Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 2: Dari Pengetahuan Menjadi Peradaban

Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 2: Dari Pengetahuan Menjadi Peradaban

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
  • visibility 55
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Bagaimana pengalaman manusia berkembang menjadi pengetahuan, kemudian diwujudkan menjadi aturan, lembaga, teknologi hingga membentuk kehidupan bersama? Pertanyaan tersebut menjadi pokok pembahasan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam “Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 2: Dari Pengetahuan Menjadi Peradaban”, yang ditulis di Jakarta, 29 Agustus 2026.

Tulisan ini merupakan kelanjutan Seri 1 yang mengajak pembaca melihat peninggalan Nusantara bukan sekadar benda bersejarah, melainkan sebagai jejak pengetahuan yang berada di baliknya.

Dalam Seri 2, MJP Hutagaol menjelaskan bahwa pengetahuan mulai memiliki peran dalam pembentukan peradaban ketika masuk ke dalam kehidupan masyarakat, dipraktikkan, diatur, dilembagakan dan diwariskan.

Dari Pengamatan Menjadi Pengetahuan

Menurut MJP Hutagaol, pengetahuan berkembang melalui interaksi manusia dengan lingkungan, kebutuhan, keterbatasan, pengalaman serta pertukaran dengan masyarakat lain.

Proses tersebut dapat digambarkan melalui rangkaian pengamatan → pengalaman → pola → pengetahuan.

Pengalaman yang berlangsung berulang memungkinkan manusia mengenali pola. Pengetahuan kemudian berkembang dari sekadar pemahaman individu menjadi sesuatu yang dibagikan, dipraktikkan dan diwariskan dalam kehidupan bersama.

Pengetahuan Menjadi Aturan dan Lembaga

Salah satu ilustrasi yang digunakan adalah pengelolaan air. Ketika sumber air digunakan oleh banyak keluarga, muncul kebutuhan mengatur pembagian, waktu penggunaan, pemeliharaan saluran hingga penyelesaian perselisihan.

Pada tahap tersebut, pengetahuan mengenai lingkungan bertemu dengan pengetahuan sosial dan melahirkan konsep mengenai hak, kewajiban, pembagian serta tanggung jawab.

Aturan yang diterapkan secara berulang kemudian membutuhkan mekanisme pelaksanaan. Dari sinilah dapat terbentuk peran atau lembaga yang bertugas mengatur, mengawasi dan memelihara sistem.

Rangkaian tersebut dirumuskan menjadi Pengetahuan → Aturan → Lembaga → Laku Bersama.

Teknologi sebagai Wujud Pengetahuan

Seri 2 juga menempatkan teknologi sebagai salah satu bentuk nyata dari pengetahuan manusia.

Perahu, misalnya, tidak hanya merupakan benda berbahan kayu, tetapi mencerminkan pengetahuan mengenai bahan, teknik pembuatan, kondisi perairan dan kebutuhan masyarakat. Hal serupa dapat ditemukan pada saluran air, sawah, bangunan dan pelabuhan.

Dengan demikian, teknologi dipandang sebagai cara manusia menerjemahkan pengetahuan menjadi benda, sistem maupun infrastruktur yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Peradaban dan Kekuasaan

MJP Hutagaol juga menekankan bahwa kajian peradaban tidak cukup hanya melihat keberhasilan atau kebijaksanaan masyarakat. Di dalam kehidupan sosial terdapat kepentingan, kekuasaan, persaingan, konflik dan ketimpangan.

Karena itu, pembacaan terhadap suatu sistem perlu memperhatikan siapa yang membuat keputusan, siapa yang memperoleh hak, siapa yang menjalankan kewajiban serta bagaimana aturan diterapkan.

Pengetahuan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi bagian dari mekanisme pengaturan dan pengendalian sosial.

Nusantara sebagai Ruang Pertukaran

Laut dalam pembahasan ini tidak hanya dipandang sebagai pemisah wilayah, tetapi juga sebagai ruang yang menghubungkan berbagai masyarakat.

Perdagangan, pelayaran, perpindahan manusia, pertemuan bahasa, perkembangan agama dan pertukaran teknologi memungkinkan pengetahuan bergerak antardaerah.

Namun, pengetahuan dari luar tidak selalu diterima secara utuh. Masyarakat dapat memilih, menyesuaikan, menggabungkan dan mengembangkan kembali pengetahuan tersebut sesuai kebutuhan lokal. Kemampuan tersebut disebut sebagai daya olah.

Sejumlah contoh yang dibahas antara lain sistem pengelolaan air pertanian di Bali, praktik sasi di sejumlah komunitas Maluku, pengetahuan masyarakat Kalimantan mengenai hutan serta tradisi maritim Bugis-Makassar.

Contoh tersebut tidak dimaksudkan untuk menyatakan adanya satu sistem yang seragam di seluruh Nusantara. Setiap praktik perlu dibaca berdasarkan lingkungan, tempat, periode sejarah dan mekanisme sosialnya masing-masing.

Dari Benda Menuju Sistem Kehidupan

Seri 2 mengajak pembaca mengubah cara melihat peninggalan masa lalu. Sawah, misalnya, dapat dipahami melalui sistem air, aturan, pembagian kerja, pengetahuan lingkungan serta hak dan kewajiban masyarakat yang berkaitan dengannya.

Perahu dapat dibaca melalui pengetahuan bahan, teknik pembuatan, kondisi laut dan jaringan perdagangan. Sementara prasasti tidak hanya dilihat dari isi tulisan, tetapi juga konteks pembuatannya, pihak yang mengeluarkan, pihak yang dituju serta aturan dan kepentingan sosial-politik yang melatarbelakanginya.

Rangkaian pembentukan peradaban tersebut dirangkum melalui lingkungan dan kebutuhan → pengalaman → pengetahuan → nilai dan kepentingan → keputusan → aturan → lembaga → teknologi dan infrastruktur → laku bersama → dampak → pewarisan dan perubahan.

MJP Hutagaol mengingatkan bahwa proses tersebut tidak selalu berjalan lurus. Bencana, konflik, perdagangan, perubahan kekuasaan, teknologi maupun keputusan setiap generasi dapat mengubah arah perkembangan pengetahuan dan kehidupan masyarakat.

Menuju Seri 3

Pada akhirnya, Seri 2 menegaskan bahwa peradaban tidak terbentuk hanya karena manusia mengetahui sesuatu. Peradaban berkembang ketika pengetahuan bergerak dari pengalaman individu menuju kehidupan bersama melalui aturan, lembaga, teknologi, kebiasaan dan proses pewarisan.

Pembahasan tersebut menjadi pengantar menuju Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 3: “Ketika Pengetahuan Tersimpan dalam Naskah: Membaca Kembali Manuskrip Nusantara di Dalam dan di Luar Negeri.”

Seri berikutnya akan mengulas pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip Nusantara, bagaimana naskah tersebut dibaca kembali, serta bagaimana pengetahuan di dalamnya dapat dipahami dalam konteks kehidupan masa kini.

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026

— BERSAMBUNG —

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Bumi Melayu Indragiri Hilir, Asmadi SH Ajak Generasi Muda Menjaga Marwah Pancasila

    Dari Bumi Melayu Indragiri Hilir, Asmadi SH Ajak Generasi Muda Menjaga Marwah Pancasila

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Redaksi MSM
    • visibility 158
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Kab. Indragiri Hilir – Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni kembali menjadi momentum penting bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memperkuat semangat persatuan, kebangsaan, dan pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Hari bersejarah ini mengingatkan bangsa Indonesia pada lahirnya dasar negara yang menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan […]

  • Kuasai Narkoba Jenis Sabu, Seorang Pria Di Kecamatan Simpang Dua Diamankan Polisi

    Kuasai Narkoba Jenis Sabu, Seorang Pria Di Kecamatan Simpang Dua Diamankan Polisi

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 99
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Ketapang Kalbar – Jajaran Polsek Simpang Dua Polres Ketapang mengungkap jaringan pengedar narkoba Di wilayah Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang, Kamis (30/04/2026) sekira Pukul 15.00 Wib, Anggota Polsek Simpang Dua mengamankan seorang pria di Desa Kampar Sebomban Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris, S.H., S.I.K., M.I.K., CPHR., melalui […]

  • TNI AL dan Angkatan Laut Filipina Perkuat Kerja Sama Maritim di NTNCM ke-17 photo_camera 5

    TNI AL dan Angkatan Laut Filipina Perkuat Kerja Sama Maritim di NTNCM ke-17

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 119
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan Angkatan Laut Filipina semakin memperkuat hubungan bilateral melalui Navy to Navy Cooperation Meeting (NTNCM) ke-17 yang berlangsung di Manila, Filipina. Pertemuan strategis tersebut dipimpin oleh Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Laksda TNI Yayan Sofiyan, S.T., M.Si., CHRMP., M.Tr.Opsla. bersama Chief […]

  • TTI Desak Kajati Aceh Baru Perkuat Pemberantasan Korupsi di Proyek Strategis

    TTI Desak Kajati Aceh Baru Perkuat Pemberantasan Korupsi di Proyek Strategis

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Hanafiah
    • visibility 90
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Aceh – Pergantian kepemimpinan di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh mendapat perhatian dari Transparansi Tender Indonesia (TTI). Organisasi tersebut berharap Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh yang baru, Teuku Rahmatsyah, dapat memperkuat upaya pemberantasan korupsi, terutama pada sektor pengadaan barang dan jasa serta proyek-proyek strategis di Aceh. “Harapan kami, di bawah kepemimpinan Kajati yang baru, Kejati […]

  • Reformasi Arsitektur Politik Nasional, Brigjen (Purn) MJP Hutagaol : Indonesia Perlu Bergerak Menuju Demokrasi Kepemimpinan

    Reformasi Arsitektur Politik Nasional, Brigjen (Purn) MJP Hutagaol : Indonesia Perlu Bergerak Menuju Demokrasi Kepemimpinan

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 311
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jakarta – Menjelang momentum Indonesia Emas 2045, Brigjen (Purn.) M.J.P. Hutagaol menilai Indonesia perlu melakukan reformasi arsitektur politik nasional dengan menggeser orientasi dari demokrasi elektoral menuju demokrasi kepemimpinan. Menurut mantan perwira tinggi Kopassus lulusan Akademi Militer 1986 tersebut, perjalanan panjang demokrasi Indonesia selama 80 tahun menunjukkan bahwa setiap sistem politik memiliki kelebihan sekaligus kelemahan […]

  • Rapat Kepemudaan Dusun Teratai Gampong Baroe, Kaperwil Hanafiah: Pemuda Baru Harus Pimpin dengan Bijak dan Efektif photo_camera 6

    Rapat Kepemudaan Dusun Teratai Gampong Baroe, Kaperwil Hanafiah: Pemuda Baru Harus Pimpin dengan Bijak dan Efektif

    • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
    • account_circle Hanafiah
    • visibility 109
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Banda Aceh – Rapat kepemudaan Dusun Teratai, Gampong Baroe, Kota Banda Aceh, berlangsung dengan agenda utama mengevaluasi kinerja kepengurusan pemuda dan memilih arah kepemimpinan baru. Dalam rapat tersebut, Kaperwil Media Suara Mabes Aceh wilayah Aceh, Hanafiah, turut hadir dan memberikan masukan. Ia berharap besar kepada ketua pemuda yang baru terpilih di Dusun Teratai […]

expand_less