Foundation Warfare: Ketika Energi, Data, dan Persepsi Menjadi Medan Pertarungan Baru Dunia Abad ke-21
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 360
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Munculnya Aktor Non-Negara yang Berpengaruh
Dalam era Foundation Warfare, Hutagaol menilai aktor non-negara juga memainkan peran yang semakin besar.
Perusahaan investasi global BlackRock disebut sebagai contoh bagaimana kekuatan modal mampu memengaruhi arah perkembangan ekonomi, teknologi, dan pasar keuangan dunia.
Sementara pengusaha Elon Musk dinilai menjadi figur yang beroperasi pada ketiga pilar sekaligus. Melalui Tesla pada sektor energi, Starlink dalam penguasaan data dan konektivitas, serta platform X yang berpengaruh terhadap pembentukan persepsi publik global.
Peluang dan Tantangan Indonesia
Bagi Indonesia, Hutagaol melihat sejumlah keunggulan strategis berupa kekayaan energi, cadangan mineral kritis seperti nikel dan timah, potensi maritim, jumlah penduduk yang besar, serta posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan masa depan.
Indonesia perlu memperkuat hilirisasi industri, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mempercepat inovasi teknologi, memperluas riset, dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Program hilirisasi industri, Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, hingga kerja sama akademik internasional dinilai dapat memperkuat pilar energi, data, dan persepsi secara bersamaan.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar