Menelusuri Jalan Panjang Menuju Sumpah Pemuda 1928, dari Perlawanan Nusantara Hingga Kesadaran Indonesia
- account_circle Suwoto
- calendar_month 31 menit yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober bukanlah peristiwa yang lahir secara tiba-tiba. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, merupakan hasil perjalanan panjang yang dipengaruhi perlawanan terhadap kolonialisme, perkembangan pendidikan, pers, serta lahirnya organisasi pergerakan.
Gagasan tersebut diulas Brigjen (Purn) MJP Hutagaol dalam esai sejarah-reflektif berjudul “Dari Perlawanan Nusantara Menuju Kesadaran Indonesia: Perjalanan Panjang Sebelum Sumpah Pemuda 1928”, yang disiapkan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026.
Dalam tulisannya, Hutagaol menjelaskan bahwa berbagai perlawanan di Nusantara, seperti Perang Diponegoro, Perang Padri, dan Perang Aceh, merupakan bagian penting dari sejarah penentangan terhadap kekuasaan kolonial. Namun, setiap perlawanan memiliki latar belakang dan tujuan berbeda sehingga tidak dapat serta-merta disamakan dengan konsep nasionalisme Indonesia modern.
Memasuki abad ke-20, perkembangan pendidikan, pers, komunikasi, dan organisasi modern memperluas ruang pertukaran gagasan. Perjuangan tidak lagi hanya dilakukan melalui perlawanan bersenjata, tetapi juga melalui tulisan, pendidikan, kegiatan jurnalistik, serta gerakan sosial dan politik.
Sejumlah tokoh dan organisasi turut mewarnai proses tersebut. Novel Max Havelaar karya Multatuli yang terbit pada 1860 menjadi salah satu karya penting dalam kritik terhadap praktik kolonial. Sementara itu, Budi Utomo yang berdiri pada 20 Mei 1908, perkembangan Sarekat Islam, perjuangan R.A. Kartini dalam bidang pendidikan, serta pendirian Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara pada 1922 menjadi bagian dari dinamika perubahan masyarakat.
Menurut kerangka pemikiran dalam esai tersebut, tumbuhnya kesadaran kebangsaan merupakan proses kolektif yang melibatkan beragam tokoh, kelompok, dan pemikiran, bukan hasil perjuangan satu pihak semata.
Indonesia dan Bahasa Persatuan
Perkembangan istilah Indonesia dari sebutan geografis dan ilmiah menjadi identitas politik juga menjadi bagian penting perjalanan nasionalisme. Penggunaan istilah tersebut semakin berkembang di kalangan terpelajar dan organisasi pergerakan, termasuk Perhimpunan Indonesia di Belanda.
Dalam bidang bahasa, Bahasa Melayu telah lama menjadi sarana komunikasi antarkawasan Nusantara. Perkembangannya sebagai Bahasa Indonesia berkaitan erat dengan upaya membangun identitas bersama yang melampaui perbedaan daerah dan bahasa.
Mohammad Tabrani menjadi salah satu tokoh yang memperjuangkan penggunaan nama Bahasa Indonesia dalam pembahasan kebangsaan pada masa pergerakan pemuda.
Kongres Pemuda Pertama yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 1926 menjadi salah satu tahap penting dalam upaya memperkuat kerja sama antarkelompok pemuda. Proses tersebut berlanjut pada Kongres Pemuda Kedua, 27–28 Oktober 1928, yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.
Melalui ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan, para pemuda menegaskan komitmen kebangsaan yang melampaui batas kedaerahan. Meski demikian, kemerdekaan Indonesia baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 setelah melalui perjuangan panjang berikutnya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar