Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Ketika Katalis Membaca Indonesia: Perubahan Besar Tak Selalu Butuh Kekuatan Lebih Besar

Ketika Katalis Membaca Indonesia: Perubahan Besar Tak Selalu Butuh Kekuatan Lebih Besar

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
  • visibility 141
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta – Indonesia memiliki berbagai modal strategis, mulai dari sumber daya alam, sumber daya manusia, pasar, modal, teknologi hingga infrastruktur yang terus berkembang. Namun, besarnya potensi tersebut belum selalu berbanding lurus dengan kecepatan menghasilkan nilai dan kesejahteraan.

Pertanyaan mengenai kesenjangan antara potensi dan hasil tersebut menjadi titik berangkat pemikiran Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan berjudul “Ketika Katalis Membaca Indonesia: Mengapa Perubahan Besar Tidak Selalu Membutuhkan Kekuatan yang Lebih Besar.”

Dalam tulisan yang bertanggal Jakarta, 30 Agustus 2026 itu, Hutagaol menggunakan konsep katalis dalam ilmu kimia sebagai analogi untuk membaca proses perubahan dalam kehidupan, organisasi, ekonomi dan pembangunan nasional.

“Katalis adalah zat yang meningkatkan laju reaksi kimia dengan menyediakan jalur reaksi alternatif yang memiliki energi aktivasi lebih rendah,” tulis Hutagaol.

Menurutnya, konsep tersebut menarik karena menunjukkan bahwa suatu proses tidak selalu membutuhkan tambahan energi atau kekuatan yang lebih besar. Dalam kondisi tertentu, persoalan justru terletak pada jalur yang harus dilalui.

Dalam ilmu kimia, katalis tidak menjadi sumber energi tambahan dan tidak mengubah hasil kesetimbangan termodinamika. Perannya adalah menyediakan jalur reaksi yang secara kinetik lebih mudah sehingga reaksi dapat berlangsung lebih cepat.

Hutagaol kemudian menarik analogi tersebut ke dalam persoalan pembangunan.

Potensi Belum Tentu Menjadi Hasil

Menurutnya, tersedianya potensi tidak secara otomatis membuat potensi tersebut menghasilkan sesuatu yang optimal.

Seseorang dapat memiliki kecerdasan, tetapi tanpa pendidikan, kesempatan, disiplin dan lingkungan yang mendukung, potensi tersebut belum tentu berkembang maksimal.

Demikian pula sebuah daerah dapat memiliki hasil pertanian yang melimpah, tetapi tanpa infrastruktur, penyimpanan, pengolahan, pembiayaan, informasi harga dan akses pasar, hasil produksi belum tentu memberikan nilai ekonomi yang sebanding bagi masyarakat.

“Potensinya ada. Yang belum tersedia mungkin adalah jalur yang membuat potensi itu bekerja,” demikian salah satu gagasan utama dalam tulisan tersebut.

Karena itu, ia mengajak agar persoalan pembangunan tidak selalu dijawab dengan menambah kekuatan, anggaran, lembaga atau aturan.

Menurut perspektif yang ditawarkannya, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: apa yang sebenarnya menghambat potensi yang sudah tersedia untuk bekerja?

Mencari Titik Pengungkit

Dalam konteks organisasi, misalnya, persoalan tidak selalu dapat diselesaikan dengan menambah jumlah personel. Perbaikan proses, pembagian kewenangan dan pengambilan keputusan yang lebih efektif dapat menjadi faktor yang mempercepat kinerja.

Dalam ekonomi, peningkatan produksi juga tidak selalu menjadi satu-satunya jawaban. Hubungan antara produksi, pengolahan, distribusi, pembiayaan, informasi dan pasar menjadi bagian penting dari rantai penciptaan nilai.

Hutagaol menyebut cara berpikir tersebut sebagai upaya mencari “titik pengungkit”, yaitu bagian tertentu dari sistem yang apabila diperbaiki dapat memberikan dampak lebih luas terhadap keseluruhan proses.

Salah satu contoh yang digunakan adalah sektor pangan.

Produksi pertanian tidak berhenti pada kegiatan menghasilkan komoditas. Setelah itu masih terdapat rangkaian proses berupa pengeringan atau penyimpanan, pembiayaan, pengolahan, distribusi, informasi harga hingga akses pasar.

Jika salah satu mata rantai tersebut lemah, nilai ekonomi yang diterima produsen dapat ikut terpengaruh.

Karena itu, menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya mengukur berapa banyak komoditas yang diproduksi.

Yang juga penting adalah melihat berapa besar nilai yang berhasil dipertahankan dan diterima oleh produsen serta masyarakat dalam keseluruhan rantai tersebut.

Kepemimpinan sebagai Katalis

Konsep katalis juga digunakan Hutagaol untuk membicarakan kepemimpinan.

Ia menekankan bahwa istilah tersebut merupakan analogi, bukan penyamaan antara manusia atau institusi dengan zat kimia.

Dalam analogi itu, pemimpin tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan sendiri. Peran pemimpin dapat berupa membuka jalan, menghubungkan kekuatan, mengurangi hambatan, mempercepat pengambilan keputusan dan menciptakan kondisi agar orang lain dapat bekerja secara optimal.

Dengan perspektif tersebut, kepemimpinan tidak hanya dipahami sebagai kemampuan memberikan perintah.

Lebih jauh, kepemimpinan dapat dilihat sebagai kemampuan membuat potensi orang lain bekerja.

Analogi serupa dapat diterapkan pada guru, teknologi, informasi, akses pembiayaan maupun institusi. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi pengungkit yang membantu suatu potensi bergerak dari kemungkinan menjadi tindakan dan hasil.

Kecepatan Tidak Sama dengan Arah

Namun, Hutagaol juga memberikan batas penting terhadap analogi katalis.

Dalam kimia, katalis dapat mempercepat tercapainya kesetimbangan, tetapi tidak mengubah posisi kesetimbangan termodinamika.

Dari prinsip tersebut, ia menarik sebuah pelajaran: kecepatan tidak menentukan arah.

Teknologi dapat mempercepat proses. Modal dapat mempercepat proses. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga dapat mempercepat proses.

Tetapi percepatan tetap membutuhkan arah yang benar.

“Mempercepat menuju apa?” menjadi pertanyaan penting dalam kerangka berpikir tersebut.

Menurutnya, apabila arah yang dipilih benar, percepatan dapat menghasilkan kemajuan. Sebaliknya, apabila arah yang dipilih keliru, percepatan justru dapat membuat suatu kesalahan menghasilkan dampak lebih cepat.

Dengan demikian, katalis menjawab bagaimana proses dapat dipercepat, sedangkan arah menjawab untuk apa proses tersebut dipercepat.

Menghubungkan Newton, Entropi, Big Bang dan Katalis

Tulisan tersebut juga ditempatkan dalam rangkaian pemikiran yang sebelumnya menggunakan sejumlah konsep sains sebagai analogi untuk membaca kehidupan dan sistem sosial.

Newton digunakan untuk mengingatkan pentingnya melihat gaya, resultan, hambatan dan arah.

Konsep entropi digunakan untuk menggambarkan bahwa keteraturan membutuhkan pemeliharaan dan kemampuan memperbaiki diri.

Big Bang digunakan sebagai cara melihat bahwa kondisi sekarang memiliki sejarah dan terbentuk melalui proses panjang serta perubahan kondisi.

Sementara konsep katalis menambahkan perspektif mengenai pentingnya menemukan jalur yang lebih efektif agar potensi yang sudah tersedia dapat bergerak menuju hasil.

Keempat konsep tersebut, menurut Hutagaol, bukanlah hukum kehidupan ataupun persamaan ilmiah untuk menjelaskan masyarakat.

Ia menempatkannya sebagai alat bantu berpikir.

Pesan utamanya adalah pentingnya membaca realitas sebelum menentukan tindakan.

Indonesia dan Tantangan Menemukan Pengungkit

Dalam konteks Indonesia, pendekatan tersebut mendorong sejumlah pertanyaan strategis.

Di mana hambatan proses masih terlalu tinggi?

Di mana biaya menjadi terlalu besar?

Di mana proses terlalu panjang?

Di mana informasi terputus?

Di mana kewenangan bertumpuk?

Di mana pembiayaan belum menjangkau pelaku produksi?

Di mana teknologi belum tersedia atau belum digunakan secara efektif?

Dan di mana produksi belum terhubung secara optimal dengan pasar?

Pertanyaan tersebut menggeser sudut pandang dari sekadar mencari “apa yang kurang” menjadi mencari “apa yang menghambat sesuatu yang sebenarnya sudah ada.”

Pada akhirnya, Hutagaol menyimpulkan bahwa Indonesia tidak selalu kekurangan potensi.

Karena itu, setiap persoalan tidak harus selalu dijawab dengan menambah anggaran, lembaga, aturan, proyek atau kekuatan.

Ada kalanya yang lebih dibutuhkan adalah menemukan jalan yang tepat dan titik pengungkit yang tepat.

Bangsa yang kuat, dalam perspektif tersebut, bukan hanya bangsa yang terus menambah sumber daya, tetapi bangsa yang mampu membuat sumber daya yang dimilikinya bekerja secara lebih efektif menuju tujuan yang jelas.

Catatan ilmiah: Penggunaan istilah katalis, energi aktivasi, dan pengungkit dalam tulisan ini merupakan analogi pemikiran. Dalam ilmu kimia, katalis meningkatkan laju reaksi melalui mekanisme atau jalur reaksi alternatif dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis tidak mengubah perubahan energi bebas Gibbs maupun posisi kesetimbangan termodinamika, melainkan mempercepat tercapainya kesetimbangan. Analogi tersebut tidak dimaksudkan sebagai persamaan antara proses kimia dengan proses sosial, organisasi, ekonomi maupun pembangunan.

Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 30 Agustus 2026

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Respons Cepat Laporan Warga, Timsus Macan Polres Belawan Amankan Dua Terduga Pelaku Tawuran

    Respons Cepat Laporan Warga, Timsus Macan Polres Belawan Amankan Dua Terduga Pelaku Tawuran

    • calendar_month Minggu, 18 Okt 2026
    • account_circle Agus Suprianto
    • visibility 83
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Medan Belawan – Menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan aksi tawuran, Tim Khusus (Timsus) Macan Polres Pelabuhan Belawan bergerak cepat ke Jalan Aluminium Raya, tepatnya di kawasan TPU Porta, Tanjung Mulia, Minggu (18/10/2026) dini hari. Dalam kegiatan tersebut, petugas mengamankan dua orang laki-laki yang diduga berkaitan dengan aksi tawuran. Patroli yang dipimpin Kasat Samapta […]

  • Poldasu Gelar Rakor Penanganan Antrean SPBU, Para Pihak  Sepakati Percepatan Normalisasi Distribusi photo_camera 2

    Poldasu Gelar Rakor Penanganan Antrean SPBU, Para Pihak Sepakati Percepatan Normalisasi Distribusi

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Yaman
    • visibility 131
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Medan – Para pihak sepakat melakukan percepatan normalisasi pendistribusian BBM sebagai salah satu solusi mengatasi antrean yang terjadi di berbagai SPBU di Sumut. Kesepakatan itu dicapai dalam Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan antrean di SPBU, Rabu (15/7) di Aula Catur Prasetya Poldasu. Hadir dalam Rakor tersebut, Karo Ops Poldasu, Kombes Pol Dr. Dwi Tunggal […]

  • Ngopi Santai, Kolaborasi Jalan: UBP Saguling Gelar Coffee Morning Mei photo_camera 6

    Ngopi Santai, Kolaborasi Jalan: UBP Saguling Gelar Coffee Morning Mei

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Ujang Dadang
    • visibility 152
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Bandung Barat – PT PLN Indonesia Power UBP Saguling melaksanakan kegiatan Coffee Morning periode Mei sebagai wadah komunikasi, koordinasi, dan penguatan kolaborasi antarpegawai. Bertempat di GSG Dayang Sumbi, Cioray, agenda ini diikuti oleh seluruh Insan UBP Saguling, baik secara offline maupun online. Dengan mengusung tema #OneTeamOneEnergy, Coffee Morning Mei menjadi momentum bagi pegawai dan […]

  • 15 Tahun Garuda-NI di Ranah Minang: Perkuat Barisan, Pertajam Kontrol Sosial

    15 Tahun Garuda-NI di Ranah Minang: Perkuat Barisan, Pertajam Kontrol Sosial

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
    • account_circle Delco Fitril
    • visibility 107
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | AGAM — Lima belas tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah organisasi untuk mempertahankan eksistensi. Di tengah dinamika sosial dan perubahan zaman, LSM Garuda-NI DPW Sumatera Barat memilih untuk terus berbenah, memperkuat barisan, dan mempertajam perannya sebagai kontrol sosial di tengah masyarakat. Dengan mengusung moto “Berawal dari Akhir dan Berakhir dari Awal”, LSM […]

  • Ketua Aliansi Ormas Landak Apresiasi Kinerja Polres Landak Tangani Karhutla

    Ketua Aliansi Ormas Landak Apresiasi Kinerja Polres Landak Tangani Karhutla

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 132
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Ngabang – Ketua Aliansi Organisasi Masyarakat (Ormas) Kabupaten Landak, FX. Ferry Sak, S.E., menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polres Landak atas respons cepat dan kerja keras dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Landak. Ferry menilai ancaman Karhutla di Landak saat ini sangat serius. Berdasarkan data, Kabupaten Landak […]

  • Tiga Perwira TNI AU Raih Gelar Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti photo_camera 6

    Tiga Perwira TNI AU Raih Gelar Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 186
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Tiga perwira TNI Angkatan Udara (TNI AU) berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi Konsentrasi Manajemen Stratejik dalam Sidang Terbuka Disertasi Program Doktor Universitas Trisakti, Sabtu (18/7/2026). Ketiganya merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1996, terdiri atas satu perwira tinggi dan dua perwira menengah, yang dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. […]

expand_less