Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Bumi yang Menatap Manusia”: Refleksi Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol tentang Teknologi, Kekuasaan, dan Masa Depan Kemanusiaan

Bumi yang Menatap Manusia”: Refleksi Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol tentang Teknologi, Kekuasaan, dan Masa Depan Kemanusiaan

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • visibility 157
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Perkembangan teknologi, perubahan zaman, kekuasaan, hingga masa depan generasi mendatang menjadi rangkaian refleksi dalam karya berjudul “Bumi yang Menatap Manusia” karya Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol.

Karya tersebut menempatkan Bumi bukan sekadar sebagai latar kehidupan manusia, melainkan sebagai simbol yang seolah menyaksikan perjalanan panjang peradaban—dari perkembangan teknologi hingga berbagai persoalan kemanusiaan.

Gagasan utama karya ini berangkat dari sebuah pertanyaan reflektif: ketika manusia merasa mampu menaklukkan dunia, apakah pada saat yang sama manusia justru sedang menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri?

Dalam manuskrip tersebut, perjalanan manusia digambarkan melalui perkembangan peradaban, mulai dari penemuan roda, pembangunan kota, kemajuan ilmu pengetahuan, hingga kemampuan manusia menembus angkasa. Namun, kemajuan itu tidak serta-merta menghilangkan konflik, perebutan kekuasaan, keserakahan, maupun kekerasan.

“Bumi yang Menatap Manusia” kemudian mengarahkan perhatian pada persoalan yang lebih mendasar: apakah kemajuan kecerdasan manusia selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan?

Teknologi dan Tantangan Kebijaksanaan

Salah satu bagian penting karya ini membahas munculnya kecerdasan buatan, algoritma, robotika, dan kemampuan mesin dalam membantu manusia mengambil keputusan.

Kemajuan tersebut dipandang sebagai bagian dari perubahan besar zaman. Namun, karya ini menekankan adanya perbedaan antara kecerdasan dan kebijaksanaan.

Kecerdasan dapat digunakan untuk menghitung, menemukan solusi, bahkan menciptakan teknologi yang memiliki daya besar. Sementara itu, kebijaksanaan berkaitan dengan kemampuan manusia menentukan apa yang layak dilakukan dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan.

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan masyarakat dalam memahami konsekuensi penggunaannya.

Generasi Mendatang dan Warisan Dunia

Karya ini juga menghadirkan sosok seorang anak sebagai simbol generasi yang akan menerima dunia dari generasi sebelumnya.

Pertanyaan yang diajukan sederhana tetapi mendasar: dunia seperti apa yang akan diwariskan kepada mereka?

Ukuran keberhasilan sebuah generasi, menurut gagasan yang dibangun dalam manuskrip ini, tidak semata-mata dapat dilihat dari jumlah gedung, kemajuan teknologi, atau kekayaan yang berhasil diciptakan.

Lebih jauh, generasi mendatang akan menerima dampak dari keputusan politik, ekonomi, sosial, lingkungan, dan teknologi yang dibuat pada masa sekarang.

Karena itu, masa depan digambarkan bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya menunggu manusia, melainkan sesuatu yang sedang dibentuk melalui keputusan dan tindakan hari ini.

Kekuasaan dan Kesadaran

Persoalan kekuasaan juga menjadi bagian penting dari refleksi.

Karya ini mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kesadaran dapat menjadi ancaman bagi masyarakat yang memilikinya. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai kerajaan, imperium, dan gagasan politik pernah mengalami perubahan dan keruntuhan.

Namun, keruntuhan sebuah masyarakat tidak selalu dimulai dari serangan pihak luar. Dalam perspektif karya ini, keruntuhan juga dapat berawal dari hilangnya kejujuran, rasa malu, persaudaraan, serta kemampuan membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

Dengan demikian, pertahanan sebuah bangsa tidak hanya dipahami dalam konteks kekuatan material, tetapi juga kualitas manusia dan karakter masyarakatnya.

“Sadarlah” sebagai Pesan Utama

Pada bagian lain, Bumi dibayangkan seandainya dapat berbicara kepada manusia.

Pesannya bukan sekadar larangan terhadap perang, melainkan ajakan untuk meningkatkan kesadaran.

Perang, menurut refleksi karya tersebut, hanyalah salah satu bentuk dari persoalan yang lebih mendalam, seperti keserakahan, kebencian, ketakutan, dan keinginan untuk menguasai.

Bentuk konflik dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika dahulu konflik banyak diwujudkan melalui kekuatan militer, masa depan dapat menghadirkan bentuk persaingan melalui teknologi, ekonomi, informasi, atau kekuatan lain yang belum sepenuhnya dikenal.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana memastikan agar kekuatan yang dimiliki manusia tidak berkembang jauh lebih cepat daripada kesadarannya.

Warisan yang Lebih Besar daripada Kekayaan

Karya ini juga menyampaikan pesan kepada generasi yang belum lahir.

Kemajuan teknologi mungkin akan mengubah cara manusia hidup. Mesin dapat menjadi semakin cerdas, usia manusia mungkin semakin panjang, dan kehidupan manusia dapat berkembang melampaui batas-batas yang dikenal saat ini.

Namun, satu hal yang dianggap penting untuk tetap dipertahankan adalah kemampuan manusia untuk merasakan penderitaan dan kehidupan sesamanya.

Pesan tersebut kemudian diperluas menjadi gagasan tentang warisan. Manusia tidak hanya dituntut meninggalkan teknologi, bangunan, atau kekayaan, tetapi juga karakter, kebijaksanaan, dan teladan.

Pada akhirnya, manusia akan meninggalkan dunia. Generasi berikutnya mungkin tidak mengenal nama atau wajah orang-orang yang hidup sebelumnya. Namun, mereka akan hidup di dalam dunia yang dibentuk oleh keputusan generasi terdahulu.

Bumi sebagai Cermin Kemanusiaan

Bagian penutup manuskrip menegaskan bahwa Bumi tidak membutuhkan manusia untuk menjadi penguasa terbesar, terkaya, atau terkuat.

Manusia justru diajak menaklukkan sesuatu yang dianggap lebih sulit, yakni dirinya sendiri—keserakahan, kesombongan, kebencian, dan keinginan untuk selalu merasa paling benar.

Dalam perspektif tersebut, hubungan manusia dengan Bumi tidak lagi ditempatkan sebagai hubungan antara pemilik dan objek yang dimiliki. Manusia diposisikan sebagai penjaga sementara dari kehidupan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Pesan akhirnya kembali pada kesadaran.

Bumi tidak harus menjadi sempurna agar manusia berubah. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa setiap keputusan manusia meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.

“Bumi yang Menatap Manusia” pada akhirnya bukan sekadar renungan mengenai lingkungan atau teknologi. Karya ini merupakan refleksi tentang manusia, kekuasaan, kemajuan peradaban, tanggung jawab antargenerasi, dan pertanyaan mengenai arah kehidupan di tengah perubahan zaman.

Penulis: Brigjen (Purn.) MJP. Hutagaol

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bakti Kesehatan Polres Humbahas, Donor Darah Untuk Kemanusiaan photo_camera 6

    Bakti Kesehatan Polres Humbahas, Donor Darah Untuk Kemanusiaan

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Anton Anggiat Purba
    • visibility 157
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Humbang Hasundutan – Dalam rangka menyemarakkan HUT Bhayangkara ke-80, Polres Humbang Hasundutan terus menunjukkan komitmennya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Salah satunya melalui bakti kesehatan berupa donor darah yang digelar di Aula DP Silitonga Polres Humbahas, Senin (15/6/2026). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolres Humbahas, AKBP Adi Nugroho, S.H., S.I.K., didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Humbahas, […]

  • Hanafiah Soroti Pengawasan Dana Desa Sematang, Minta Inspektorat Aceh Timur Buka Hasil Audit

    Hanafiah Soroti Pengawasan Dana Desa Sematang, Minta Inspektorat Aceh Timur Buka Hasil Audit

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
    • account_circle Hanafiah
    • visibility 98
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Aceh Timur — Kepala Perwakilan Wilayah (Kaperwil) Media Suara Mabes Aceh, Hanafiah, meminta Inspektorat Kabupaten Aceh Timur memberikan penjelasan terkait hasil pemeriksaan pengelolaan Dana Desa Sematang, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur. Hanafiah menilai perlu ada evaluasi terhadap pengawasan penggunaan Dana Desa, menyusul dugaan belum optimalnya pembangunan di Desa Sematang selama hampir 10 tahun […]

  • Kuasa Hukum Masyarakat Desa Tunggul Pandean Tetap Berjuang di Mediasi Kedua, Minta Penghentian Proyek Gardu Induk Selama Proses Hukum Berlangsung

    Kuasa Hukum Masyarakat Desa Tunggul Pandean Tetap Berjuang di Mediasi Kedua, Minta Penghentian Proyek Gardu Induk Selama Proses Hukum Berlangsung

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Supriyono
    • visibility 156
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jepara – Proses penyelesaian sengketa terkait rencana pembangunan gardu induk yang berada di wilayah Desa Tunggul Pandean, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, perkara yang terdaftar di Pengadilan Negeri Jepara dengan nomor register 31/Pdt.G/2026/PN Jpa terkait Perbuatan Melawan Hukum memasuki tahap mediasi kedua yang digelar hari ini tanggal 8 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, Ahmad […]

  • Warga Desa Jangkang dan Nyuruk Adukan Permasalahan Hak Guna Usaha dan Plasma PT SMM ke DPRD

    Warga Desa Jangkang dan Nyuruk Adukan Permasalahan Hak Guna Usaha dan Plasma PT SMM ke DPRD

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle Ramlie Arbaie
    • visibility 275
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Belitung Timur — Perwakilan masyarakat Desa Jangka, Kecamatan Dendang, menyampaikan keluhan dan tuntutan terkait kewajiban kebun plasma serta legalitas Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Sahabat Mewah dan Makmur (SMM) / ANJ Group. ​Penyampaian aspirasi tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan masyarakat Desa Jangka, Joni Nopiansa, dalam Rapat Dengar Pendapat […]

  • Buka Keterisolasian, Empat Jembatan Perintis Garuda Mulai Dibangun di Tanggamus photo_camera 5

    Buka Keterisolasian, Empat Jembatan Perintis Garuda Mulai Dibangun di Tanggamus

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Riswan Hadi
    • visibility 278
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Tanggamus – Pembangunan Jembatan Perintis Garuda Tahap V dan VI resmi dimulai melalui kegiatan peletakan batu pertama secara video conference serentak yang berlangsung di Pekon Darusalam, Kecamatan Gunung Alip, Jumat pagi. Kegiatan video conference dipimpin langsung oleh Kepala Staf Korem 043/Gatam dan dihadiri Bupati Tanggamus, Dandim 0424/Tanggamus, Ketua DPRD, Wakapolres, kepala dinas terkait, camat, […]

  • Kapolres Inhil Gelar Coffee Morning Bersama Media, Sosialisasikan Program Perlinsos Digital

    Kapolres Inhil Gelar Coffee Morning Bersama Media, Sosialisasikan Program Perlinsos Digital

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Saprizal
    • visibility 120
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Kab. Indragiri Hilir, Tembilahan – Kapolres Indragiri Hilir AKBP Donny Eko Listianto, S.H., S.I.K., M.H., didampingi Wakapolres serta Pejabat Utama (PJU) Polres Inhil, melaksanakan Coffee Morning bersama insan media, Jumat (2/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Rekonfu Polres Inhil tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus diskusi antara jajaran kepolisian dengan para awak media dalam […]

expand_less