Breaking News
light_mode
Trending HasTags
Beranda » Opini » Organisasi yang Tidak Pernah Selesai Belajar, Kunci Membangun Institusi Adaptif

Organisasi yang Tidak Pernah Selesai Belajar, Kunci Membangun Institusi Adaptif

  • account_circle Suwoto
  • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
  • visibility 139
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MediaSuaraMabes | Jakarta — Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol kembali melanjutkan pemikiran mengenai ESTOM (Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver) melalui Seri Memahami ESTOM #16 berjudul “Organisasi yang Tidak Pernah Selesai Belajar: Dari Feedback Menuju Adaptive Organization.”

Seri ini menyoroti pentingnya mengubah pembelajaran dari sekadar pengetahuan individual pemimpin menjadi kapasitas institusi. Gagasan tersebut merupakan kelanjutan Seri #15 yang menegaskan bahwa keputusan strategis bukan kebenaran permanen, melainkan hipotesis yang harus terus diuji oleh kenyataan dan dikoreksi berdasarkan hasil serta perubahan lingkungan.

Menurut Hutagaol, organisasi dapat mengalami keberhasilan, kegagalan, krisis, operasi, kesalahan hingga improvisasi. Namun, pengalaman tersebut tidak otomatis menjadi pengetahuan institusi apabila hanya tersimpan dalam ingatan individu.

Karena itu, pembelajaran perlu bergerak melalui siklus:

Pengalaman → Evaluasi → Pelajaran → Pengetahuan → Doktrin/Sistem/Prosedur → Kapasitas Institusi.

Dengan demikian, organisasi membangun memori institusi, bukan sekadar memori orang.

Organisasi Adaptif Bukan Sekadar Terus Berubah

Hutagaol menjelaskan bahwa organisasi adaptif bukan berarti organisasi yang selalu berubah mengikuti keadaan. Adaptasi adalah kemampuan mempertahankan tujuan, membaca perubahan lingkungan, mengoreksi cara dan membangun kapasitas baru ketika diperlukan.

“Adaptasi bukan berubah demi perubahan. Adaptasi adalah mengubah cara agar fungsi dan tujuan tetap relevan.”

Untuk membangun organisasi adaptif, terdapat lima fondasi yang perlu diperkuat, yakni budaya, struktur, kepemimpinan, data, dan mekanisme koreksi. Kelima unsur tersebut harus berjalan terpadu.

Budaya tanpa data dapat berubah menjadi opini. Data tanpa keterbukaan dapat disembunyikan. Struktur tanpa kepemimpinan dapat menjadi birokrasi, sedangkan kepemimpinan tanpa mekanisme koreksi berisiko menutup kritik.

Kabar Buruk Harus Sampai kepada Pengambil Keputusan

Salah satu ciri organisasi adaptif adalah kemampuan menerima informasi yang tidak menyenangkan. Kesalahan, risiko, kegagalan dan perubahan lingkungan harus dapat disampaikan kepada pengambil keputusan.

Hutagaol menggunakan kecelakaan Space Shuttle Columbia pada 2003 sebagai salah satu ilustrasi pentingnya faktor organisasi dalam keselamatan dan pengambilan keputusan.

Pelajarannya bukan semata persoalan teknis, tetapi bagaimana informasi dan peringatan diterima, dikomunikasikan serta diterjemahkan menjadi tindakan.

Dalam konteks tersebut, kegagalan sensing tidak selalu berarti tanda tidak terlihat. Terkadang tanda sudah tersedia, tetapi organisasi tidak cukup mampu mendengar dan memprosesnya.

Karena itu, budaya adaptif membutuhkan dua hal sekaligus: keberanian berbicara dan kedewasaan mendengar.

After Action Review dan Memori Institusi

Hutagaol juga mengangkat After Action Review (AAR) sebagai mekanisme pembelajaran organisasi. Pertanyaan utamanya meliputi apa yang direncanakan, apa yang terjadi, mengapa hal tersebut terjadi, apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus diperbaiki.

Nilai AAR bukan pada panjangnya laporan, melainkan pada kemampuannya mengubah pengalaman menjadi pembelajaran untuk tindakan berikutnya.

Prinsip serupa terlihat dalam Jidoka pada Toyota Production System, yaitu membuat abnormalitas terlihat agar masalah dapat segera diperiksa dan diperbaiki.

Pesan yang ditekankan sederhana: masalah yang terlihat dapat diperbaiki, sedangkan masalah yang disembunyikan dapat berkembang.

Pemimpin Tidak Memiliki Monopoli atas Kebenaran

Dalam organisasi adaptif, kewenangan tidak berarti monopoli atas kebenaran. Pemimpin membutuhkan informasi dari pelaksana lapangan, ahli, data dan berbagai sumber lainnya.

Salah satu bentuk kepemimpinan yang lebih tinggi adalah membangun sistem yang mampu mengoreksi keputusan pemimpinnya sendiri.

Menurut Hutagaol, loyalitas bukan berarti menyembunyikan masalah atau selalu menyetujui keputusan. Loyalitas adalah membantu organisasi melihat kenyataan sebelum terlambat.

Organisasi juga perlu menetapkan trigger for review, misalnya ketika biaya melewati batas, target tidak tercapai, teknologi baru mengubah asumsi atau lingkungan mengalami perubahan signifikan.

Fungsi red team dapat digunakan untuk menguji asumsi, menemukan kelemahan, menghadirkan perspektif alternatif dan menantang sebuah rencana sebelum diuji oleh kenyataan.

Learning Velocity Menjadi Faktor Strategis

Dalam lingkungan yang berubah cepat, kemampuan belajar menjadi sumber keunggulan. Dua organisasi dengan teknologi, anggaran dan sumber daya yang relatif sama dapat menghasilkan kinerja berbeda karena memiliki kecepatan pembelajaran yang berbeda.

Siklusnya dapat dirumuskan:

Melihat → Memahami → Belajar → Memperbaiki → Menguji → Melihat Kembali.

Kemampuan tersebut disebut learning velocity, yaitu seberapa cepat organisasi mengubah pengalaman dan informasi menjadi perbaikan tindakan.

Karena itu, pertanyaan strategis bukan hanya “Seberapa besar kekuatan yang dimiliki?”, tetapi juga “Seberapa cepat kekuatan tersebut mampu belajar?”

Lesson Identified Belum Tentu Lesson Learned

Hutagaol mengingatkan bahwa laporan evaluasi, audit, kajian dan rekomendasi dapat berakhir hanya sebagai arsip.

Sebuah pelajaran benar-benar menjadi lesson learned apabila menghasilkan perubahan nyata pada keputusan, doktrin, anggaran, pelatihan, organisasi, teknologi atau prosedur.

Lesson identified belum tentu lesson learned. Pelajaran menjadi learned ketika perilaku atau kapasitas sistem benar-benar berubah.

Dari Pemimpin Hebat Menuju Institusi yang Kuat

Pada akhirnya, Seri Memahami ESTOM #16 menempatkan pembelajaran institusi sebagai tujuan yang lebih besar daripada ketergantungan kepada individu.

Institusi yang matang harus mampu membaca, berpikir, bertindak, mengukur, mengoreksi dan belajar, bahkan ketika kepemimpinan berganti.

Lima unsur ESTOM tetap menjadi fondasi:

E — Environment | S — Sensing | T — Thinking | O — Operation | M — Maneuver.

Hasil dari maneuver menjadi feedback untuk memperbaiki proses berikutnya. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada individu, tetapi berkembang menjadi kapasitas institusi.

Seri #16 sekaligus membuka pertanyaan menuju Seri Memahami ESTOM #17, yakni bagaimana negara, industri, universitas, teknologi, masyarakat dan sektor pertahanan dapat belajar serta beradaptasi bersama sebagai sebuah ekosistem adaptif.

Orang dapat pergi. Pemimpin dapat berganti. Teknologi dapat menjadi usang. Tetapi pelajaran tidak boleh ikut hilang.

Oleh: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 24 Agustus 2026

Suwoto

Jurnalis :

Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mustika Bahrun, Sutan Pengayom Makhga: Sosialisasi Pancasila & Pelantikan PD-PK Perkuat Kader di Desa Rusaba

    Mustika Bahrun, Sutan Pengayom Makhga: Sosialisasi Pancasila & Pelantikan PD-PK Perkuat Kader di Desa Rusaba

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Adi Sundari
    • visibility 137
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Pesawaran —  Anggota DPRD Provinsi Lampung Dapil III, Mustika Bahrun, S.E., M.M. (Sutan Pengayom Makhga), menggelar kegiatan Sosialisasi Ideologi Pancasila & Wawasan Kebangsaan sekaligus Pelantikan Pengurus PD dan PK di Desa Rusaba, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran. Acara berlangsung khidmat dan meriah, dihadiri tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, perangkat desa, serta warga […]

  • Kapolda Kepri Hadiri Pembukaan Persidangan Sosek Malindo ke 22 di Batam photo_camera 6

    Kapolda Kepri Hadiri Pembukaan Persidangan Sosek Malindo ke 22 di Batam

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Wajidi Adiansyah
    • visibility 162
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, ‎Batam , Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Safrudin, S.I.K., M.H., menghadiri Pembukaan Persidangan ke-22, Kelompok Kerja Pembangunan Sosial Ekonomi Malaysia–Indonesia (SOSEK MALINDO) Tahun 2026 yang berlangsung di Grand Ballroom Sisoding Wyndham Panbil Hotel, Kota Batam, Senin (22/6/2026). ‎ ‎Persidangan SOSEK MALINDO ke-22 menjadi forum strategis yang mempertemukan delegasi dari Kepulauan Riau, Riau, Johor, dan […]

  • Pastikan Kegiatan Car Free Day Berjalan Lancar, Kasat Lantas Polres Ketapang Cek Kesiapan di Sejumlah Titik Lokasi

    Pastikan Kegiatan Car Free Day Berjalan Lancar, Kasat Lantas Polres Ketapang Cek Kesiapan di Sejumlah Titik Lokasi

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle A'ang Sanjaya
    • visibility 146
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Ketapang Kalbar – Dalam rangka memastikan pelaksanaan kegiatan Car Free Day (CFD) berjalan aman, tertib, dan lancar, Kasat Lantas Polres Ketapang bersama personel melakukan pengecekan kesiapan di sejumlah titik lokasi yang menjadi pusat kegiatan, Sabtu (30/05/2026).. Pengecekan dilakukan dengan menyusuri jalur yang akan digunakan untuk kegiatan Car Free Day guna memastikan tidak terdapat hambatan […]

  • Aktivis Demokrasi, Ivan Haikal : Hukum Tak Boleh Dikorbankan Demi Keuntungan Sengketa Tanah Fort de Kock, Ujian Bagi Kepentingan Rakyat

    Aktivis Demokrasi, Ivan Haikal : Hukum Tak Boleh Dikorbankan Demi Keuntungan Sengketa Tanah Fort de Kock, Ujian Bagi Kepentingan Rakyat

    • calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Yaman
    • visibility 164
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes | Bukittinggi — Perselisihan atas tanah kawasan Universitas dan STIKes Fort de Kock hingga kini belum menemukan titik terang. Pemerintah Kota Bukittinggi, Yayasan Pendidikan Fort de Kock, dan pihak perorangan saling bersitegang mempertahankan klaim kepemilikan, masing-masing berpegang pada dasar hukum yang dianggap sah. Di balik tumpukan dokumen, angka miliaran rupiah, dan putusan pengadilan yang […]

  • Geopolitik Dunia di Ambang Tatanan Baru: Konflik Timur Tengah dan Tantangan bagi Indonesia

    Geopolitik Dunia di Ambang Tatanan Baru: Konflik Timur Tengah dan Tantangan bagi Indonesia

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 403
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Jakarta – Dinamika geopolitik global saat ini menunjukkan pergeseran besar dalam tatanan dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak lagi sekadar dipandang sebagai konflik regional di Timur Tengah, melainkan telah berkembang menjadi isu strategis yang memengaruhi stabilitas ekonomi, keamanan, dan politik internasional. Brigjen TNI (Purn.) M.J.P. Hutagaol menilai, pada abad ke-21 […]

  • Menaker Tegaskan Pentingnya Sertifikasi Kompetensi bagi Lulusan Magang photo_camera 2

    Menaker Tegaskan Pentingnya Sertifikasi Kompetensi bagi Lulusan Magang

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Suwoto
    • visibility 120
    • 0Komentar

    MediaSuaraMabes, Bogor — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan pentingnya sertifikasi kompetensi bagi lulusan program pemagangan nasional sebagai pengakuan formal atas keterampilan yang dimiliki, sekaligus untuk memperkuat posisi mereka di pasar kerja. Untuk itu, pemerintah memfasilitasi sertifikasi bagi peserta yang telah menyelesaikan program pemagangan guna meningkatkan daya saing tenaga kerja. “Sertifikasi kompetensi ini kami berikan secara cuma-cuma […]

expand_less