Pertahanan Kognitif Jadi Kunci Ketahanan Nasional, Brigjen (Purn) MJP Hutagaol: Bangsa Harus Melindungi Kedaulatan Berpikir
- account_circle Suwoto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Belajar dari Pendekatan Internasional
NATO melalui NATO’s Approach to Counter Information Threats (18 Oktober 2024) mengembangkan pendekatan memahami ancaman, mencegah dampak, membatasi risiko, dan memulihkan kemampuan.
Sementara itu, European External Action Service (EEAS) melalui laporan FIMI 2024 menyoroti pentingnya analisis dan respons terhadap manipulasi serta intervensi informasi.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia dalam membangun sistem deteksi, koordinasi, dan respons yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Lima Agenda Penguatan Indonesia
Hutagaol menyoroti lima agenda strategis, yaitu peningkatan literasi digital dan AI, penguatan deteksi serta forensik digital, komunikasi publik yang transparan, kerja sama antarlembaga, dan perlindungan kebebasan berpendapat.
Dalam perspektif Gerilya Kognitif, pertahanan kognitif merupakan kemampuan untuk mengenali, menghadapi, dan memulihkan diri dari manipulasi informasi. Upaya ini berkaitan dengan tiga pilar Perang Fondasi, yakni energi sebagai penopang infrastruktur, data sebagai dasar pengetahuan, dan persepsi sebagai ruang pemahaman serta pengambilan keputusan manusia.
Hutagaol menegaskan bahwa pertahanan kognitif tidak boleh menjadi instrumen untuk membungkam kritik atau mengendalikan pikiran masyarakat. Sebaliknya, kebebasan berpendapat, keterbukaan, dan pemeriksaan fakta harus tetap dijaga.
Pada akhirnya, ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mampu berpikir kritis, membedakan fakta dari manipulasi, serta menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Pesan utama Gerilya Kognitif Seri 9: Pertahanan bangsa dimulai dari kemampuan manusia menjaga kejernihan berpikir dan kedaulatan mengambil keputusan.
Media Suara Mabes (MSM) – Lugas, Tegas & Terpercaya.
Sumber rujukan: NATO (2024); EEAS (2024); UNESCO (2018); United Nations (2024); Kementerian Komunikasi dan Digital, IMDI 2025.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar