Arsitektur Peradaban Cahaya: Refleksi Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol tentang Ilmu, Teknologi, dan Kebijaksanaan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
- visibility 255
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol mengajak masyarakat memaknai kembali hakikat kemajuan peradaban melalui refleksi berjudul “Arsitektur Peradaban Cahaya: Ketika Alam Semesta Menjadi Guru, Manusia Belajar Menjadi Peradaban” yang ditulis di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).
Dalam tulisannya, MJP Hutagaol menekankan bahwa kemajuan suatu peradaban tidak hanya diukur dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pembangunan infrastruktur, maupun pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, ukuran sesungguhnya terletak pada bagaimana manusia menggunakan seluruh pencapaian tersebut secara bertanggung jawab demi menjaga martabat kehidupan.
Alam Semesta Sebagai Guru Kehidupan
MJP Hutagaol memandang alam semesta sebagai sumber pembelajaran tentang keteraturan, keseimbangan, dan tanggung jawab. Fenomena terbitnya matahari, peredaran bumi, aliran sungai, hingga keberlangsungan kehidupan tumbuhan menunjukkan adanya keteraturan yang memungkinkan kehidupan berlangsung secara harmonis.
Menurutnya, keteraturan melahirkan keseimbangan, keseimbangan menopang kehidupan, kehidupan melahirkan kesadaran, dan kesadaran menghadirkan tanggung jawab.
Pandangan tersebut menjadi dasar bahwa peradaban bukan sekadar kemampuan manusia menciptakan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara pengetahuan dan nilai-nilai moral.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar