Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Ketika Katalis Membaca Indonesia: Perubahan Besar Tak Selalu Butuh Kekuatan Lebih Besar

Ketika Katalis Membaca Indonesia: Perubahan Besar Tak Selalu Butuh Kekuatan Lebih Besar

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
  • visibility 138
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta – Indonesia memiliki berbagai modal strategis, mulai dari sumber daya alam, sumber daya manusia, pasar, modal, teknologi hingga infrastruktur yang terus berkembang. Namun, besarnya potensi tersebut belum selalu berbanding lurus dengan kecepatan menghasilkan nilai dan kesejahteraan.

Pertanyaan mengenai kesenjangan antara potensi dan hasil tersebut menjadi titik berangkat pemikiran Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan berjudul “Ketika Katalis Membaca Indonesia: Mengapa Perubahan Besar Tidak Selalu Membutuhkan Kekuatan yang Lebih Besar.”

Dalam tulisan yang bertanggal Jakarta, 30 Agustus 2026 itu, Hutagaol menggunakan konsep katalis dalam ilmu kimia sebagai analogi untuk membaca proses perubahan dalam kehidupan, organisasi, ekonomi dan pembangunan nasional.

“Katalis adalah zat yang meningkatkan laju reaksi kimia dengan menyediakan jalur reaksi alternatif yang memiliki energi aktivasi lebih rendah,” tulis Hutagaol.

Menurutnya, konsep tersebut menarik karena menunjukkan bahwa suatu proses tidak selalu membutuhkan tambahan energi atau kekuatan yang lebih besar. Dalam kondisi tertentu, persoalan justru terletak pada jalur yang harus dilalui.

Dalam ilmu kimia, katalis tidak menjadi sumber energi tambahan dan tidak mengubah hasil kesetimbangan termodinamika. Perannya adalah menyediakan jalur reaksi yang secara kinetik lebih mudah sehingga reaksi dapat berlangsung lebih cepat.

Hutagaol kemudian menarik analogi tersebut ke dalam persoalan pembangunan.

Potensi Belum Tentu Menjadi Hasil

Menurutnya, tersedianya potensi tidak secara otomatis membuat potensi tersebut menghasilkan sesuatu yang optimal.

Seseorang dapat memiliki kecerdasan, tetapi tanpa pendidikan, kesempatan, disiplin dan lingkungan yang mendukung, potensi tersebut belum tentu berkembang maksimal.

Demikian pula sebuah daerah dapat memiliki hasil pertanian yang melimpah, tetapi tanpa infrastruktur, penyimpanan, pengolahan, pembiayaan, informasi harga dan akses pasar, hasil produksi belum tentu memberikan nilai ekonomi yang sebanding bagi masyarakat.

“Potensinya ada. Yang belum tersedia mungkin adalah jalur yang membuat potensi itu bekerja,” demikian salah satu gagasan utama dalam tulisan tersebut.

Karena itu, ia mengajak agar persoalan pembangunan tidak selalu dijawab dengan menambah kekuatan, anggaran, lembaga atau aturan.

Menurut perspektif yang ditawarkannya, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: apa yang sebenarnya menghambat potensi yang sudah tersedia untuk bekerja?

Mencari Titik Pengungkit

Dalam konteks organisasi, misalnya, persoalan tidak selalu dapat diselesaikan dengan menambah jumlah personel. Perbaikan proses, pembagian kewenangan dan pengambilan keputusan yang lebih efektif dapat menjadi faktor yang mempercepat kinerja.

Dalam ekonomi, peningkatan produksi juga tidak selalu menjadi satu-satunya jawaban. Hubungan antara produksi, pengolahan, distribusi, pembiayaan, informasi dan pasar menjadi bagian penting dari rantai penciptaan nilai.

Hutagaol menyebut cara berpikir tersebut sebagai upaya mencari “titik pengungkit”, yaitu bagian tertentu dari sistem yang apabila diperbaiki dapat memberikan dampak lebih luas terhadap keseluruhan proses.

Salah satu contoh yang digunakan adalah sektor pangan.

Produksi pertanian tidak berhenti pada kegiatan menghasilkan komoditas. Setelah itu masih terdapat rangkaian proses berupa pengeringan atau penyimpanan, pembiayaan, pengolahan, distribusi, informasi harga hingga akses pasar.

Jika salah satu mata rantai tersebut lemah, nilai ekonomi yang diterima produsen dapat ikut terpengaruh.

Karena itu, menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya mengukur berapa banyak komoditas yang diproduksi.

Yang juga penting adalah melihat berapa besar nilai yang berhasil dipertahankan dan diterima oleh produsen serta masyarakat dalam keseluruhan rantai tersebut.

Kepemimpinan sebagai Katalis

Konsep katalis juga digunakan Hutagaol untuk membicarakan kepemimpinan.

Ia menekankan bahwa istilah tersebut merupakan analogi, bukan penyamaan antara manusia atau institusi dengan zat kimia.

Dalam analogi itu, pemimpin tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan sendiri. Peran pemimpin dapat berupa membuka jalan, menghubungkan kekuatan, mengurangi hambatan, mempercepat pengambilan keputusan dan menciptakan kondisi agar orang lain dapat bekerja secara optimal.

Dengan perspektif tersebut, kepemimpinan tidak hanya dipahami sebagai kemampuan memberikan perintah.

Lebih jauh, kepemimpinan dapat dilihat sebagai kemampuan membuat potensi orang lain bekerja.

Analogi serupa dapat diterapkan pada guru, teknologi, informasi, akses pembiayaan maupun institusi. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi pengungkit yang membantu suatu potensi bergerak dari kemungkinan menjadi tindakan dan hasil.

Kecepatan Tidak Sama dengan Arah

Namun, Hutagaol juga memberikan batas penting terhadap analogi katalis.

Dalam kimia, katalis dapat mempercepat tercapainya kesetimbangan, tetapi tidak mengubah posisi kesetimbangan termodinamika.

Dari prinsip tersebut, ia menarik sebuah pelajaran: kecepatan tidak menentukan arah.

Teknologi dapat mempercepat proses. Modal dapat mempercepat proses. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga dapat mempercepat proses.

Tetapi percepatan tetap membutuhkan arah yang benar.

“Mempercepat menuju apa?” menjadi pertanyaan penting dalam kerangka berpikir tersebut.

Menurutnya, apabila arah yang dipilih benar, percepatan dapat menghasilkan kemajuan. Sebaliknya, apabila arah yang dipilih keliru, percepatan justru dapat membuat suatu kesalahan menghasilkan dampak lebih cepat.

Dengan demikian, katalis menjawab bagaimana proses dapat dipercepat, sedangkan arah menjawab untuk apa proses tersebut dipercepat.

Menghubungkan Newton, Entropi, Big Bang dan Katalis

Tulisan tersebut juga ditempatkan dalam rangkaian pemikiran yang sebelumnya menggunakan sejumlah konsep sains sebagai analogi untuk membaca kehidupan dan sistem sosial.

Newton digunakan untuk mengingatkan pentingnya melihat gaya, resultan, hambatan dan arah.

Konsep entropi digunakan untuk menggambarkan bahwa keteraturan membutuhkan pemeliharaan dan kemampuan memperbaiki diri.

Big Bang digunakan sebagai cara melihat bahwa kondisi sekarang memiliki sejarah dan terbentuk melalui proses panjang serta perubahan kondisi.

Sementara konsep katalis menambahkan perspektif mengenai pentingnya menemukan jalur yang lebih efektif agar potensi yang sudah tersedia dapat bergerak menuju hasil.

Keempat konsep tersebut, menurut Hutagaol, bukanlah hukum kehidupan ataupun persamaan ilmiah untuk menjelaskan masyarakat.

Ia menempatkannya sebagai alat bantu berpikir.

Pesan utamanya adalah pentingnya membaca realitas sebelum menentukan tindakan.

Indonesia dan Tantangan Menemukan Pengungkit

Dalam konteks Indonesia, pendekatan tersebut mendorong sejumlah pertanyaan strategis.

Di mana hambatan proses masih terlalu tinggi?

Di mana biaya menjadi terlalu besar?

Di mana proses terlalu panjang?

Di mana informasi terputus?

Di mana kewenangan bertumpuk?

Di mana pembiayaan belum menjangkau pelaku produksi?

Di mana teknologi belum tersedia atau belum digunakan secara efektif?

Dan di mana produksi belum terhubung secara optimal dengan pasar?

Pertanyaan tersebut menggeser sudut pandang dari sekadar mencari “apa yang kurang” menjadi mencari “apa yang menghambat sesuatu yang sebenarnya sudah ada.”

Pada akhirnya, Hutagaol menyimpulkan bahwa Indonesia tidak selalu kekurangan potensi.

Karena itu, setiap persoalan tidak harus selalu dijawab dengan menambah anggaran, lembaga, aturan, proyek atau kekuatan.

Ada kalanya yang lebih dibutuhkan adalah menemukan jalan yang tepat dan titik pengungkit yang tepat.

Bangsa yang kuat, dalam perspektif tersebut, bukan hanya bangsa yang terus menambah sumber daya, tetapi bangsa yang mampu membuat sumber daya yang dimilikinya bekerja secara lebih efektif menuju tujuan yang jelas.

Catatan ilmiah: Penggunaan istilah katalis, energi aktivasi, dan pengungkit dalam tulisan ini merupakan analogi pemikiran. Dalam ilmu kimia, katalis meningkatkan laju reaksi melalui mekanisme atau jalur reaksi alternatif dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis tidak mengubah perubahan energi bebas Gibbs maupun posisi kesetimbangan termodinamika, melainkan mempercepat tercapainya kesetimbangan. Analogi tersebut tidak dimaksudkan sebagai persamaan antara proses kimia dengan proses sosial, organisasi, ekonomi maupun pembangunan.

Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 30 Agustus 2026

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polri Untuk Masyarakat, Ribuan Senyum Warga Dibalik Bakti Kesehatan HUT Bhayangkara ke-80 di Polda Kalteng photo_camera 6

    Polri Untuk Masyarakat, Ribuan Senyum Warga Dibalik Bakti Kesehatan HUT Bhayangkara ke-80 di Polda Kalteng

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Agus Salim
    • visibility 193
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Palangka Raya – Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah (Polda Kalteng) menggelar puncak Bakti Kesehatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 di Gedung Graha Bhayangkara, Mapolda setempat, Jl. Tjilik Riwut Km.1, Kota Palangka Raya, Selasa (23/06/2026). Kegiatan yang turut dirangkaikan dengan Bakti Kesehatan serentak se-Indonesia dipimpin oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo […]

  • Ketua Setwil FPII Provinsi Lampung Sampaikan Ucapan Selamat HUT ke-7 KOWAPI, Harap Semakin Kokoh dan Menjadi Mitra Pers yang Handal

    Ketua Setwil FPII Provinsi Lampung Sampaikan Ucapan Selamat HUT ke-7 KOWAPI, Harap Semakin Kokoh dan Menjadi Mitra Pers yang Handal

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Adi Sundari
    • visibility 208
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pesawaran – Ketua Setwil Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Provinsi Lampung, Sufiyawan, menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus serta anggota Komunitas Wartawan Pesawaran (KOWAPI) atas peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 yang diperingati pada Sabtu (11/7/2026). Dalam keterangannya, Sufiyawan berharap KOWAPI terus tumbuh menjadi organisasi wartawan yang solid, profesional, dan […]

  • Strategi Perang Nusantara: Brigjen (Purn) MJP. Hutagaol Ajak Bangsa Menggali Pelajaran Strategis dari Sejarah Sendiri

    Strategi Perang Nusantara: Brigjen (Purn) MJP. Hutagaol Ajak Bangsa Menggali Pelajaran Strategis dari Sejarah Sendiri

    • calendar_month 5 jam yang lalu
    • account_circle Suwoto
    • visibility 46
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Sejarah peperangan di Nusantara menyimpan berbagai pelajaran tentang kepemimpinan, politik, geografi, ketahanan, dan pengambilan keputusan. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi bahan kajian untuk memperkaya pemikiran strategis Indonesia dalam menghadapi tantangan masa kini dan mendatang. Gagasan itu diangkat Brigjen (Purn) MJP. Hutagaol dalam tulisan pembuka bertajuk “Strategi Perang Nusantara—Seri 1: Mengapa Kita […]

  • Dalam Rangka HUT Bhayangkara Ke-80, Polsek Kendawangan Gelar Lomba Mancing Udang Galah

    Dalam Rangka HUT Bhayangkara Ke-80, Polsek Kendawangan Gelar Lomba Mancing Udang Galah

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 166
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Ketapang Kalbar – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara Ke-80 Tahun 2026, Polsek Kendawangan menggelar kegiatan Lomba Mancing Udang Galah “Kapolsek Kendawangan Cup” yang berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat (22/06/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris S.H., S.I.K., M.I.K., CPHR Melalui Kapolsek Kendawangan AKP Rizki […]

  • Novallen ZK Siswi Berprestasi dari Bandung Yang Sabet Tiga Thropy

    Novallen ZK Siswi Berprestasi dari Bandung Yang Sabet Tiga Thropy

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Achmad Arif Rachman
    • visibility 143
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Bandung – Novallen Zaskia Kaylanatha yang akrab dipanggil Kia adalah sosok anak perempuan berprestasi, Senin (18/52026). Kia yang masih pelajar SMP kelas 9 merupakan seorang siswi berbakat di SMP Islam Al-Azhar 42 Summarecon Bandung, Jawa Barat. Ia siswi berbakat, yang telah meraih beberapa prestasi diantaranya : – Runner Up Puteri Pertiwi Indonesia 2026. – Favorit […]

  • Gema Syiar Cianjur Fest 2026 Meriah, Bupati Ajak Warga Bangun Cianjur Bersama

    Gema Syiar Cianjur Fest 2026 Meriah, Bupati Ajak Warga Bangun Cianjur Bersama

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Fernandy Gustanto
    • visibility 212
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Cianjur — Rangkaian Cianjur Fest 2026 kembali berlangsung meriah melalui kegiatan Gema Syiar Cianjur Fest 2026 yang digelar di Alun-Alun Cianjur, Sabtu (22/8/2026) malam. Ribuan masyarakat hadir memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian acara yang memadukan syiar keagamaan, hiburan religi, dan kebersamaan masyarakat. Kegiatan tersebut menghadirkan tausiyah dari Ustaz Dennis Lim serta penampilan penyanyi […]

expand_less