Membangun Ekonomi Pertanian Regeneratif: Ketika Petani Tidak Lagi Dibiarkan Menanggung Risiko Sendiri
- account_circle Patrik Tatang
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- visibility 140
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Data Menjadi Kunci
Pengembangan pertanian regeneratif membutuhkan sistem pengukuran yang jelas. Kondisi tanah, penggunaan input, hasil produksi, pendapatan petani, penggunaan air dan indikator lingkungan perlu dicatat sebelum dan sesudah intervensi.
Langkah tersebut penting agar klaim mengenai praktik regeneratif dapat diverifikasi dan tidak berhenti sebagai label pemasaran.
Indonesia dinilai memiliki peluang mengembangkan pendekatan tersebut pada berbagai komoditas, seperti sawit rakyat, kopi, kakao, karet, padi dan hortikultura.
Model percontohan dapat dikembangkan berbasis komoditas dan bentang alam dengan melibatkan petani atau koperasi sebagai basis produksi, perusahaan sebagai offtaker, lembaga keuangan sebagai penyedia modal, pemerintah sebagai penanggung sebagian risiko publik, serta perguruan tinggi atau lembaga independen sebagai pengukur hasil.
Dengan pola tersebut, pertanian regeneratif tidak hanya ditempatkan sebagai agenda lingkungan, tetapi juga sebagai model bisnis yang mempertemukan kepentingan petani, perusahaan, pembiaya, pemerintah dan konsumen.
Pada akhirnya, keberhasilan pertanian regeneratif tidak hanya diukur dari besarnya produksi dalam satu musim, tetapi juga dari kemampuan lahan mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.
Patrik Tatang — Analisis
Sumber: World Economic Forum
Jurnalis : Patrik Tatang
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 28 Desember 2023 sebagai Wakil Koordinator Wilayah (Wakorwil) Indonesia Barat I Email : patrik.tatang@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar