Pelabuhan: Simpul Peradaban, Gerbang Kemakmuran Bangsa
- account_circle Suwoto
- calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
- visibility 573
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BAB VI
KESULTANAN ACEH DARUSSALAM: PENGUASA SELAT MALAKA DAN KEKUATAN MARITIM NUSANTARA
Memasuki abad ke-16, ketika Samudera Pasai mulai mengalami kemunduran akibat perubahan geopolitik dan kedatangan bangsa-bangsa Eropa, muncul sebuah kekuatan baru di ujung barat Nusantara, yaitu Kesultanan Aceh Darussalam. Berbekal letaknya yang sangat strategis di pintu masuk Selat Malaka, Aceh berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan, diplomasi, dan kekuatan maritim terpenting di Asia.
Pelabuhan-pelabuhan Aceh menjadi tempat bertemunya para saudagar dari Arab, Persia, India, Turki Utsmani, Tiongkok, hingga berbagai wilayah di Asia Tenggara. Lada, emas, kapur barus, sutra, keramik, kain, dan berbagai komoditas lainnya diperdagangkan melalui pelabuhan Aceh, menjadikannya salah satu simpul perdagangan internasional yang sangat ramai pada masanya.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Sultan Kesultanan Aceh Darussalam (1607–1636), Aceh mencapai puncak kejayaannya. Armada laut diperkuat, pelabuhan diperluas, perdagangan ditata, dan hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan serta kekuatan dunia terus dikembangkan. Aceh tidak hanya membangun kekuatan ekonomi, tetapi juga memperkuat pertahanan maritim untuk menjaga jalur perdagangan dari ancaman perompakan maupun ekspansi bangsa-bangsa Eropa.
Salah satu tokoh yang mengukir sejarah pada masa Kesultanan Aceh Darussalam adalah Laksamana Keumalahayati. Dalam sejarah maritim Indonesia, beliau dikenal sebagai salah satu laksamana perempuan pertama di dunia yang memimpin armada laut. Pada tahun 1599, armada yang dipimpinnya berhasil menghadapi ekspedisi Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman. Dalam pertempuran tersebut, Cornelis de Houtman tewas, sebuah peristiwa yang menjadi bukti bahwa Aceh memiliki kekuatan maritim yang disegani dan mampu mempertahankan kedaulatan serta keamanan jalur perdagangannya.
Keumalahayati juga memimpin Pasukan Inong Balee, yang terdiri atas para perempuan pejuang. Kiprahnya menunjukkan bahwa pertahanan maritim Nusantara dibangun oleh seluruh elemen masyarakat yang memiliki keberanian, disiplin, dan semangat pengabdian dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Kejayaan Aceh membuktikan bahwa pelabuhan memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat kapal berlabuh. Pelabuhan adalah pusat ekonomi, diplomasi, pendidikan, pertahanan, dan peradaban. Dari pelabuhan lahir kemakmuran; melalui pelabuhan pula kedaulatan harus dipertahankan.
Pengalaman Kesultanan Aceh memberikan pelajaran yang tetap relevan hingga saat ini. Sebuah negara maritim yang ingin menjadi pemain penting di tingkat global tidak cukup hanya memiliki pelabuhan yang besar. Negara tersebut harus mampu menjamin keamanan jalur pelayaran, membangun kepercayaan mitra dagang, mengembangkan sumber daya manusia, serta memanfaatkan posisi geografisnya sebagai kekuatan strategis.
Warisan Kesultanan Aceh Darussalam menunjukkan bahwa penguasaan pelabuhan dan jalur perdagangan bukan semata persoalan ekonomi. Keduanya merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjaga kemakmuran, memperluas pengaruh, dan mempertahankan kedaulatan
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar