Foundation Warfare: Ketika Energi, Data, dan Persepsi Menjadi Medan Pertarungan Baru Dunia Abad ke-21
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 362
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Diplomasi Fondasi di Era Presiden Prabowo
Hutagaol juga menilai berbagai langkah diplomasi internasional Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari upaya menempatkan Indonesia dalam arsitektur global yang terus berubah.
Menurutnya, diplomasi modern tidak lagi terbatas pada hubungan antarnegara, melainkan juga menyangkut akses terhadap teknologi, inovasi, pengetahuan, kemitraan strategis, dan ketahanan nasional.
Masa Depan Ditentukan oleh Fondasi yang Kuat
Sebagai penutup, Hutagaol menegaskan bahwa abad ke-21 kemungkinan akan dikenang sebagai era persaingan atas energi, data, dan persepsi.
Persaingan tersebut melibatkan negara, perusahaan, dan individu yang beroperasi di berbagai domain, mulai dari darat, laut, ruang siber, luar angkasa, ekonomi, hingga informasi.
“Indonesia menghadapi pilihan besar: menjadi penonton atau menjadi pemain utama. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan mengubah sumber daya menjadi energi, pengetahuan menjadi data, serta persatuan menjadi persepsi yang mampu menggerakkan kekuatan nasional,” pungkasnya.
Tentang Penulis
Brigjen TNI (Purn.) M.J.P. Hutagaol merupakan mantan perwira Komando Pasukan Khusus (Kopassus) lulusan Akademi Militer tahun 1986. Saat ini ia menjabat sebagai Pembina Forum Komunikasi Keluarga Purnawirawan Baret Merah (FKKPBM).
Melalui konsep Foundation Warfare, Hutagaol berupaya menghadirkan perspektif baru dalam memahami dinamika geopolitik, teknologi, ekonomi, dan peradaban yang berkembang pesat di abad ke-21.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar