Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Dekolonisasi Pemikiran Seri 6: Dari Naskah Nusantara Menjadi Laboratorium Pemikiran

Dekolonisasi Pemikiran Seri 6: Dari Naskah Nusantara Menjadi Laboratorium Pemikiran

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
  • visibility 93
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta – Warisan tertulis Nusantara tidak semestinya hanya diperlakukan sebagai peninggalan sejarah yang dibaca untuk mengetahui masa lalu. Naskah-naskah tersebut juga dapat ditempatkan sebagai sumber penelitian untuk menggali konsep, pola pemikiran, serta pertanyaan ilmiah yang relevan dengan perkembangan pengetahuan masa kini.

Gagasan tersebut disampaikan Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan “Dekolonisasi Pemikiran — Seri 6: Dari Naskah Menjadi Laboratorium Pemikiran”, bertanggal Jakarta, 30 September 2026.

Dalam tulisannya, Hutagaol menekankan pentingnya membaca naskah Nusantara secara kritis. Menurut gagasan yang dikemukakan, sebuah naskah tidak dapat langsung diperlakukan sebagai kebenaran yang tidak perlu diuji. Naskah merupakan produk manusia pada zamannya, sehingga perlu dikaji berdasarkan konteks, bahasa, proses penyalinan, versi manuskrip, serta sejarah transmisinya.

“Jangan hanya membaca isinya. Periksa juga sejarah sumbernya,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam tulisan tersebut.

Hutagaol juga menyoroti pentingnya membedakan antara apa yang benar-benar dinyatakan oleh sumber, apa yang ditafsirkan peneliti, dan apa yang masih berupa hipotesis.

Pemisahan tersebut dinilai penting agar penelitian terhadap warisan intelektual Nusantara tidak terjebak pada pengambilan satu kalimat atau ungkapan dari konteks keseluruhan.

Dalam konteks ini, naskah tidak hanya dibaca untuk memperoleh informasi, tetapi dianalisis melalui pertanyaan ilmiah: apa yang sebenarnya tertulis, siapa yang menulis, kapan dan dalam konteks apa teks tersebut dibuat, bagian mana yang dapat diverifikasi, serta bagaimana informasi di dalamnya dapat dibandingkan dengan sumber lain.

Salah satu contoh yang digunakan adalah Kakawin Sutasoma, yang dikenal luas karena ungkapan Bhinneka Tunggal Ika.

Namun, menurut tulisan tersebut, penelitian tidak seharusnya berhenti pada penggunaan ungkapan tersebut sebagai semboyan. Teks dan konteksnya perlu diteliti untuk mengetahui bagaimana karya tersebut menggambarkan hubungan antara perbedaan dan kesatuan dalam konteks masyarakat pada zamannya.

Penelitian kemudian dapat mengidentifikasi konsep seperti perbedaan, kesatuan, hubungan sosial, nilai bersama, dan mekanisme penyelesaian pertentangan.

Dari proses tersebut, peneliti dapat merumuskan hipotesis yang selanjutnya harus diuji menggunakan kasus dan sumber lain.

Dengan demikian, sebuah ungkapan dalam naskah tidak langsung ditetapkan sebagai teori, melainkan menjadi titik awal untuk membangun pertanyaan penelitian.

Contoh lain adalah Nagarakretagama.

Hutagaol mengingatkan bahwa karya tersebut tidak semestinya diperlakukan sebagai peta administratif modern. Naskah perlu ditempatkan dalam konteks sejarah dan sastra ketika karya itu dihasilkan.

Salah satu pertanyaan penelitian yang dapat dikembangkan adalah bagaimana jaringan wilayah dan hubungan politik digambarkan dalam naskah tersebut.

Peneliti dapat mengidentifikasi nama-nama wilayah, mencocokkannya dengan sumber sejarah dan geografis lain, memetakan lokasi yang dapat diidentifikasi, serta membandingkannya dengan bukti arkeologi dan prasasti.

Bagian yang belum dapat diverifikasi juga perlu diberi status sebagai informasi yang masih belum pasti.

Pendekatan tersebut membuat kesimpulan penelitian tetap proporsional terhadap kekuatan bukti yang tersedia.

Tulisan tersebut juga menempatkan teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau AI sebagai instrumen yang dapat membantu penelitian terhadap naskah Nusantara.

Nama tempat dapat diolah menjadi data geografis, nama tokoh dapat dipetakan sebagai jaringan hubungan, istilah tertentu dapat dianalisis berdasarkan frekuensi kemunculannya, sementara perubahan penggunaan kata dapat dibandingkan antarversi teks.

AI juga dapat membantu menyaring teks dalam jumlah besar untuk menemukan pola awal.

Namun, Hutagaol memberikan penekanan bahwa hasil pemrosesan digital maupun AI tidak otomatis menjadi bukti ilmiah.

Pola yang ditemukan tetap membutuhkan pemeriksaan manusia, verifikasi terhadap sumber asli, pembacaan konteks, serta pengujian terhadap interpretasi yang dihasilkan.

Dalam tulisan tersebut, proses penelitian terhadap warisan tertulis Nusantara dirumuskan melalui sejumlah tahapan, mulai dari menentukan pertanyaan penelitian, menentukan dan memverifikasi sumber, mengekstraksi data, membentuk konsep, melakukan perbandingan, merumuskan hipotesis, melakukan operasionalisasi, menguji bukti, melakukan kritik dan falsifikasi, merevisi konsep, membangun model, menguji ulang, hingga mempublikasikan hasil penelitian.

Rangkaian tersebut diringkas menjadi:

SUMBER → DATA → KONSEP → HIPOTESIS → UJI → KRITIK → REVISI → MODEL → PENGETAHUAN

Jika memiliki bukti dan daya jelaskan yang memadai melalui proses penelitian yang berkelanjutan, suatu model atau penjelasan dapat berkembang menjadi teori.

Salah satu pesan penting dalam tulisan tersebut adalah perlunya menghindari sikap yang menjadikan warisan Nusantara sebagai sesuatu yang otomatis benar hanya karena berasal dari Nusantara.

Sebaliknya, warisan intelektual Nusantara juga tidak semestinya dianggap tidak ilmiah hanya karena berasal dari tradisi di luar arus utama akademik tertentu.

Pertanyaan yang dikedepankan adalah mengenai bukti, metode, kemampuan untuk diuji dan dibantah, serta kemungkinan hasil penelitian diperiksa kembali oleh peneliti lain.

Dengan pendekatan tersebut, dekolonisasi pemikiran dipahami bukan sebagai upaya mengganti satu sumber otoritas dengan sumber otoritas lain, melainkan memperluas sumber pertanyaan dan data yang dapat masuk ke dalam penelitian ilmiah.

Pendekatan serupa, menurut Hutagaol, juga dapat diterapkan terhadap pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Pemikirannya dapat diteliti melalui sejumlah pertanyaan, antara lain mengenai konsep manusia, tujuan pendidikan, hubungan pendidikan dengan lingkungan, posisi pendidik, serta proses pembentukan manusia.

Selanjutnya, prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi objek penelitian untuk melihat relevansi dan daya gunanya dalam konteks pendidikan modern.

Dengan pendekatan itu, tokoh sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai objek penghormatan atau peringatan, tetapi juga sebagai sumber pemikiran yang dapat diteliti secara akademis.

Naskah juga tidak berdiri sendiri. Informasi di dalamnya dapat dibandingkan dan dihubungkan dengan berbagai jenis sumber lain, seperti prasasti, artefak, situs dan bangunan sejarah, permukiman, jalur perdagangan, pelabuhan, data kebahasaan, lingkungan, serta catatan dari bangsa atau wilayah lain.

Pendekatan lintas sumber tersebut dapat membantu peneliti melihat bukan hanya apa yang ditulis dalam suatu naskah, tetapi juga bagaimana masyarakat dan jaringan peradaban pada masa tertentu mungkin bekerja.

Kekuatan kesimpulan penelitian kemudian bergantung pada sejauh mana berbagai sumber tersebut menunjukkan pola yang konsisten dan dapat diverifikasi.

Pada bagian akhir, Hutagaol menempatkan dekolonisasi pemikiran bukan sebagai upaya mempertentangkan “teori Barat” dengan “teori Nusantara”.

Gagasannya diarahkan pada perubahan posisi: dari sekadar pembaca teori menjadi peneliti realitas, dari konsumen pengetahuan menjadi produsen pengetahuan, serta dari bangsa yang hanya dijelaskan menjadi bangsa yang turut menjelaskan.

Warisan tertulis Nusantara, dalam kerangka tersebut, dipandang bukan hanya sebagai peninggalan, melainkan sebagai sumber pertanyaan penelitian.

Naskah dapat menyimpan pemikiran yang belum sepenuhnya dipahami, hubungan yang belum dipetakan, konsep yang belum dirumuskan, maupun hipotesis yang belum diuji.

Karena itu, pekerjaan penelitian terhadap warisan intelektual Nusantara tidak berhenti pada pemujaan masa lalu ataupun penolakan terhadap ilmu pengetahuan dari luar.

Intinya adalah membaca sumber sendiri dengan disiplin ilmiah, membuktikannya, mengkritiknya, memperbaikinya, dan apabila penelitian menunjukkan adanya temuan baru, menyumbangkannya ke dalam percakapan ilmu pengetahuan global.

Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 30 September 2026

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atasi Dampak Kekeringan, Kodam XII/Tanjungpura Salurkan Bantuan Air Bersih Secara Masif di Kalimantan Barat

    Atasi Dampak Kekeringan, Kodam XII/Tanjungpura Salurkan Bantuan Air Bersih Secara Masif di Kalimantan Barat

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle Hepni Jaya Kusuma
    • visibility 145
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Kubu Raya, Kalbar – Komando Daerah Militer (Kodam) XII/Tanjungpura menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat yang terdampak musim kemarau dengan menyalurkan bantuan air bersih secara masif di berbagai wilayah Provinsi Kalimantan Barat, Senin (3/8/2026). Melalui pengerahan ratusan personel serta puluhan armada tangki air, Kodam XII/Tanjungpura mendistribusikan air bersih langsung ke permukiman warga yang mengalami kesulitan […]

  • Asops Kasal Pimpin Evaluasi Operasi TNI AL Semester I 2026, Perkuat Efektivitas Operasi dan Keamanan Maritim photo_camera 5

    Asops Kasal Pimpin Evaluasi Operasi TNI AL Semester I 2026, Perkuat Efektivitas Operasi dan Keamanan Maritim

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 127
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta – Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal), Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan, S.T., M.Si., CHRMP., M.Tr.Opsla., memimpin Rapat Evaluasi Operasi TNI Angkatan Laut Semester I Tahun Anggaran 2026 yang berlangsung di Selasar Atas Denma Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (30/7/2026). Rapat evaluasi tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari pembinaan operasi TNI […]

  • Sambut HUT Bhayangkara Ke-80,Polres Beltim Gelar Bakti Sosial Religi

    Sambut HUT Bhayangkara Ke-80,Polres Beltim Gelar Bakti Sosial Religi

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Edi Purnama
    • visibility 103
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Babel – Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polres Belitung Timur melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Religi di sejumlah tempat ibadah di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Jumat (26/6/2026). Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kabag Ops Polres Belitung Timur, KOMPOL Nanang Suwardi, S.H., dan diikuti para pejabat utama, perwira, serta personel Polres Belitung […]

  • Dari Kemiri Hingga Seluruh Nusantara — Mengenang Perjalanan Seorang Aktor Intelektual, Politisi, Penulis, dan Pendakwah

    Dari Kemiri Hingga Seluruh Nusantara — Mengenang Perjalanan Seorang Aktor Intelektual, Politisi, Penulis, dan Pendakwah

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle Arif Rachman Hadi
    • visibility 257
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Grobogan – Achmad Yani Wahid, putra asli kelahiran Desa Kemiri, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, lahir di Semarang pada 5 Mei 1954. Di kampung halamannya, ia lebih dikenal dengan nama kecil Mulyani, putra dari Mbah Abdul Wahid. Sejak masa muda, ia telah menampikan keunggulan — pernah menjadi juara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten […]

  • Mengambil Ibroh dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya, Dalam Menghadapi Ujian Hidup & Mendidik Anak

    Mengambil Ibroh dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya, Dalam Menghadapi Ujian Hidup & Mendidik Anak

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Hapzon Effendi
    • visibility 332
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Cileungsi – Khatib Jumat Masjid Rabiatul Adawiyah, Cileungsi, Ustadz Sa’adul Hay, Lc., mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran (ibroh) dari kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan serta dalam mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Dalam khutbah Jumat yang disampaikan pada Jumat, 29 Mei […]

  • Mazhab Nusantara Seri 7: Kemajuan Bangsa Tak Cukup Diukur Dari Kekayaan Dan Kekuasaan

    Mazhab Nusantara Seri 7: Kemajuan Bangsa Tak Cukup Diukur Dari Kekayaan Dan Kekuasaan

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 70
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Kemajuan suatu bangsa tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, kekuatan pertahanan, penguasaan teknologi, maupun besarnya investasi. Kemajuan juga perlu dinilai dari kualitas kehidupan masyarakat, keadilan dalam memperoleh kesempatan, kredibilitas kelembagaan, kemandirian strategis, serta kemampuan menjaga keberlanjutan bagi generasi mendatang. Gagasan tersebut menjadi pokok pembahasan Mazhab Nusantara Seri 7 bertajuk […]

expand_less