Ilmu Membagi: Geostrategi Jiwa dan Masa Depan Peradaban
- account_circle Suwoto
- calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
- visibility 164
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Di tengah dinamika global yang terus bergerak cepat, Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol menyampaikan sebuah refleksi mendalam mengenai arah peradaban manusia melalui tulisan berjudul “Ilmu Membagi: Geostrategi Jiwa dan Masa Depan Peradaban” yang diterbitkan pada 29 Juni 2026.
Dalam tulisannya, MJP Hutagaol menyoroti kecenderungan dunia modern yang semakin menitikberatkan pertumbuhan ekonomi, perluasan pengaruh, dan akumulasi keuntungan, namun dinilai mulai mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurutnya, ketika segala sesuatu diukur dengan angka, harga, dan manfaat semata, manusia berisiko kehilangan makna sebagai pribadi dan hanya dipandang sebagai data, pasar, maupun statistik.
Ia berpandangan bahwa krisis peradaban bukan bermula dari berkurangnya kekayaan, melainkan ketika manusia kehilangan rasa kemanusiaan dan batas moral dalam menjalani kehidupan.
Dalam refleksinya, MJP Hutagaol juga mengangkat berbagai nilai luhur budaya Nusantara, seperti falsafah eling lan waspada dari Jawa, silih asih, silih asah, silih asuh dari Sunda, nilai siri’ masyarakat Bugis, keseimbangan hidup masyarakat Bali, penghormatan terhadap alam oleh masyarakat Dayak, hingga pentingnya adab dalam budaya Melayu. Menurutnya, seluruh kearifan tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni mengajarkan keseimbangan, kasih sayang, serta pengendalian diri.
Melalui analogi ilmu berhitung, ia menjelaskan bahwa ilmu tambah melahirkan pertumbuhan, ilmu kali menghadirkan kekuatan, ilmu kurang menumbuhkan kebijaksanaan, sedangkan ilmu bagi menjadi puncak nilai kehidupan karena melahirkan kasih.
Menurutnya, membagi bukan sekadar berbagi materi, melainkan membagi kesempatan, perlindungan, ilmu pengetahuan, martabat, serta harapan kepada sesama.
Ia juga menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Kepercayaan tersebut, menurutnya, lahir ketika masyarakat merasa diperlakukan secara adil, didengar aspirasinya, memperoleh rasa aman, serta memiliki harapan terhadap masa depan.
Dalam bagian akhir tulisannya, MJP Hutagaol mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan semangat berbagi sebagai landasan membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ia menutup refleksinya dengan sebuah pesan filosofis bahwa manusia pada akhirnya tidak dikenang dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang berhasil dialirkan kepada sesama.
“Ilmu tambah melahirkan pertumbuhan. Ilmu kali melahirkan kekuatan. Ilmu kurang melahirkan kebijaksanaan. Ilmu bagi melahirkan kasih. Dan kasih adalah satu-satunya kekuatan yang ketika dibagikan tidak pernah berkurang,” demikian pesan penutup dalam refleksi tersebut.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan opini dan refleksi pribadi Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis dan dimuat sebagai bagian dari ruang pemikiran untuk memperkaya diskursus mengenai nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan pembangunan peradaban.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar