Membaca Perang Abad Ke 21: Perang Sudah Berubah, Dari Medan Tempur Menuju Sistem Kehidupan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 116
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Perang pada abad ke-21 tidak lagi semata-mata berbicara tentang pasukan, tank, kapal perang, pesawat tempur, rudal, maupun perebutan wilayah. Perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan strategis membuat konflik modern semakin melibatkan berbagai domain, mulai dari darat, laut, udara, ruang angkasa, siber, informasi hingga ekonomi.
Pandangan tersebut disampaikan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol 86 melalui tulisan seri “Memahami Perang Abad Ke-21” dengan tema “Perang Sudah Berubah: Dari Medan Tempur Menuju Sistem Kehidupan”, yang disusun di Jakarta, 4 September 2026.
Menurut Hutagaol, perubahan karakter perang menuntut perubahan cara sebuah negara membaca ancaman. Sasaran konflik modern tidak selalu berupa wilayah atau instalasi militer, tetapi dapat menyasar sistem yang menopang kehidupan suatu negara.
“Perang tidak selalu dimulai dengan tembakan. Ia dapat dimulai ketika sebuah bangsa perlahan kehilangan kemampuan menentukan nasibnya sendiri.”
Sasaran Perang Modern Tidak Selalu Terlihat
Dalam perspektif tersebut, energi, komunikasi, data, pelabuhan, rantai pasok, sistem keuangan, infrastruktur kritis hingga ruang informasi merupakan bagian dari sistem strategis yang berpengaruh terhadap ketahanan nasional.
Gangguan terhadap satu sistem dapat menimbulkan efek berantai terhadap sistem lainnya. Energi memengaruhi industri, industri berkaitan dengan ekonomi, sementara ekonomi berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Data juga memengaruhi proses pengambilan keputusan, sedangkan informasi dapat membentuk persepsi publik dan pada akhirnya berdampak terhadap stabilitas.
Karena itu, menurut Hutagaol, pembacaan terhadap perang modern tidak cukup hanya dengan pertanyaan “siapa menyerang siapa”, tetapi juga harus melihat sistem apa yang sedang dipengaruhi, dilemahkan atau dikendalikan.
Ancaman Semakin Lintas Domain
Perkembangan latihan militer Indonesia pada 2026 menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap ancaman lintas domain.
Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield (SGS) 2026 resmi dibuka pada 31 Agustus 2026 dan berlangsung hingga 11 September 2026. Latihan tersebut melibatkan 4.743 personel multinasional dari Indonesia dan negara-negara mitra serta 21 negara pengirim pasukan.
TNI menyebut dinamika keamanan Indo-Pasifik yang semakin kompleks dan multidimensi membutuhkan penguatan kolaborasi, interoperabilitas dan kesiapsiagaan.
Di lingkungan TNI Angkatan Udara, karakter ancaman modern juga menjadi perhatian melalui Gladi Posko Latihan Angkasa Yudha 2026. Latihan tersebut menguji kesiapan perencanaan, komando dan pengendalian serta integrasi operasi udara menghadapi ancaman yang kompleks dan multi-domain, termasuk simulasi penggunaan UAV serta ancaman dan respons terhadap serangan siber.
Domain Adalah Medan, Sistem Adalah Kekuatan
Hutagaol menilai darat, laut, udara, siber dan ruang angkasa merupakan domain tempat kekuatan bekerja. Namun di balik seluruh domain tersebut terdapat fondasi yang menopang kehidupan sebuah negara.
Energi menghidupkan sistem, data menghubungkan sistem, ekonomi menggerakkan sistem, informasi membentuk persepsi, sedangkan infrastruktur menopang kehidupan. Pada akhirnya, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.
Dengan perspektif tersebut, perang modern tidak cukup dibaca sebagai perebutan wilayah. Kemampuan sebuah negara untuk tetap bergerak, berproduksi, berkomunikasi, mengambil keputusan dan mempertahankan kehidupan masyarakat dalam situasi krisis juga menjadi bagian penting dari pertahanan nasional.
Indonesia Perlu Membaca Kekuatan dan Kerentanannya
Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut luas, jalur perdagangan strategis, sumber daya alam dan populasi besar, Indonesia memiliki modal strategis yang kuat.
Namun, setiap kekuatan juga dapat berubah menjadi kerentanan apabila tidak didukung sistem yang tangguh.
Karena itu, sejumlah aspek perlu menjadi perhatian, mulai dari keamanan energi dan pangan, perlindungan data strategis, ketahanan komunikasi, rantai pasok, infrastruktur kritis, ketahanan ekonomi hingga kemampuan masyarakat menghadapi manipulasi informasi.
Menuju Konsep “Perang Fondasi”
Salah satu gagasan utama Hutagaol adalah konsep “Perang Fondasi”, yakni pendekatan untuk membaca perang dari lapisan yang lebih mendasar.
Konsep tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan multi-domain operation, melainkan menjadi perspektif dalam memahami sumber kekuatan yang menopang berbagai domain.
Jika multi-domain menjelaskan ruang dan integrasi operasi, maka “Perang Fondasi” diarahkan untuk melihat kekuatan dasar yang membuat suatu negara mampu bertahan, berfungsi dan mengambil keputusan secara mandiri.
Pemikiran tersebut sekaligus menjadi pengantar menuju seri berikutnya bertema “Perang Tanpa Pernyataan Perang.”
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah, mungkinkah konflik strategis paling menentukan pada abad ke-21 berlangsung tanpa pernah secara resmi disebut sebagai perang?
Bersambung.
Jakarta, 4 September 2026
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol 86
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar