Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 8: MJP Hutagaol Dorong Generasi Muda Mengolah Warisan untuk Masa Depan

Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 8: MJP Hutagaol Dorong Generasi Muda Mengolah Warisan untuk Masa Depan

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
  • visibility 109
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta – Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol menutup rangkaian tulisan Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 1–8 melalui seri terakhir bertajuk “Dari Warisan Menuju Masa Depan”. Tulisan yang bertanggal Jakarta, 29 Agustus 2026 itu mengajak pembaca melihat warisan peradaban bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengalaman, pengetahuan, nilai, teknologi, kelembagaan, dan cara manusia menjawab tantangan pada zamannya.

Dalam seri penutup tersebut, MJP Hutagaol menegaskan bahwa mempelajari masa lalu bukan berarti membawa kembali kehidupan masa lalu secara utuh. Perubahan lingkungan, teknologi, kependudukan, ekonomi, hubungan antarbangsa, hingga kondisi alam membuat setiap generasi harus mampu membaca zamannya sendiri.

Menurutnya, tujuan mempelajari Pengetahuan Peradaban Nusantara adalah memahami bagaimana masyarakat masa lalu membaca dunia, kemudian menggunakan pelajaran tersebut untuk memahami persoalan masa kini.

“Masa lalu bukan tempat untuk kembali,” menjadi salah satu gagasan utama dalam tulisan tersebut.

MJP Hutagaol memandang warisan sebagai sesuatu yang terus dipilih, diolah, dan diwariskan oleh setiap generasi. Karena itu, tidak seluruh warisan harus diperlakukan dengan cara yang sama.

Dalam seri terakhir itu, ia menawarkan lima kemungkinan dalam menyikapi warisan, yaitu mempertahankan, mengoreksi, mengembangkan, meninggalkan, dan menciptakan yang baru.

Warisan yang masih relevan, bermanfaat, tidak merugikan, serta memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dapat dipertahankan. Namun, mempertahankan tidak berarti membekukannya dari perubahan.

Sementara itu, terhadap pengetahuan atau aturan yang memiliki kekeliruan, pendekatan yang ditawarkan adalah koreksi. MJP Hutagaol menilai koreksi tidak semestinya dipandang sebagai bentuk penghinaan terhadap leluhur, melainkan bagian dari perkembangan pengetahuan.

Adapun pengetahuan yang masih memiliki dasar kuat dapat dikembangkan dengan mempertemukannya dengan ilmu dan teknologi kontemporer.

Ia mencontohkan pengetahuan mengenai tanaman yang dapat dikaji bersama botani, kimia dan farmakologi. Pengetahuan mengenai laut dapat dikembangkan melalui oseanografi, meteorologi dan teknologi navigasi. Demikian pula pengetahuan pertanian dapat diperkaya dengan ilmu tanah, data iklim, biologi dan teknologi pangan.

Selain mempertahankan, mengoreksi dan mengembangkan, MJP Hutagaol juga menekankan pentingnya keberanian meninggalkan praktik yang sudah tidak layak.

Menurut gagasan yang disampaikan, praktik yang terbukti merugikan, tidak adil, membahayakan manusia, merusak lingkungan atau tidak lagi memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan tidak harus dipaksakan untuk terus dipertahankan hanya karena merupakan warisan masa lalu.

“Peradaban tumbuh bukan hanya dari kemampuan mempertahankan, tetapi juga dari kemampuan meninggalkan yang tidak lagi bernilai,” demikian salah satu pokok pemikirannya.

Di sisi lain, generasi masa kini juga dituntut menciptakan pengetahuan baru. Tantangan seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence, perubahan iklim, krisis ekologi, perubahan demografi, ketahanan pangan, energi, data, teknologi biomedis, perubahan ekonomi dan persaingan pengaruh global dinilai membutuhkan jawaban yang tidak seluruhnya tersedia dalam pengetahuan masa lalu.

Salah satu konsep yang mendapat perhatian dalam seri terakhir adalah “daya olah”.

MJP Hutagaol menggambarkan Nusantara sebagai ruang pertemuan berbagai masyarakat dan peradaban selama berabad-abad. Pergerakan manusia, bahasa, agama, tanaman, teknologi dan pengetahuan menghasilkan proses pertukaran yang tidak selalu berarti penerimaan secara utuh.

Pengaruh dari luar, menurut gagasan tersebut, dapat dipilih, diubah, disesuaikan, dipadukan dan diberi makna baru oleh masyarakat penerimanya.

Karena itu, keaslian atau otentisitas tidak semata-mata dipahami sebagai sesuatu yang harus berasal dari satu sumber sejak awal. Kemampuan mengolah pengaruh menjadi sesuatu yang bermakna bagi kehidupan masyarakat juga menjadi bagian penting dari pembentukan identitas budaya.

Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan bahwa unsur asing tidak otomatis buruk, sementara unsur lokal juga tidak otomatis benar. Tradisional tidak selalu berarti bijaksana dan modern tidak selalu berarti lebih baik.

Yang diperlukan adalah kemampuan memeriksa, menimbang dan melihat dampaknya dalam kehidupan nyata.

Seri terakhir juga kembali mengangkat konsep “roso” atau rasa dan pengalaman manusia. Namun, MJP Hutagaol memberikan batas yang tegas bahwa pengalaman subjektif tidak seharusnya secara otomatis menjadi ukuran kebenaran.

Dalam kerangka yang ditawarkannya, rasa dapat menjadi titik awal untuk menangkap pengalaman, tetapi selanjutnya harus diperiksa dengan akal, dibatasi oleh data, dimaknai melalui tafsir, diuji melalui verifikasi, ditimbang dengan budi dan diwujudkan melalui laku.

Ia menggunakan istilah “roso ilmiah” sebagai nama kerja bagi sikap yang berusaha tidak membuang pengalaman manusia, tetapi juga tidak menjadikan pengalaman sebagai pengganti pembuktian.

Konsep tersebut, dalam tulisan ini, tidak diposisikan sebagai deklarasi lahirnya suatu disiplin ilmu baru, melainkan sebagai kerangka sikap dalam memperlakukan pengalaman dan pengetahuan secara kritis.

Menurut MJP Hutagaol, pengetahuan saja tidak cukup untuk membangun peradaban. Kemampuan yang lahir dari pengetahuan dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda, sehingga diperlukan arah moral dan tanggung jawab.

Karena itu, ia merumuskan pentingnya keterhubungan antara:

Pengetahuan + Budi + Tanggung Jawab + Laku.

Ukuran akhirnya adalah dampak.

Sebuah gagasan, tradisi maupun teknologi perlu dilihat bukan hanya dari bagaimana ia terdengar atau seberapa canggih bentuknya, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap manusia, masyarakat, lingkungan dan generasi berikutnya.

Dalam kerangka tersebut, laku menjadi penghubung antara pengetahuan dan kehidupan nyata, sementara dampak menjadi dasar untuk mengevaluasi kembali keputusan yang telah diambil.

Perjalanan Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 1–8 dirangkum melalui sebuah rantai pemikiran:

Jejak → Sumber → Pengalaman → Pengetahuan → Tafsir → Pemeriksaan → Pemilahan → Budi → Keputusan → Laku → Dampak → Koreksi → Pewarisan → Penciptaan Pengetahuan Baru.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa proses pengetahuan tidak berhenti pada penemuan atau pemahaman terhadap masa lalu. Setiap jawaban dapat melahirkan pertanyaan baru yang kemudian membutuhkan pemeriksaan dan pengetahuan berikutnya.

Pada bagian akhir, MJP Hutagaol menyebut tugas generasi sekarang bukan sekadar menjadi penjaga museum masa lalu maupun merasa lebih pintar daripada leluhur.

Tugas tersebut dirumuskan melalui sejumlah langkah: mencari yang berserak, membaca yang diwariskan, memeriksa yang diklaim, memilah yang bernilai, mengoreksi yang keliru, mengembangkan yang masih berguna, meninggalkan yang tidak lagi layak, serta menciptakan pengetahuan baru untuk menjawab zaman.

Menurutnya, penghormatan kepada leluhur tidak cukup dilakukan dengan mengulang jawaban mereka. Penghormatan justru dapat diwujudkan dengan mewarisi keberanian untuk mengamati, bertanya, belajar, mengolah, mengoreksi dan menciptakan.

Pada penutup seri, MJP Hutagaol menggunakan perumpamaan pohon. Akar diperlukan sebagai tempat berpijak, tetapi pohon tidak tumbuh dengan kembali menjadi akar. Pohon tumbuh ke atas, membentuk cabang, menumbuhkan daun dan menghasilkan buah baru, sambil tetap memperoleh kehidupan dari akarnya.

Gagasan itu kemudian dirumuskan dalam prinsip:

“Berakar tanpa terpenjara masa lalu. Terbuka tanpa kehilangan arah. Berpikir tanpa kehilangan budi. Menciptakan tanpa melupakan warisan.”

Seri 8 sekaligus menutup rangkaian Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 1–8 dengan sebuah pertanyaan yang diarahkan kepada generasi masa kini:

Pengetahuan apa yang harus kita ciptakan untuk generasi yang belum lahir?

Pertanyaan tersebut menjadi penegasan bahwa warisan peradaban bukanlah titik akhir, melainkan salah satu titik awal untuk membangun pengetahuan dan peradaban pada masa mendatang.

Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026

PENGETAHUAN PERADABAN NUSANTARA SERI 1–8

Mencari yang berserak.
Memeriksa yang diwariskan.
Memilah yang bernilai.
Mengoreksi yang keliru.
Mengembangkan yang masih berguna.
Dan menciptakan pengetahuan baru untuk menjawab zaman.

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Camat Padalarang, Kab. Bandung Barat Pimpin Upacara Hut Ke 81 RI, Ajak Warga Jaga Semangat Gotong Royong

    Camat Padalarang, Kab. Bandung Barat Pimpin Upacara Hut Ke 81 RI, Ajak Warga Jaga Semangat Gotong Royong

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle Sudirman
    • visibility 94
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jawa Barat – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Padalarang kab.Bandung Barat berlangsung khidmat. Upacara digelar di Lapangan Upacara Kecamatan Padalarang, Senin (17/8/2026) pagi. Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Hendi Setiyadi, S.STP., M.Si. memimpin langsung jalannya upacara yang diikuti oleh jajaran Forkopimcam, ASN, TNI, Polri, pelajar, dan perwakilan masyarakat se-Kecamatan […]

  • Sat Samapta Polres Ketapang Gencarkan Patroli Presisi Demi Menjaga Kondusifitas Wilayah Kota

    Sat Samapta Polres Ketapang Gencarkan Patroli Presisi Demi Menjaga Kondusifitas Wilayah Kota

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 151
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Ketapang Kalbar – Untuk mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), Anggota Sat Samapta Polres Ketapang melaksanakan kegiatan Patroli Perintis Presisi di sejumlah titik strategis wilayah Kota Ketapang, pada Senin (18/05/2026). Kegiatan patroli menyasar beberapa lokasi yang dinilai memiliki tingkat aktivitas masyarakat cukup tinggi, diantaranya Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Brigjend Katamso, Jalan DI […]

  • Waspada Epilepsi: Dampak, Penyebab, Pencegahan, dan Pengobatannya

    Waspada Epilepsi: Dampak, Penyebab, Pencegahan, dan Pengobatannya

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle Hapzon Effendi
    • visibility 238
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jakarta – Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf kronis yang masih sering disalahpahami oleh masyarakat. Banyak orang menganggap epilepsi sebagai gangguan mistis atau kutukan, padahal epilepsi adalah gangguan pada sistem kelistrikan otak yang menyebabkan kejang berulang. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga lansia. Menurut data World Health Organization (WHO), […]

  • Wamenhan Donny Ermawan Tekankan Peran Strategis ASN dalam Pertahanan Negara di Makassar

    Wamenhan Donny Ermawan Tekankan Peran Strategis ASN dalam Pertahanan Negara di Makassar

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 101
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, ​Makassar – Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto hadir mewakili Menteri Pertahanan sebagai pembicara utama dalam acara Penguatan Kapasitas ASN Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan yang bertajuk Ramadan Leadership Camp tersebut diselenggarakan di Makassar pada Minggu (22/2) dengan fokus pada penguatan kepemimpinan di bulan suci. ​Dalam paparannya yang berjudul “Pertahanan Negara dan Wawasan […]

  • Proyek Drainase di Desa Pahlawan Setia Jadi Sorotan Warga Terkait Transparansi Anggaran

    Proyek Drainase di Desa Pahlawan Setia Jadi Sorotan Warga Terkait Transparansi Anggaran

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
    • account_circle Aan Hermawan
    • visibility 82
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bekasi – Pengerjaan proyek pembangunan drainase di Kampung Lagoh, RT 01/RW 08, Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, menuai perhatian masyarakat setempat. Pasalnya, sejak awal pengerjaan dimulai, proyek tersebut diduga belum memasang papan informasi kegiatan atau plang proyek sebagai bentuk keterbukaan informasi publik. Ketiadaan plang proyek tersebut memicu pertanyaan warga terkait sumber pendanaan, volume […]

  • Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju Dalam Acara HUT RI ke 81 di Istana Negara 17 Agustus 2026

    Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju Dalam Acara HUT RI ke 81 di Istana Negara 17 Agustus 2026

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle M. Siringo Ringo
    • visibility 131
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Jakarta – Dari Monas Menuju Istana Merdeka, Kirab Bendera Pusaka Buka Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Duplikat bendera Merah Putih kemudian dibawa oleh Sultana Najwa, Purna Paskibraka 2025 yang mewakili Provinsi DKI Jakarta. Sementara itu, Aliah Sakira, Purna Paskibraka 2025 perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan, mendapat amanah membawa naskah teks Proklamasi. Dilansir dari (presidenri.go.id […]

expand_less