Manuskrip Nusantara Menyimpan Jejak Pengetahuan Peradaban, dari La Galigo hingga Bujangga Manik
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 134
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Manuskrip Nusantara bukan sekadar peninggalan tulisan masa lalu. Naskah-naskah tersebut menjadi sumber penting untuk memahami pengetahuan, tata kehidupan, nilai sosial, bahasa, sastra, hingga cara masyarakat Nusantara memandang lingkungan dan kehidupan.
Hal itu menjadi bagian dari Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 3: Ketika Pengetahuan Tersimpan dalam Naskah — Membaca Kembali Manuskrip Nusantara di Dalam dan di Luar Negeri, yang ditulis Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol di Jakarta, 29 Agustus 2026.
Dalam tulisannya, Hutagaol mengajak masyarakat membaca manuskrip secara kritis dengan memperhatikan konteks sejarah, bahasa, aksara, bahan, proses penyalinan, isi, serta riwayat kepemilikannya.
“Usia tradisi, usia komposisi teks, usia manuskrip, dan usia tafsir tidak selalu sama,” demikian salah satu gagasan utama dalam tulisan tersebut.
Menurut Hutagaol, pembedaan itu penting agar masyarakat tidak mencampuradukkan usia tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dengan usia manuskrip fisik yang masih bertahan hingga kini.
La Galigo dan Tradisi Manuskrip Bugis
Salah satu contoh yang dibahas adalah La Galigo, warisan sastra Bugis dengan tradisi panjang dan kompleks. Naskah NBG-Boeg 188 yang menjadi salah satu sumber kajian La Galigo tersimpan dalam koleksi Leiden.
Tradisi La Galigo dapat memberikan gambaran mengenai struktur sosial, nilai budaya, genealogi, kosmologi, serta pandangan masyarakat Bugis terhadap kehidupan. Namun, usia tradisi dan cerita perlu dibedakan dari usia manuskrip fisik yang tersedia saat ini.
Pustaha Batak dan Fungsi Pengetahuan
Pustaha Batak menjadi contoh lain mengenai beragamnya isi manuskrip Nusantara. Sejumlah pustaha memuat pengetahuan tentang pengobatan, perbintangan, perhitungan waktu, ritual dan praktik pengetahuan masyarakat.
Hutagaol menekankan bahwa informasi dalam manuskrip tidak otomatis berarti seluruh klaim di dalamnya telah terbukti secara ilmiah. Pengetahuan pengobatan, misalnya, dapat dikaji melalui botani, farmakologi dan ilmu kesehatan, sedangkan kalender, ritual dan praktik tradisional dapat ditelaah melalui berbagai disiplin ilmu.
Sanghyang Siksa Kandang Karesian
Jejak penting lainnya terdapat dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian, manuskrip Sunda Kuno yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Naskah tersebut bertanggal 1518 Masehi, menggunakan bahasa Sunda Kuno dan media daun gebang. Isinya memuat berbagai ajaran moral, sosial serta gambaran kehidupan masyarakat Sunda pada masa lalu.
Pada 2025, Sanghyang Siksa Kandang Karesian ditetapkan dalam Memory of the World UNESCO sebagai bagian dari warisan dokumenter yang memiliki nilai penting bagi ingatan kolektif.
Bujangga Manik dan Jejak Geografi
Manuskrip Bujangga Manik menunjukkan bagaimana karya sastra dapat menjadi sumber pendukung penelitian sejarah dan geografi.
Naskah Sunda Kuno tersebut tersimpan di Bodleian Library, University of Oxford, dengan kode MS. Jav. b. 3 (R). Manuskrip itu telah berada dalam koleksi perpustakaan tersebut sejak 1627 dan kini telah didigitalisasi.
Catatan perjalanan dan penyebutan berbagai tempat dalam Bujangga Manik dapat digunakan untuk mengkaji geografi historis, jaringan wilayah, lingkungan serta cara masyarakat masa lalu mengenali ruang.
Membaca Nagarakretagama Secara Kritis
Nagarakretagama atau Desawarnana juga menjadi contoh penting. Teks karya Mpu Prapanca yang disusun pada 1365 memberikan informasi mengenai kehidupan politik, wilayah, keagamaan dan perjalanan pada masa Majapahit.
Namun, Hutagaol mengingatkan bahwa setiap sumber sejarah harus dibaca berdasarkan konteks pembuatannya. Informasi dalam teks perlu dibandingkan dengan prasasti, data arkeologi dan sumber sejarah lainnya agar diperoleh pemahaman yang lebih utuh.
Memulangkan Pengetahuan, Bukan Sekadar Benda
Manuskrip Nusantara kini tersebar di berbagai lembaga penyimpanan, baik di Indonesia maupun luar negeri. Karena itu, setiap naskah perlu ditelusuri berdasarkan provenans atau riwayat kepemilikannya secara individual.
Hutagaol menilai persoalan manuskrip tidak berhenti pada keberadaan benda fisiknya. Pendataan, konservasi, digitalisasi, transliterasi, penerjemahan, penelitian, pendidikan dan diseminasi menjadi bagian penting agar pengetahuan di dalam manuskrip kembali dipahami masyarakat.
“Memulangkan naskah adalah satu pekerjaan. Memulangkan pengetahuan ke dalam kesadaran masyarakat adalah pekerjaan yang jauh lebih besar,” menjadi salah satu pesan utama Seri 3 tersebut.
Pada akhirnya, manuskrip hanyalah salah satu tempat pengetahuan Nusantara disimpan. Masih ada pengetahuan yang diwariskan melalui tutur, keterampilan, pengalaman, bahasa, lingkungan, ritual dan praktik kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan tersebut akan dilanjutkan dalam Pengetahuan Peradaban Nusantara Seri 4: Ketika Pengetahuan Hidup Tanpa Buku — Dari Tutur, Keterampilan, Alam, hingga Laku Kehidupan.
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 29 Agustus 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar