Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol, yang disusun di Jakarta pada 29 Agustus 2026.
Hutagaol mengajak pembaca melihat peninggalan masa lalu sebagai jejak pengetahuan yang memungkinkan sebuah masyarakat membangun dan mempertahankan peradabannya.
Sebuah perahu, misalnya, tidak hanya menunjukkan teknologi transportasi masa lalu. Di balik pembuatannya terdapat pengetahuan mengenai jenis kayu, keseimbangan, angin, arus, gelombang hingga teknik pelayaran.
Demikian pula sawah tidak sekadar merupakan lahan pertanian. Di dalamnya terdapat pengalaman masyarakat dalam membaca kondisi tanah, mengelola air, memahami musim, membagi pekerjaan serta mengatur kehidupan bersama.
“Leluhur tidak hanya meninggalkan benda. Mereka juga meninggalkan pengetahuan,” menjadi salah satu gagasan utama dalam seri pertama tersebut.
Pengetahuan Tidak Selalu Tertulis
Menurut Hutagaol, pengetahuan masa lalu tidak selalu diwariskan melalui buku atau manuskrip. Pengetahuan dapat diteruskan melalui tutur, pekerjaan, adat, teknologi, simbol, aturan dan praktik kehidupan sehari-hari.
Karena itu, memahami pengetahuan suatu peradaban tidak cukup hanya dengan membaca teks. Penelitian juga perlu memperhatikan benda, lanskap, simbol, lembaga, tradisi lisan serta praktik masyarakat.
Seorang pembuat perahu, misalnya, dapat menguasai pengetahuan kompleks melalui pengalaman dan proses pewarisan antargenerasi tanpa harus meninggalkan dokumen tertulis mengenai teknik pembuatannya.
Tidak Menyeragamkan Nusantara
Hutagaol juga mengingatkan agar istilah “cara berpikir orang Nusantara” tidak digunakan secara serampangan. Nusantara memiliki keragaman geografis, bahasa, budaya dan sejarah.
Masyarakat pesisir menghadapi persoalan yang berbeda dengan masyarakat pegunungan. Demikian pula masyarakat di sekitar sungai memiliki pengalaman berbeda dengan masyarakat kepulauan.
Karena itu, pendekatan yang dinilai lebih tepat adalah mencari pola pengetahuan peradaban di berbagai wilayah Nusantara dengan tetap mempertahankan karakter dan perbedaan masing-masing masyarakat.
Peradaban Terbentuk dari Pengetahuan
Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa pengetahuan menjadi bagian dari peradaban ketika masuk ke dalam kehidupan bersama. Secara konseptual, pengetahuan dapat memengaruhi nilai, kepentingan, keputusan dan kekuasaan, kemudian melahirkan aturan, lembaga, teknologi serta infrastruktur yang membentuk laku bersama.
Dengan perspektif tersebut, peradaban tidak hanya dapat dilihat dari bangunan monumental. Sistem pengelolaan sawah, hutan dan laut, teknologi perahu hingga mekanisme penyelesaian konflik juga dapat menjadi sumber untuk memahami perkembangan pengetahuan masyarakat.
Warisan Masa Lalu Perlu Diuji
Hutagaol menekankan pentingnya menghindari romantisme terhadap masa lalu. Menghormati leluhur bukan berarti seluruh warisan harus diterima tanpa pemeriksaan.
Pengetahuan lama dapat mengandung kebenaran sekaligus keterbatasan. Tradisi dapat memiliki nilai kebijaksanaan, tetapi juga dapat memuat kepentingan, ketimpangan, konflik atau praktik yang tidak lagi sesuai dengan kondisi masa kini.
Karena itu, warisan masa lalu perlu dikaji secara kritis. Sesuatu yang tertulis belum tentu benar, sesuatu yang diwariskan belum tentu terbukti, sesuatu yang lama belum tentu selalu bijaksana, sementara sesuatu yang berasal dari luar tidak otomatis berarti buruk.
Daya Olah Masyarakat Nusantara
Nusantara juga tidak berkembang dalam ruang tertutup. Pelayaran, perdagangan, migrasi, agama, politik dan pertukaran pengetahuan turut mempertemukan masyarakat Nusantara dengan berbagai pengaruh dari luar.
Namun, pengaruh tersebut tidak selalu diterima secara utuh. Masyarakat dapat menerima, menolak, menyesuaikan atau mengolahnya menjadi bentuk baru.
Dalam konteks itu, “daya olah” masyarakat menjadi bagian penting untuk dikaji, yakni kemampuan mengolah berbagai pengaruh menjadi bagian dari kehidupan dan kebudayaan setempat.
Dari Jejak Menuju Pertanyaan Baru
Seri pertama ini mengajak pembaca mengubah cara memandang peninggalan sejarah. Pertanyaan tidak hanya berkaitan dengan siapa yang membuat sebuah peninggalan, tetapi juga pengetahuan apa yang memungkinkan peninggalan tersebut lahir, bagaimana pengetahuan diwariskan, bagaimana lingkungan memengaruhinya dan bagaimana pengaruh luar diolah oleh masyarakat.
Warisan leluhur dapat dipelajari dengan mencari pengetahuan yang terserak, memeriksa yang diwariskan, memilah yang bernilai, mengoreksi yang keliru, mengembangkan yang masih berguna dan menciptakan pengetahuan baru.
Seri pertama tersebut menjadi pengantar menuju Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 2: “Dari Pengetahuan Menjadi Peradaban — Ketika Pengalaman Berubah Menjadi Aturan, Lembaga, Teknologi, dan Laku Bersama.”
Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar