Dari Membaca Bintang Menuju Perang Bintang: Refleksi Peradaban, Teknologi, dan Masa Depan Manusia
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
- visibility 149
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Jakarta – Perjalanan manusia dari sekadar membaca gugusan bintang hingga membangun satelit dan kecerdasan buatan (AI) di ruang angkasa menjadi refleksi penting tentang arah peradaban modern. Hal tersebut disampaikan Brigjen Purn. MJP Hutagaol dalam tulisannya yang berjudul “Dari Membaca Bintang Menuju Perang Bintang” di Jakarta, 25 Mei 2026.
Menurut MJP Hutagaol, sejak awal peradaban manusia selalu memandang langit sebagai sumber pengetahuan, petunjuk arah, hingga simbol spiritual. Berbagai peradaban besar dunia seperti Mesir Kuno, Romawi, Maya, Cina, hingga Nusantara memiliki hubungan erat dengan langit sebagai bagian dari kehidupan dan perkembangan peradaban.
Di Nusantara sendiri, para pelaut Bugis, Makassar, dan pelaut tradisional lainnya telah memanfaatkan gugusan bintang sebagai panduan navigasi jauh sebelum hadirnya teknologi modern. Tradisi seperti Pranata Mangsa di Jawa maupun kosmologi Batak menunjukkan bahwa langit dipahami sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan manusia.
“Sejak dahulu manusia memandang langit bukan sekadar ruang kosong, melainkan sumber arah, harapan, pengetahuan, dan kebijaksanaan,” tulisnya.
Namun, perkembangan ilmu pengetahuan mengubah cara manusia memandang langit. Dimulai dari penemuan teleskop oleh Galileo Galilei hingga era peluncuran satelit dan eksplorasi luar angkasa, langit tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan, tetapi mulai menjadi wilayah strategis yang diperebutkan.
Momentum penting terjadi saat Uni Soviet meluncurkan Sputnik pada 1957 yang menandai dimulainya perlombaan antariksa dunia. Persaingan kemudian berlanjut melalui berbagai program luar angkasa yang menjadikan ruang angkasa sebagai bagian dari arsitektur kekuatan global.
Puncak simbol kemajuan tersebut terlihat ketika manusia berhasil mendarat di Bulan melalui Program Apollo Amerika Serikat pada 1969. Peristiwa itu membuktikan bahwa batas-batas yang sebelumnya dianggap mustahil dapat ditembus melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun demikian, MJP Hutagaol mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan setiap wilayah baru yang berhasil dijangkau manusia pada akhirnya berpotensi menjadi arena persaingan dan perebutan pengaruh.
Saat ini, ribuan satelit mengorbit bumi dan menjadi tulang punggung komunikasi, navigasi, prediksi cuaca, internet, hingga sistem pertahanan negara. Ketergantungan dunia terhadap teknologi satelit menjadikan ruang angkasa memiliki nilai strategis yang sangat tinggi.
“Langit modern tidak lagi netral. Ia telah menjadi fondasi sistem kehidupan modern manusia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini mulai terintegrasi dengan sistem pertahanan, pengelolaan data, pengendalian drone, hingga analisis strategi militer. Menurutnya, kombinasi antara penguasaan data, AI, satelit, dan komunikasi global akan menjadi faktor utama dalam persaingan global masa depan.
Dalam perspektif yang ia sebut sebagai “Perang Fondasi”, ruang angkasa tidak hanya menjadi arena teknologi, tetapi juga medan perebutan tiga fondasi utama dunia modern, yakni energi, data, dan persepsi.
Energi menjadi penggerak seluruh sistem teknologi modern. Data menjadi saraf utama kehidupan digital. Sementara persepsi menjadi faktor yang menentukan bagaimana manusia memahami dan merespons realitas.
“Siapa yang menguasai data akan memiliki kemampuan membaca, memprediksi, dan mempengaruhi dunia lebih cepat dibanding pihak lain,” tulisnya.
Meski demikian, MJP Hutagaol menegaskan bahwa tulisan tersebut bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan sebagai pengingat bahwa kemajuan teknologi harus selalu diimbangi dengan tanggung jawab moral.
Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa teknologi yang diciptakan manusia dapat memberikan manfaat besar, tetapi juga berpotensi menjadi ancaman apabila tidak disertai kebijaksanaan dalam penggunaannya.
Ia mencontohkan bom atom, media sosial, hingga AI yang pada satu sisi membawa kemajuan, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru bagi peradaban manusia.
“Peradaban besar tidak runtuh karena kekurangan teknologi, tetapi karena kehilangan keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan,” tegasnya.
Pada bagian penutup, MJP Hutagaol menilai bahwa tantangan terbesar manusia modern bukan lagi bagaimana mencapai langit, melainkan bagaimana tetap mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan ketika berhasil menguasai teknologi yang semakin canggih.
“Langit akan selalu menjadi cermin. Bukan hanya untuk melihat sejauh mana manusia mampu terbang, tetapi untuk melihat apakah manusia masih ingat arah pulang,” pungkasnya.
(Suwoto)
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar