Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Ketika F = m × a Membaca Indonesia: Besarnya Sumber Daya Belum Tentu Mempercepat Kemajuan

Ketika F = m × a Membaca Indonesia: Besarnya Sumber Daya Belum Tentu Mempercepat Kemajuan

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
  • visibility 150
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Besarnya sumber daya yang dimiliki suatu bangsa tidak otomatis menghasilkan percepatan kemajuan. Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol melalui tulisan berjudul “Ketika F = m × a Membaca Indonesia: Mengapa Besarnya Sumber Daya Belum Tentu Menghasilkan Percepatan Kemajuan”, yang ditulis di Jakarta, 30 Agustus 2026.

Dalam tulisannya, MJP Hutagaol menggunakan Hukum II Newton, F = m × a, sebagai analogi untuk melihat persoalan pembangunan Indonesia secara sistemik. Ia menegaskan bahwa rumus fisika tersebut tidak digunakan sebagai persamaan matematis untuk mengukur pembangunan negara, melainkan sebagai kerangka berpikir mengenai potensi, kekuatan, hambatan, arah kebijakan dan hasil pembangunan.

Dalam fisika, Hukum II Newton menjelaskan hubungan antara resultan gaya, massa dan percepatan. Konsep tersebut kemudian digunakan untuk mengajukan pertanyaan: mengapa negara dengan sumber daya besar belum tentu memiliki percepatan kemajuan yang sebanding?

Massa Strategis Besar Belum Tentu Berarti Cepat

Menurut Hutagaol, Indonesia memiliki “massa strategis” yang besar, antara lain penduduk, wilayah, sumber daya alam, pangan, energi, mineral, modal, industri, teknologi, infrastruktur, birokrasi dan institusi.

Namun, besarnya potensi tersebut tidak cukup apabila berbagai kekuatan yang dimiliki tidak mampu diubah menjadi gerakan yang searah.

“Besar tidak otomatis berarti cepat,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam pemikirannya.

Karena itu, persoalan pembangunan tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar sumber daya yang tersedia, tetapi juga seberapa efektif sumber daya tersebut dikonversi menjadi kemajuan.

Resultan Kekuatan Menentukan Arah

Hutagaol menggunakan konsep resultan gaya untuk menggambarkan kondisi ketika berbagai kekuatan dalam sistem pembangunan bekerja secara bersamaan.

Banyaknya program, anggaran, lembaga, regulasi dan sumber daya manusia belum tentu menghasilkan percepatan apabila bergerak dengan arah yang berbeda.

“Persoalannya bukan selalu kekurangan gaya. Bisa jadi gaya kita besar, tetapi resultannya kecil,” demikian inti pemikiran tersebut.

Dalam konteks pembangunan, sebuah kebijakan dapat kehilangan efektivitas apabila berhadapan dengan kebijakan lain yang menciptakan hambatan. Hal serupa dapat terjadi pada investasi, pendidikan, industri maupun pengembangan sumber daya manusia ketika sistem pendukungnya belum berjalan selaras.

Mengurangi “Gesekan Sistemik”

Selain persoalan arah, tulisan tersebut menyoroti berbagai “gesekan sistemik” yang dapat mengurangi efektivitas energi pembangunan.

Beberapa di antaranya adalah birokrasi yang panjang, regulasi tumpang tindih, ketidaksinkronan data, korupsi, lemahnya koordinasi, ketidakpastian hukum, distribusi yang tidak efisien serta proses pengambilan keputusan yang lambat.

Dalam perspektif tersebut, reformasi tidak selalu berarti menambah program baru. Percepatan dapat pula dilakukan dengan mengurangi hambatan yang sudah ada melalui penyederhanaan prosedur, integrasi data, kejelasan kewenangan, pemangkasan rantai keputusan dan pemanfaatan teknologi.

Pesan yang ditekankan adalah: “Jangan hanya memperbesar gaya. Kurangi juga gesekan.”

Melihat Indonesia sebagai Sistem

Kerangka berpikir tersebut kemudian diterapkan pada berbagai sektor seperti pangan, energi, pendidikan, industri, pertahanan, kesehatan dan teknologi.

Dalam sektor pangan, misalnya, keberhasilan tidak cukup dilihat dari jumlah produksi. Pembiayaan, pupuk, teknologi, gudang, pengolahan, distribusi, informasi harga dan akses pasar juga menjadi bagian dari sistem yang saling berkaitan.

Pertanyaan yang ditawarkan dalam kerangka tersebut antara lain: apa kekuatan yang dimiliki, apa faktor pendorong dan penghambatnya, apakah kekuatan tersebut bergerak searah, ke mana resultannya diarahkan, serta apakah menghasilkan percepatan sesuai tujuan pembangunan.

Newton sebagai Kerangka Berpikir

Hutagaol menegaskan bahwa F = m × a tidak dapat diterapkan secara literal sebagai formula pembangunan negara. Masyarakat jauh lebih kompleks daripada benda fisik karena melibatkan manusia dengan kesadaran, kepentingan, nilai, budaya, konflik dan kreativitas.

Karena itu, konsep Newton ditempatkan sebagai analogi untuk membantu melihat persoalan secara sistemik, bukan sebagai hukum sosial.

Pada akhirnya, tulisan tersebut menekankan bahwa Indonesia memiliki modal dasar yang besar untuk menjadi bangsa yang kuat. Tantangannya adalah mengubah berbagai kekuatan tersebut menjadi gerakan bersama yang searah dengan tujuan pembangunan nasional.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya terletak pada besarnya anggaran, banyaknya program atau besarnya sumber daya, tetapi juga pada kemampuan mengurangi gesekan, menyelaraskan kekuatan dan memastikan resultan bergerak menuju tujuan yang jelas.

Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan gagasan/opini Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol. Penggunaan konsep F = m × a ditempatkan sebagai analogi untuk membangun kerangka berpikir, bukan penerapan literal Hukum II Newton terhadap sistem sosial atau pembangunan negara.

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gencarkan Pelayanan Kesehatan Preventif, Rumkit Bhayangkara Hadirkan Posyandu Keliling bagi Semua Kalangan photo_camera 4

    Gencarkan Pelayanan Kesehatan Preventif, Rumkit Bhayangkara Hadirkan Posyandu Keliling bagi Semua Kalangan

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 136
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Palangka Raya – Dalam rangka menggencarkan pelayanan kesehatan preventif kepada masyarakat, Rumkit Bhayangkara Tingkat III Palangka Raya terus menghadirkan layanan kesehatan melalui kegiatan Posyandu Keliling yang menyasar seluruh kalangan masyarakat, mulai dari ibu hamil, balita hingga lansia, Selasa (19/5/2026) pagi. Kegiatan Posyandu Keliling tersebut dilaksanakan di wilayah Pahandut Seberang, Kota Palangka Raya, sebagai bentuk […]

  • Dari Paris Hingga Merauke, Mencari Benang Merah Kedaulatan Indonesia di Tengah Perubahan Dunia

    Dari Paris Hingga Merauke, Mencari Benang Merah Kedaulatan Indonesia di Tengah Perubahan Dunia

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 472
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jakarta – Di tengah perubahan geopolitik, persaingan teknologi global, krisis pangan, hingga perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Indonesia dinilai tengah berupaya membangun fondasi kedaulatan nasional yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Pandangan tersebut disampaikan Brigjen Purn. MJP Hutagaol ’86 dalam tulisannya berjudul “Dari Paris Hingga Merauke: Mencari Benang Merah Kedaulatan Indonesia di Tengah […]

  • Ayatulloh Ukir Sejarah, Dari Perjuangan Usaha Kuliner hingga Terpilih Memimpin Desa Pahlawan Setia

    Ayatulloh Ukir Sejarah, Dari Perjuangan Usaha Kuliner hingga Terpilih Memimpin Desa Pahlawan Setia

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle Aan Hermawan
    • visibility 99
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pahlawan Setia— Perjalanan Ayatulloh menuju kursi Kepala Desa Pahlawan Setia menjadi perhatian masyarakat. Sosok yang dikenal dalam perjalanan hidupnya pernah menjalani usaha kuliner sederhana tersebut kini dipercaya memimpin Desa Pahlawan Setia untuk periode 2026-2034 Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kisah perjuangan Ayatulloh dalam menapaki kehidupan bermasyarakat hingga akhirnya terpilih sebagai Kepala Desa Pahlawan […]

  • Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah; Masjid tidak hanya dibangun fisiknya, tapi pusat pembentukan karakter generasi

    Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah; Masjid tidak hanya dibangun fisiknya, tapi pusat pembentukan karakter generasi

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle Sumardius
    • visibility 178
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Koto Tuo, Agam – Masjid tidak cukup hanya dibangun dan direnovasi secara fisik. Lebih dari itu, masjid harus dihidupkan dengan berbagai aktivitas keagamaan, pembinaan umat, serta menjadi pusat pembentukan karakter generasi. Hal tersebut menjadi salah satu pesan dalam Training Manajemen Masjid Komprehensif bagi pengurus masjid se-Kecamatan IV Koto, yang digelar di Aula Kantor Camat IV […]

  • Menelusuri Jalan Panjang Menuju Sumpah Pemuda 1928, dari Perlawanan Nusantara Hingga Kesadaran Indonesia

    Menelusuri Jalan Panjang Menuju Sumpah Pemuda 1928, dari Perlawanan Nusantara Hingga Kesadaran Indonesia

    • calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 89
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta — Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober bukanlah peristiwa yang lahir secara tiba-tiba. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, merupakan hasil perjalanan panjang yang dipengaruhi perlawanan terhadap kolonialisme, perkembangan pendidikan, pers, serta lahirnya organisasi pergerakan. Gagasan tersebut diulas Brigjen (Purn) MJP Hutagaol dalam esai sejarah-reflektif […]

  • Menko Polkam RI Apresiasi Sinergi Polda Kepri Jaga Stabilitas Keamanan Dan Dukung Iklim Investasi photo_camera 6

    Menko Polkam RI Apresiasi Sinergi Polda Kepri Jaga Stabilitas Keamanan Dan Dukung Iklim Investasi

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Agus Salim
    • visibility 174
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Batam – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, mengapresiasi sinergi TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas keamanan di Provinsi Kepulauan Riau. Menurutnya, keamanan yang kondusif merupakan fondasi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kepercayaan investor di wilayah perbatasan. ‎ ‎Apresiasi […]

expand_less