Arsitektur Peradaban Cahaya: Refleksi Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol tentang Ilmu, Teknologi, dan Kebijaksanaan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
- visibility 258
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Warisan Terbesar Adalah Nilai
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, otomasi, dan teknologi digital, MJP Hutagaol menilai pentingnya tata kelola yang berlandaskan etika dan tanggung jawab.
Menurutnya, keberhasilan suatu bangsa tidak cukup diukur dari gedung-gedung tinggi, kemajuan ekonomi, penguasaan teknologi, ataupun kemampuan menjelajah ruang angkasa.
Warisan terbesar sebuah generasi justru terletak pada nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya, seperti penghormatan terhadap martabat manusia, kepedulian terhadap lingkungan, tanggung jawab sosial, kebijaksanaan dalam menggunakan kekuasaan, dan kemampuan hidup berdampingan secara damai.
Fondasi Peradaban Masa Depan
Pada bagian akhir refleksinya, MJP Hutagaol mengajak masyarakat untuk kembali menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama pembangunan peradaban.
Menurutnya, ukuran tertinggi sebuah peradaban bukan semata-mata seberapa jauh manusia mampu menjelajahi alam semesta, melainkan seberapa dalam manusia memahami makna kehidupannya sendiri.
Ia menegaskan bahwa ketika ilmu pengetahuan, teknologi, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan nilai-nilai kemanusiaan berjalan beriringan, maka kemajuan tidak hanya menjadi sebuah pencapaian, tetapi juga menjadi harapan bagi masa depan.
“Arsitektur peradaban yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang mampu dibangun manusia, melainkan tentang nilai apa yang dipilih untuk menjadi fondasinya,” tulis MJP Hutagaol.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar